2026 : Tahun Kuda Api-Ketika Kekuasaan Berlari Lebih Cepat dari Kebijaksanaan

 

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

Di tengah hiruk-pikuk politik dan derasnya arus informasi, tahun 2026 sering disebut sebagai Tahun Kuda Api, menurut Shio (astrologi) Tionghoa. Istilah ini tidak untuk dipercaya sebagai ramalan, tetapi layak dibaca sebagai cermin zaman. Kita sedang hidup pada masa ketika kekuasaan bergerak sangat cepat, keputusan diambil tergesa, dan opini dibentuk seketika, sementara kebijaksanaan, kehati-hatian, dan etika publik justru tertinggal jauh di belakang.

Kuda melambangkan kecepatan dan ambisi; api melambangkan panas dan emosi. Ketika keduanya berpadu, lahirlah politik yang agresif dan berani mengambil langkah, tetapi sering miskin perenungan.

Keputusan dibuat tergesa, opini publik dikelola masif, dan hukum mudah ditarik sesuai kepentingan. Di saat yang sama, adab, musyawarah, dan kehati-hatian moral kian terpinggirkan.

Dalam kondisi seperti ini, politik perlahan bergeser dari ikhtiar mengurus kemaslahatan menjadi arena adu kecepatan dan kekuatan. Siapa yang paling cepat menguasai narasi dianggap benar; siapa yang paling lantang tampil seolah paling berjasa. Kritik dilabeli gangguan stabilitas, perbedaan pendapat dipersempit maknanya, dan keadilan berisiko menjadi korban. Api kekuasaan yang tak terkendali tidak hanya membakar lawan, tetapi juga mengikis kepercayaan masyarakat.

Rasulullah Saw telah mengingatkan akan datangnya masa ketika amanah disia-siakan dan urusan diserahkan bukan kepada ahlinya. Beliau menggambarkan akhir zaman sebagai masa fitnah, ketika kebatilan tampil percaya diri dan kebenaran justru terdesak. Peringatan Nabi Saw ini adalah kritik moral yang tajam: kekuasaan tanpa rasa malu akan menormalisasi ketidakadilan, dan masyarakat yang kehilangan daya kritis akan ikut membenarkannya.

Imam al-Ghazali menjelaskan persoalan ini dengan sangat terang. Ia menegaskan bahwa kerusakan masyarakat bersumber dari rusaknya para penguasa; rusaknya penguasa disebabkan rusaknya ulama; dan rusaknya ulama berawal dari penyakit gila pangkat dan harta. Ketika ilmu dijadikan tangga jabatan dan kedekatan dengan kekuasaan mengalahkan keberanian berkata benar, ulama kehilangan perannya sebagai penuntun. Pada saat itulah kekuasaan berjalan tanpa rem.

Karena itu, tantangan terbesar di zaman “Kuda Api” bukanlah kurangnya energi, melainkan kurangnya kebijaksanaan dan keberanian etis. Ulama harus kembali menjadi cermin moral, bukan hiasan kekuasaan. Politik harus kembali menjadi jalan khidmah, bukan arena pembakaran sesama.

Jika api tidak dikendalikan, ia akan membakar siapa saja. Tetapi jika diarahkan dengan akal dan iman, ia dapat menjadi cahaya yang menyelamatkan.

Gresik, 2 Januari 2026

AHMAD CHUVAV IBRIY

https://www.facebook.com/share/p/1Aj8fMixtV/