MENJELANG MUKTAMAR KE-35 NU: ANTARA UJIAN DAN TANTANGAN, BUTUH SOSOK PEMIMPIN ULAMA YANG KUAT, VISIONER DAN PATRIOTIK *Mbah Guru Rifai

Oleh Drs. Mohamad Rifai, M Pd tokoh intelektual Banyuwangi

NU kayak sedang dicabik oleh masalah bertubi-tubi di teras rumah lingkungannya sendiri.

Betapa tidak, mulai kasus polemik nasab dan kompleksitas permasalahannya, ulah tak terpuji oknum-oknum di lingkungan pondok pesantren dalam naungannya serta kasus-kasus lain seperti kader papan atas terjerat tindak korupsi, dll yang mau tidak mau menyeret nama dan muruah NU sebagai Ormas induk semangnya.

Tidak mengelak bahwa problem rumit dan kasus demi kasus yang akhir-akhir ini viral memang tidak mewakili secara keseluruhan, namun fakta ini merupakan ‘teguranNya’ yang mesti harus disikapi secara cerdas, bijak dan solutif. Ada asap tentu ada apinya.

Di setiap masalah, kasus, tentu ada latar belakang penyebabnya. Dari kaca mata berbeda cara melihat dan mencermati ada hal yang memang dengan sportif harus diterima oleh stakeholder NU sebagai bahan dievaluasi. NU sebagai Ormas keagamaan Islam terbesar di Nusantara ini, pada satu sisi merupakan aset bangsa yang secara fakta historis telah berkonstribusi besar terhadap pembangunan dan penjagaan eksistensi kebangsaan. Namun pada bagian yang lain dalam tubuh NU riskan kasus yang berpotensi menjadi batu krikil dalam kaos kaki di republik ini.

Banyak orang pintar yang mumpuni keilmuannya di komunitas nahdiyin. Tetapi seberapa kuat kesanggupannya serta kesertaannya dalam mengambil bagian turut mengurai kasus demi kasus. Repotnya malahan banyak dari mereka justru bagian dari masalah itu sendiri. Ini sebuah ujian sekaligus tantangan bagi NU.

Jawab dulu, urai dulu akar persoalan yang menjadi sumber kasus perkasus yang terjadi dalam tubuh NU dan lembaga lembaga yang berafiliasi. Kritik dari berbagai kalangan masyarakat juga harus didengar.

Titik titik lemah yang ditemukan oleh masyarakat suka tidak suka harus ditampung dipertimbangkan sebagai bahan evaluasi menyeluruh agar keberadaan lembaga-lembaga aset NU misalnya praktik-praktik kontraproduktif pondok pesantren di mata umum (penerapan kultur feodal dalam pergaulan) sebagai sumber munculnya kasus-kasus yang tidak patut, lemahnya sistem pengawasan, model layanan, komunikasi tidak setara, konsep senior-junior, dst.

Khusus dalam menyikapi problem kronis tentang polemik nasab Baalawi yang memaksa antarkader dan tokoh saling vis a vis dalam proxy pemikiran yang saling klaim paling benar. Terjadi sengketa elit di kalangan papan atas pengurus NU tentang menyikapi polemik nasab menyebabkan dinamika dalam tubuh NU mengkhawatirkan muncul sentimen-sentimen pro kontra. Dan itu sudah terasa sekali.

Tarik-menarik rebutan pengaruh pada sisi lain dimaknai sebuah pembelajaran namun pada sisi yang berbeda akan menimbulkan konflik interest yang berpotensi melemahkan NU secara jamiyah. Apalagi kasus polemik nasab bersentuhan dengan politik kenegaraan, karena ada substansi yang terganggu oleh ujaran-ujaran, aksi-aksi tidak produktif memancing masuk kekuatan rezim.

Ungkapan Presiden Prabowo “silakan kabur ke Yaman” itu tidak sekadar gurauan tapi bermakna implisit yang mengarah pada komunitas tertentu yang dipandang berpotensi sebagai krikil dalam kaos kaki atau bak ‘klilip’ di kaki dan mata republik ini.

Inteprestasi yang lain sebuah alarm berharap NU dipimpin oleh kader ulama yang patriotik yang sanggup memanajemeni gerak organisasinya yang sehat, dinamis, visioner yang segaris dengan visi besar republik ini. Ibarat kereta api, maka NU ini harus dikendalikan oleh sosok masinis yang mimpuni sehingga mampu membawa dan mengendalikan laju log dengan gerbong sarat penumpang beragam hingga selamat sampai tujuan.

Rem harus pakem, kaca spion fungsi, klakson kenceng, BBM full, co masinis dan perangkat personal dan pendukung kanan kirinya siap-sigap, akan bergerak selamat dalam alur perjalanan on the track di jalurnya yang nyaris tanpa kendala.

Jika ujian dan tantangan NU bisa dijawab dengan seksama, sportif, jujur, NU akan tampil sebagai Ormas keagamaan yang elegan, inspiratif dan tidak lagi sebagai bahan ejekan sebagai Ormas yang besar bungkusnya ternyata tidak ‘manjat blas’ daripada isinya alias ‘mbelgedes’ jarene wong Suroboyo. Janganlah, NU harus ‘sumbut’ dalam banyak hal.

Selamat bermuktamar ke 35 Tahun 2026. Semoga menemukan sosok ulama visioner patriotik yang dibanggakan tidak hanya oleh masyarakat NU tapi juga bangsa.

*Mbah Guru Rifai, Jurnalis dan pemerhati Sosial Pendidikan. Tinggal di Genteng, Banyuwangi.