
Oleh Dr. Sukidin, M.Pd Kolumnis menaramadinah.com.
Sebagai makhluk beragama, kita memiliki keyakinan bahwa semua fenomena yang terjadi berdasar kehendak Tuhan. Bahkan Tuhan berfirman tidak ada sehelai daunpun yang tanpa kendali-Nya.
Namun dalam relitasnya, manusia sering dihadapkan pada suatu fenomena kehidupan yang dengan daya nalarnya mereka sulit memahaminya.
Berikut penulis nukilkan sekelumit kisah agar kita memiliki pemahaman tentang logika Tuhan. Pada suatu zaman ada seorang raja yang lalim. Suatu saat dia menderita sakit yang sangat hebat. Raja yang sedang mengerang kesakitan kemudian memanggil para tabib.
Raja yang lalim tersebut meminta agar para tabib menemukan obat untuk kesembuhan sang raja. Akhirnya ada salah satu tabib senior memberanikan diri menyampaikan sesuatu pada raja.
Dia menyatakan, “wahai raja ada satu obat yang bisa menyembuhkan penyakit tersebut, yaitu raja memakan salah satu jenis ikan di laut”. Namun perlu diketahui bahwa saat itu tidak sedang musim panen ikan sehingga di laut sedang tidak ada ikan. Meski demikian sebagian masyarakat tetap diperintahkan untuk mencari ikan di laut. Ketika mereka sampai di pantai, keanehan mulai nampak.
Meskipun tidak sedang musim ikan, tetapi saat itu justru banyak ikan di laut. Akhirnya orang-orang berhasil mengumpulkan banyak ikan, dan selanjutnya menyerahkan ikan tersebut ke istana raja. Setelah beberapa hari mengkonsumsi ikan yang disarankan tabib, penyakit raja berangsur pulih. Sepekan kemudian raja sudah nampak bugar dan sehat seperti sebelumnya.
Pada kerajaan yang lain sedang terjadi fenomena yang yang sama, namun berbeda peristiwanya. Ada seorang raja yang bijak juga mengalami sakit yang keras. Kemudian sang raja memanggil para tabib agar memberikan resep yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Tabib memberikan saran agar raja makan ikan untuk kesembuhan penyakitnya.
Mendengar kabar tersebut, tanpa ada yang meminta, rakyat berbondong-bondong menuju laut untuk mencari ikan. Namun keanehan terjadi. Di laut tidak ditemukan satupun jenis ikan, padahal saat itu sedang musim ikan. Masyarakat terus menunggu, bahkan sampai bergiliran menunggu di tepi pantai sambil mengamati kalau-kalau ada ikan yang muncul. Setelah sepekan dinanti, ternyata ikan juga tetap belum bida ditemukan. Pada sisi lain lain kondisi penyakit raja semakin parah..
Akhirnya raja tidak lagi bisa diselamatkan, raja telah meninggal dunia. Kini raja telah Kembali dipelukan hangat Yang Maha Kuasa.
Menyaksikan dua fenomena yang kontras dan nampak tidak adil tersebut, malaikat mengajukan pertanyaan pada Tuhan. Ya Tuhan, kenapa engkau memberikan obat dalam bentuk ketersediaan ikan di laut pada raja yang lalim. Sementara pada raja yang bijak, engkau justru tidak menyediakan ikan di laut sebagai obatnya. Mengapa hal ini bisa terjadi.
Tuhan kemudian memberikan jawaban dengan penjelasan yang sangat sederhana namun menggetarkan jiwa. Pada raja yang lalim, dia dulu pernah ada satu kebaikan yang dilakukan. Kemudian Tuhan membalas dalam bentuk kesembuhan dari penyakitnya.
Kabaikan raja lalim sudah terbalaskan di dunia ini. Akhirnya semua kebaikan raja lalim tersebut sudah habis, selanjutnya Tuhan tinggal memasukkan ke neraka dan menyiksa raja yang lalim tersebut.
Sedangkan pada raja yang bijak, dia dulu ada sedikit perilaku dosa atau berbuat kesalahan. Tuhan kemudian membalas kesalahan atau dosa tersebut, dengan tidak menyediakan ikan sebagai obat, sampai dia mati. Tuhan telah membalas kesalahan raja bijak di dunia ini, selanjutnya nanti di akhirat tinggal masuk surga dengan segala kenikmatannya.
Dari kedua kisah ini, akhirnya kita mampu menelisik dan berusaha memahami logika Tuhan. Kenikmatan dalam wujud kesehatan, harta, pangkat, anak keturunan, dan lainnya, bisa jadi merupakan istidraj. Istidraj merupakan jebakan berupa limpahan kenikmatan dunia yang diberikan Tuhan pada seseorang, namun dia ahli maksiat dan lalai.
Tuhan sengaja membiarkan hidup dalam kenikmatan, tapi sebenarnya Tuhan sedang mempersiapkan momentum murka padanya.
Sedangkan penderitaan hidup dalam wujud penyakit, kesulitan ekonomi, belum dikarunia keturunan, atau masalah-masalah kehidupan yang lainnya, bisa jadi merupakan ujian kesabaran dari Tuhan. Ujian hidup dalam bentuk kesulitan, kecemasan, dan problem kehidupan yang lainnya diberikan pada manusia bertujuan agar manusia menjadi lebih kuat dan bersabar dalam menjalani roda kehidupan. Ujian kehidupan bisa menghapuskan dosa-dosa di masa lalu.
Ujian kehidupan sudah saatnya dipahami sebagai fasilitas dari Tuhan, agar hamba senantiasa memohon dan bersandar pada-Nya. Tuhan itu sangat menyayangi orang beriman. Lalu Tuhan menhadirkan ujian atau masalah agar hambanya senantiasa mendekat, bermunajat dan terus bertasbih menyucikannya.
Itulah hikmah kehidupan. Semoga kita bisa semakin bijak dan mampu memahami logika Tuhan ketika menghadapi ujian.
*Penulis adalah Dosen Magister PIPS FKIP Universitas Jember
