Dari Duka ke Dakwah: Kisah Herpina alias Bu Rini, Mualaf Mandiri yang Kini Jadi Inspirasi Pandeglang

Oleh: menaramadinah.com

Pandeglang – Herpina, yang akrab disapa Bu Rini, adalah potret ketangguhan seorang mualaf yang mengubah duka menjadi jalan pengabdian. Berasal dari Tarutung, Sumatera Utara, kini beliau menetap di Kadupinang, Pandeglang, dan membangun kehidupan secara mandiri setelah ditinggal wafat suami.

Dengan semangat belajar yang istiqamah, Bu Rini mendalami ajaran Islam dan menerapkannya dalam keseharian. Sikapnya yang tegas pada prinsip, ramah dalam pergaulan, dan bijak dalam menyikapi persoalan, menjadikannya teladan di lingkungan sekitar.

Secara ekonomi, Bu Rini mencapai kemandirian melalui kerja keras dan pengelolaan keuangan yang disiplin. Kemandirian ini memungkinkannya fokus pada pengembangan diri dan kontribusi sosial, seiring anak-anak yang kini telah dewasa dan mandiri.

Untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, Bu Rini mengisi waktu dengan kegiatan positif: memancing guna melatih kesabaran, berolahraga untuk kebugaran, dan bermain catur untuk mengasah daya analisis. Menurutnya, catur mengajarkan pentingnya strategi dan perencanaan dalam menghadapi dinamika hidup.

Dalam ranah dakwah, Bu Rini bersama Diar Mandala, keluarga dari almarhum suaminya, sama-sama mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar. Bu Rini berada di bawah bimbingan Diar Mandala, mengingat kedekatan beliau dengan masyarakat dan keterlibatannya dalam berbagai komunitas.

Diar Mandala saat ini menjabat sebagai Dewan Pembina PWI LS Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah Pandeglang. Beliau dikenal sebagai tokoh masyarakat dan kasepuhan Keluarga Mandala Kadupinang Pandeglang. Melalui kolaborasi ini, keduanya aktif memberikan edukasi keagamaan berbasis Al-Qur’an dan Sunnah, serta meluruskan praktik yang menyimpang dari pokok ajaran Islam, dengan pendekatan persuasif dan mengedepankan ukhuwah.

Saat ini Bu Rini masih sendiri. Dengan rendah hati, beliau berharap dipertemukan dengan pendamping hidup yang sejalan dalam nilai dan visi kebaikan.

Tiga pelajaran dari kisah Bu Rini:
1. Ujian hidup dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kemandirian dan kedekatan kepada Allah.
2. Kegiatan positif menjaga kesehatan fisik dan mental serta memperluas jejaring kebaikan.
3. Kemandirian adalah modal utama untuk membangun relasi yang sehat dan saling menguatkan.

Semoga kisah Bu Rini menginspirasi masyarakat untuk tetap optimis, terus belajar, dan berkontribusi dalam kebaikan.

Jazakumullah khairan atas perhatian dan doa pembaca.