
BLITAR–Di tengah kondisi overkapasitas yang signifikan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Blitar, upaya pembinaan terhadap warga binaan tak pernah berhenti. Salah satu program unggulan yang menjadi sarana pengembangan diri adalah pojok literasi perpustakaan, yang dimanfaatkan secara optimal untuk mengisi waktu luang sekaligus meningkatkan kemampuan literasi serta membangun pola pikir positif bagi para penghuni.
Dengan koleksi buku yang beragam dan dukungan penuh dari pihak lapas, kegiatan ini menjadi bagian penting dalam persiapan mereka untuk kembali berintegrasi ke tengah masyarakat.
Lapas Kelas IIB Blitar yang berlokasi di Jl. Bali No. 5, Kota Blitar, Jawa Timur, memiliki kapasitas ideal sekitar 156 orang, namun hingga awal 2026 jumlah penghuninya mencapai lebih dari 500 orang atau tiga kali lipat kapasitas ideal.
Meskipun menghadapi tantangan kepadatan, pihak lapas tetap berkomitmen menyediakan fasilitas edukatif berupa pojok literasi. Ruang ini diakses bebas oleh warga binaan untuk membaca berbagai bahan bacaan mulai dari keagamaan, pengetahuan umum, hingga bacaan motivasi.
Kepala Seksi Pembinaan Narapidana/Anak Didik, Bagus Ramadian, menjelaskan pentingnya kegiatan literasi dalam pembinaan warga binaan. “Pojok literasi merupakan salah satu bentuk pembinaan yang kami berikan untuk mendorong Warga Binaan agar terus belajar dan mengembangkan wawasan. Melalui budaya membaca, kami berharap mereka meningkatkan literasi, membangun pola pikir yang positif, dan mempersiapkan diri untuk kembali ke masyarakat,” ujarnya pada Rabu (11/2).
Manfaat dari kegiatan ini juga dirasakan secara langsung oleh para warga binaan. Salah satu penghuni dengan inisial T mengungkapkan dampak positif yang diterimanya. “Dengan adanya pojok literasi, kami memiliki kesempatan untuk menambah pengetahuan dan mengisi waktu dengan hal bermanfaat. Kegiatan membaca ini sangat membantu kami untuk terus belajar dan memperbaiki diri,” tutur T.
Selain pojok literasi, Lapas Blitar juga telah menjalankan berbagai program pembinaan lainnya untuk mendukung kemandirian warga binaan, seperti pelatihan pengelasan yang dilakukan bersama BLK Komunitas Al-Muhsin Blitar pada tahun 2022 yang diikuti oleh 20 warga binaan.
Upaya untuk mengatasi overkapasitas juga terus dilakukan, antara lain melalui program integrasi seperti pembebasan bersyarat yang telah menyasar 16 warga binaan pada Januari 2026, serta rencana pemindahan ratusan penghuni yang diperkirakan terlaksana pada akhir tahun ini seiring dengan pembangunan gedung baru.
Pojok literasi dan berbagai program pembinaan lainnya di Lapas Kelas IIB Blitar menunjukkan komitmen lembaga untuk menciptakan lingkungan pembinaan yang edukatif, kondusif, dan humanis.
Meskipun menghadapi tantangan overkapasitas, upaya ini sejalan dengan tujuan Sistem Pemasyarakatan dalam membentuk warga binaan yang memiliki bekal pengetahuan dan karakter yang lebih baik saat kembali ke masyarakat.
Mengacu pada perkembangan program pembinaan di berbagai lapas di Indonesia, seperti UMKM yang berkembang di Lapas Tual dan partisipasi warga binaan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lapas Sukamiskin Bandung, Lapas Blitar juga terus berupaya untuk mengembangkan inovasi baru.
Di masa depan, diharapkan pojok literasi dapat diperluas dengan menambahkan akses ke buku digital dan program literasi kreatif seperti menulis cerita atau blog, yang dapat menjadi sarana ekspresi diri serta pengembangan keterampilan baru.
Bagi para warga binaan, setiap langkah yang diambil dalam proses pembinaan adalah investasi untuk masa depan. Seperti yang disampaikan Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim, “Selalu berpikir positif dan optimis sehingga masa depan yang lebih baik itu akan menjadi milik kita,” katanya.
Semoga dengan dukungan yang tepat, para warga binaan Lapas Blitar dapat terus bangkit, memperbaiki diri, dan menjadi bagian masyarakat yang produktif serta bertanggung jawab.*Imam Kusnin Ahmad*
