
JAKARTA – PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) menggelar workshop penguatan literasi anti-kekerasan terhadap perempuan dan anak di Hotel Grand Orchardz Kemayoran pada Senin (9/2/2025).
Kegiatan ini tidak hanya menekankan pentingnya pengetahuan tentang pencegahan kekerasan, tetapi juga mengajak seluruh pihak untuk memiliki keberanian bertindak dan membangun jejaring kolaboratif agar korban tidak merasa sendirian dalam mencari pertolongan.
*Ulasan dan Sajian Materi*
Kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan masalah serius yang masih menghantui masyarakat, bahkan menyebar ke ruang digital dengan berbagai bentuk konten yang salah arah.
Melalui workshop ini, PP ISNU menunjukkan komitmennya sebagai organisasi sarjana untuk mengambil peran aktif dalam mengatasi masalah tersebut.
Sekretaris Umum PP ISNU Wardi Taufik menyampaikan bahwa literasi anti-kekerasan bukan sekadar sekumpulan informasi, melainkan sebuah gerakan yang membutuhkan keberanian.
Menurutnya, upaya ini harus diwujudkan dalam aksi nyata melalui jejaring kerja yang fungsional, bukan hanya simbolik. Jejaring yang dibangun menghubungkan berbagai elemen masyarakat mulai dari komunitas, pendidik, tokoh masyarakat, hingga layanan kesehatan, pendamping hukum, dan aparat penegak hukum.
Sinergi antar pihak ini diharapkan dapat menciptakan sistem perlindungan yang terpadu, sehingga korban tidak merasa kebingungan atau takut ketika membutuhkan bantuan.
Sebagai narasumber, Redaktur NU Online Aru Lego Triono menekankan peran penting otoritas moral dan akademik ISNU dalam menyusun narasi keagamaan yang melindungi, bukan membenarkan kekerasan.
Pendekatan yang diusulkan adalah menggabungkan ilmu pengetahuan dengan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin, di mana konten yang dibuat harus berbasis data, etika, dan perspektif korban.
Aru mengingatkan bahwa melawan kekerasan tidak cukup hanya dengan kemarahan; dibutuhkan narasi yang benar, empatik, dan mampu memberikan pencerahan.
Ia juga mengusulkan sejumlah langkah konkrit yang dapat dilakukan oleh PP ISNU, antara lain membentuk Tim Literasi Digital Anti-Kekerasan di tingkat pusat, menyusun panduan narasi berbasis nilai keislaman dan akademik, serta memperkuat kolaborasi dengan para ahli seperti psikolog, pendamping korban, dan lembaga perlindungan perempuan dan anak.
Selain itu, kader ISNU di kampus didorong untuk aktif memproduksi konten edukatif dan menggelar kampanye rutin pada momentum strategis seperti Hari Anak Nasional dan Kampanye 16 Hari Anti-Kekerasan terhadap Perempuan.
“Ada banyak konten yang justru menyalahkan korban atau menormalisasi kekerasan, terutama di media sosial yang menjadi ruang utama anak muda membentuk opini,” ujar Aru.
Menurutnya, literasi di era digital bukan hanya tentang kemampuan membaca, tetapi juga memahami pesan, menyikapinya dengan benar, dan bahkan memproduksi konten yang positif. Narasi yang salah dapat menyebabkan cedera kedua bagi korban, sehingga keakuratan dan kepekaan dalam menyampaikan informasi menjadi sangat penting.Untuk mendukung penyebaran konten anti-kekerasan, Rofi Uddarojat dari TikTok Indonesia memberikan panduan praktis agar konten dapat muncul di For You Page (FYP).
Ia menekankan pentingnya memiliki ide besar yang diterjemahkan ke dalam bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh masyarakat luas. Konten perlu memiliki “hook” yang menarik, seperti pertanyaan yang mengundang pemikiran, kutipan yang kuat, atau kalimat yang menimbulkan rasa penasaran.
“Kuncinya adalah konsistensi dalam memproduksi dan menyebarkan konten yang positif,” katanya.
*Motivasi*
Perjuangan melawan kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak dapat dilakukan sendirian oleh satu pihak saja. Setiap individu memiliki peran penting dalam membangun lingkungan yang aman dan penuh rasa hormat.
Mari kita jadikan literasi anti-kekerasan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari mengenali bentuk-bentuk kekerasan, mencegahnya dari akar, hingga berani bertindak dan memberikan dukungan kepada korban.
Bersama-sama, kita dapat menciptakan narasi yang benar, membangun jejaring yang solid, dan menghasilkan konten yang mampu menginspirasi perubahan positif bagi masa depan perempuan dan anak bangsa.*Imam Kusnin Ahmad*
