*Nikmat-Karunia Bagaikan Gelombang-Badai*

 

Prof Mahmud Mustain, Guru Besar Teknik Kelautan ITS

Musibah terbesar adalah su’ul khotimah, mati dalam kondisi tidak bagus, sebab sudah tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki. Kemudian disusul dosa yang tidak pernah dimohonkan ampunan, sebab ini bisa menjadikan tumpukan dosa yang bisa mendekati musibah terbesar. Dosa kecil tetapi dibiarkan numpuk, tidak dibersihkan dengan istighfar misalnya, ya sungguh akan menjadi dosa besar. Perihal beginian ini yang sesungguhnya merupakan musibah yang hakiki.

Dengan demikian mari kita upayakan jangan sampai mendapatkan musibah terbesar dengan cara menekuni membersihkan dosa-dosa kecil. Berusaha mendapatkan husnul-khotimah normalnya tidak bisa diperoleh secara ujug-ujug, melainkan harus diupayakan secara perlahan dan istiqomah atau konsisten.

Ketika berbicara husnul-khotimah, sungguh ini merupakan karunia besar bahkan kita bisa mengatakan ini badai karunia. Artikel ini ingin mengingatkan bahwa kita telah melewati badai karunia yang besar-besar. Tapi jangan lupa, kita telah menerima kenikmatan besar atau karunia yang luar biasa besarnya sehingga kita sebut badai karunia.

Kita tidak pernah minta hidup dan kehidupan, Allah SWT menganugerahi kita, itu masyaAllah luar biasa. Hal ini merupakan badai karunia yang pertama, yang di dalamnya ada berbagai macam fasilitas diantaranya; diciptakan berupa manusia, berpanca indra, kesadaran, kesehatan, akal dll. Kemudian diikuti gelombang nikmat yang tiada henti seperti bisa bernafas dengan udara gratis.
Badai karunia berikutnya berupa berhidayah religius (Iman-Islam) yang di dalamnya penuh regulasi/tuntunan hidup yang sempurna. Betapa besar nikmat badai karunia ini, kita bayangkan tanpa ini hampir pasti dunia sudah berantakan. Badai karunia terakhir yang kita tunggu-tunggu adalah akhir hayat yang baik yakni husnul khotimah. Allahumma aamiin.

Semoga manfaat barokah selamat dunia akhirat aamiin.
🤲🤲🤲

Surabaya, 8 Dzulhijjah 1446 / 4 Juni 2025
m.mustain