
Cirebon – menaramadinah.com
Di sebuah rumah sederhana di Desa Kalibuntu, perbatasan Cirebon dan Brebes, senja tidak pernah terasa tenang bagi seorang gadis kecil bernama Afriyani Mida Soleha. Di saat anak-anak seusianya masih sibuk dengan buku pelajaran dan tawa bermain, April kecil sudah harus memikul beban yang bahkan terlalu berat untuk pundak orang dewasa.
Babak Pertama : Melodi di Antara Asap Kendaraan
Kisah ini dimulai dari sebuah kepedihan. Sang ayah, tiang hidup tempatnya bersandar, jatuh sakit parah. Penyakit ginjal yang menggerogoti sang ayah bukan hanya mencuri kesehatannya, tapi juga menghapus sumber penghasilan keluarga.
Sejak kelas 4 SD, April tidak punya pilihan. Dengan gitar kecil atau sekadar keberanian suara, ia melangkah ke pasar dan jalanan Pantura. Di bawah terik matahari yang menyengat dan kepulan asap bus antarkota, ia bernyanyi. Suaranya sering kali kalah oleh bising klakson, namun hatinya tidak pernah berhenti berdoa agar hari itu ia membawa pulang cukup uang untuk membeli obat ayahnya.
Babak Kedua : Air Mata di Layar Kaca Kecil
Zaman berganti, April mencoba peruntungan lewat dunia digital. Ia menjadi “pengamen online” di TikTok. Di depan layar ponsel yang retak, ia bernyanyi berjam-jam hingga tenggorokannya kering, hanya demi “gift” dari orang asing. Ada yang menghujatnya dengan sebutan “pengemis online”, namun April hanya bisa menelan ludah dan terus bernyanyi. Di balik senyumnya saat menyapa penonton, ada bayangan wajah ayahnya yang sedang menahan sakit di kamar sebelah.
Babak Ketiga : Pertemuan dengan Sang “Dewi”
Di tengah perjuangan yang keras itu, Tuhan mempertemukannya dengan Diana Sastra, sang legenda Pantura. Diana tidak melihat April sebagai pengamen biasa; ia melihat sebongkah berlian yang tertutup lumpur. Dengan kasih sayang layaknya seorang ibu, Diana membimbingnya, mengasah mentalnya, dan membawanya keluar dari bayang-bayang jalanan menuju panggung audisi Dangdut Academy 7.
Babak Keempat : Sang Anak Emas Menaklukkan Jakarta
Saat melangkah ke panggung Indosiar, April membawa napas jutaan orang kecil. Setiap kali ia menyanyikan nada tinggi, ada rasa sakit yang ia tumpahkan. Setiap kali ia membawakan lagu sedih, ada air mata untuk ayahnya yang ia selipkan di setiap bait.
Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama, terpaku. Ia menjuluki April sebagai “Anak Emas”. Di bawah lampu sorot jutaan watt, gadis yang dulu hanya dilihat sebelah mata oleh pedagang pasar dan sopir-sopir truk di jalanan Brebes dan Cirebon, kini membuat seluruh Indonesia berdiri memberikan tepuk tangan.
Babak Kelima : Kemenangan yang Mengubah Takdir
Puncak dari segala lelah itu tiba. April dinobatkan sebagai Juara 3 Dangdut Academy 7. Dari penghasilan ribuan rupiah di pinggir jalan, ia kini menggenggam hadiah ratusan juta, beasiswa, dan kontrak bintang.
Babak Keenam : Pahlawan Pulang Kampung
Dan kini, tibalah saatnya April pulang. Bukan lagi sebagai gadis pengamen yang mengais rezeki, melainkan sebagai pahlawan yang membawa pulang kemenangan. Sejak kemarin dan hari ini, lautan manusia membanjiri jalanan menuju Desa Kalibuntu. Puluhan ribu warga Brebes, Cirebon, dan sekitarnya tumpah ruah, berdesakan di sepanjang jalan. Teriakan namanya menggema, bendera kecil berkibar, dan air mata haru menetes di pipi para penyambut.
Arak-arakan itu seolah merayakan bukan hanya kemenangan April, tapi juga harapan bagi setiap anak daerah yang bermimpi. Tatapan April kini bukan lagi tatapan sendu anak jalanan, melainkan tatapan berbinar seorang bintang yang tetap rendah hati, membawa pulang kebanggaan bagi keluarga dan daerahnya.
Kisah April adalah pengingat bahwa ketekunan, bakti kepada orang tua, dan impian yang tulus mampu menembus batas kemiskinan dan kesulitan. Dari seorang anak yang menyanyikan kesedihan di jalanan, kini ia menyanyikan melodi harapan di panggung kehidupan. (hsn)
