Kh Hasyim Asyari dan NU

Catatan Kecil Yani Andoko.

Di tengah gelombang modernisasi dan penjajahan awal abad ke-20, KH. Hasyim Asy’ari tidak sekadar mendirikan organisasi, melainkan merancang sebuah arsitektur peradaban berdasarkan kerangka pemikiran yang kokoh. NU yang lahir pada 1926 adalah kristalisasi dari pandangan dunia yang mendalam tentang bagaimana seharusnya Islam hadir di Nusantara – tidak sebagai menara gading yang terpisah dari realitas, tetapi sebagai kekuatan pembebas dan pemberdaya.

Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari berdiri di atas empat pilar utama yang menjadi fondasi NU. Al-Muhafadzah ala al-Qadim al-Salih (menjaga warisan luhur) menjadikan NU sebagai benteng tradisi keilmuan Islam Nusantara, sementara Al-Akhdzu bi al-Jadid al-Aslah (mengambil yang baru yang lebih baik) memungkinkan adaptasi kreatif terhadap perubahan zaman.

Kedua prinsip ini dilandasi oleh Shalah al-Ummah fi Tahaqqur al-Daulah yang menekankan bahwa kebaikan umat bergantung pada tata kelola negara yang baik, dan Tawassuth wa I’tidal (moderasi dan keseimbangan) sebagai jiwa dari seluruh kerangka berpikirnya.

Dengan fondasi ini, Kiai Hasyim membangun ekosistem yang menghubungkan masjid dengan pasar, pesantren dengan masyarakat, spiritualitas dengan ekonomi. Kurang lebih dari 30.000 pesantren di Indonesia tidak hanya menjadi pusat pengajaran kitab kuning, tetapi juga laboratorium pengembangan keterampilan hidup, kewirausahaan, dan inovasi sosial.
Pilihan bersejarah NU untuk tidak terjun dalam politik praktis justru merupakan implementasi cerdas dari kerangka pemikiran Kiai Hasyim. Dengan menjaga independensi, NU mampu menjadi “moral force” yang menjaga agar kekuasaan tidak menyimpang, fokus pada pembangunan manusia seutuhnya, dan merangkul semua pihak tanpa terkotak-kotak politik.

Keputusan “Kembali ke Khittah 1926” pada 1984 bukanlah bentuk pengasingan diri, melainkan strategi untuk memperluas pengaruh melalui jalan yang lebih berkelanjutan – membangun dari akar rumput.

Dalam konteks kekinian, warisan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari justru semakin relevan. Di tengah keringnya wacana publik yang dipenuhi hoaks dan polarisasi, NU konsisten menjadi oasis moderasi melalui fatwa-fatwa yang menenangkan, gerakan literasi digital, dan sekolah moderasi beragama.

Ketika pandemi melanda, jaringan NU membuktikan efektivitasnya melalui Posko Kemandirian NU yang mendistribusikan bantuan tepat sasaran, fatwa keagamaan yang kontekstual, dan transformasi digital pesantren yang tetap menjaga karakteristiknya. Menghadapi krisis pangan dan energi global, NU mengaktifkan Gerakan Santri Tani, Bank Benih NU, dan Koperasi Energi Terbarukan.

Di tengah menguatnya politik identitas, NU hadir sebagai penjaga NKRI melalui Gerakan Nasional Bela Negara, pelopor dialog lintas agama, dan agen perdamaian dunia melalui diplomasi track two.

Transformasi digital dilakukan dengan kearifan – E-Pesantren mengintegrasikan pembelajaran kitab kuning dengan platform digital, ekonomi syariah digital dikembangkan untuk memberdayakan UMUM nahdliyin, dan cyber majelis taklim memastikan sanad keilmuan tetap terjaga di ruang virtual.

NU terus mengembangkan fiqh yang responsif terhadap tantangan kontemporer. Fiqh Lingkungan dengan fatwa tentang larangan merusak lingkungan, Fiqh Teknologi dengan panduan etika bermedia sosial, dan Fiqh Kebangsaan yang memperkuat konsep hubbul wathan minal iman – semua menunjukkan kemampuan berijtihad yang tetap setia pada metode tradisional namun relevan dengan masalah kekinian

Warisan terbesar KH. Hasyim Asy’ari bukan sekadar organisasi NU, melainkan kerangka berpikir yang memungkinkan Islam tradisional bertahan dan berkembang di zaman modern. Beliau membuktikan bahwa dengan fondasi pemikiran yang kokoh, sebuah organisasi bisa menjadi kekuatan perubahan tanpa kehilangan jati diri, bisa memeluk modernitas tanpa tercerabut dari akar tradisi, dan bisa mempengaruhi kekuasaan tanpa terjerat dalam permainannya.

Hari ini, kita menyaksikan aktualisasi sempurna dari visi besar sang pendiri. Di tangan NU, pesantren tidak hanya menjadi tempat mengaji, tetapi pusat inovasi sosial; kiai tidak hanya menjadi pemimpin agama, tetapi arsitek peradaban; dan santri tidak hanya menjadi penuntut ilmu, tetapi agen perubahan. Dalam setiap respons terhadap pandemi, krisis pangan, polarisasi politik, atau disrupsi digital, NU membuktikan bahwa organisasi berbasis tradisi justru bisa menjadi yang paling progresif dalam merespons perubahan.

Inilah karya arsitektur pemikiran yang telah melahirkan ribuan inisiatif sosial, melahirkan puluhan ribu pemimpin, dan yang terpenting – membangun Indonesia dari akar rumput dengan cara yang elegan dan berkelanjutan. Warisan KH. Hasyim Asy’ari terus hidup, tidak sebagai relik masa lalu, tetapi sebagai kekuatan dinamis yang terus membentuk masa depan Indonesia yang lebih beradab, mandiri, dan manusiawi.

Batu, 26 Desember 2024