Kisah Inspiratif Pak Misnari: Pengabdian Sepanjang Hayat untuk Jamiyah Shalawat Nariyah.

MENARA MADINAH–Di tengah kesibukan kota Surabaya, tepatnya di Kecamatan Sukolilo, hidup seorang sosok yang dedikasinya begitu tulus dan menginspirasi. Pak Misnari, anggota Jamiyah Shalawat Nariyah NU Ranting Keputih, dikenal sebagai pribadi yang mengabdikan hidupnya untuk memperkuat tali ukhuwah dan keimanan melalui aktivitas keagamaan yang penuh hikmah.

Setiap Selasa sore, rutinitasnya sederhana namun berdampak besar. Dengan mendorong gledekan berisi sound system, kotak berisi 4.444 kancing baju yang digunakan untuk menghitung shalawat nariyah, dan ember berisi sekitar 150 tasbih untuk hitungan shalawat Jibril, serta 150 buku Asmaul Husna dan 150 buku Surat Yasin, beliau menyusuri gang-gang sempit di kawasan Keputih. Tak ketinggalan, ada dua kotak infaq yang dibawanya; satu untuk pendukung penyelenggaraan kegiatan dan satu lagi untuk amal sosial, khususnya membantu anggota jamiyah yang sedang sakit.

Tugas mulia itu dilakukannya dengan penuh kesabaran, mengunjungi rumah anggota jamiyah yang dijadikan tempat untuk bersama-sama mengamalkan shalawat nariyah yang telah didirikan sejak 1980-an. Dalam perjalanan panjang pengabdiannya, hampir sepanjang usianya digunakan untuk mendukung kegiatan spiritual ini.

Namun usia dan kesehatan akhirnya mengingatkan bahwa setiap amal harus berakhir di dunia. Sejak liburan Ramadhan lalu, Pak Misnari terpaksa berhenti menjalankan tugasnya karena sakit tua. Menjelang Idul Adha, beliau akhirnya berpulang ke rahmatillah.

Kisah pengabdian beliau mengajarkan kita tentang kekuatan istiqamah dan keikhlasan dalam beribadah. Semoga segala amal baik yang beliau lakukan, terutama dalam menyebarkan keberkahan shalawat, diterima di sisi Allah, diampuni segala dosa, dan ditempatkan di tempat mulia di surga-Nya.

Bahkan, kita percaya, gledekan berisi peralatan shalawat yang beliau angkut dengan pahala, kini menjadi pendamping beliau dalam perjalanan di akhirat—terus bersama-sama berdzikir dan bershalawat di hadapan Allah SWT.

Semoga Allah memberikan ketenangan dan keberkahan bagi keluarga dan jamaah yang ditinggalkan, serta menjadikan perjuangan Pak Misnari sebagai inspirasi bagi kita semua untuk terus menegakkan syiar agama dengan semangat, kesabaran, dan keikhlasan.
Lahu al-Fatihah.*Imam Kusnin Ahmad*