Tiga Hikmah dari Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail dari Kajian Agama KH Syaikuddin di Masjid Al Musthofa Udanawu Blitar.

BLITAR-Idul Adha atau yang dikenal dengan Hari Raya Haji atau Hari Raya Kurban yang sebentar lagi kita peringati,merupakan hari raya umat Islam yang jatuh setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Momen Idul Adha yang dirayakan setiap tahun oleh kaum muslimin,tidak dapat dilepaskan dengan peristiwa yang menimpa keluarga Nabi Ibrahim AS. Peristiwa itu tercantum dalam Quran Surah Ash-Saffat ayat 100-103. Kala itu, Nabi Ibrahim dan Siti Hajar, isterinya sangat menantikan kehadiran calon buah hati mereka. Untuk itu lah mereka tak henti meminta kepada Allah SWT, agar diberikan keturunan yang dapat melanjutkan misi dakwahnya.

Hal ini diterangkan oleh KH.Syaikuddin Rohman Ketua MUI Kabupaten Blitar saat kajian rutin Agama di Masjid Al Musthofa Bakung Udanawu Blitar Rabu 28 Mei 2025.

Menurut Kiai Syaikuddin peristwa itu juga tidak bisa lepas dari ibadah haji. Haji merupakan salah satu rukun Islam yang penuh dengan makna spiritual. Setiap kegiatan dalam Ibadah Haji memiliki akar sejarah dan nilai yang mendalam, yang salah satunya terinspirasi dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim AS dan keluarganya.

“Kisah Nabi Ibrahim bukan hanya tentang ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga sebuah pelajaran tentang pengorbanan, keikhlasan, dan keteguhan iman yang terus menjadi teladan hingga saat ini,”ungkap Kiai Cikut panggilan akrabnya.

Salah satu momen penting dalam kisah Nabi Ibrahim,lanjut Kiai Cikut, adalah ketika Allah SWT memerintahkannya untuk meninggalkan istri tercintanya, Siti Hajar, dan putra mereka, Ismail, di lembah tandus yang kini menjadi Kota Mekah. Dengan penuh keimanan, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah tersebut, meskipun berat hati.

Ketika persediaan makanan dan air habis, Siti Hajar berlari antara Bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali, berusaha mencari air untuk Ismail. Atas izin Allah, air zamzam muncul dari hentakan kaki Ismail, menjadi simbol kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Kegiatan sa’i dalam ibadah haji kini menjadi pengingat perjuangan dan keteguhan hati Siti Hajar.

Sebuah Kisah Tentang Taat Tanpa Batas.

Menurut Kiai Cikut,Cobaan keluarga Nabi Ibrahim tidak berhenti sampai di situ. Nabi berjuluk “Khalilullah” (kekasih Allah) ini mendapatkan perintah dari Allah SWT, melalui mimpi untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail. Perintah ini juga menjadi sebuah ujian keimanan dan ketakwaan Nabi Ibrahim kepada Allah. Karena sebelumnya, ia pernah mengeluarkan janji bahwa Allah menghendaki Ismail untuk dikurbankan, maka ia akan melakukannya. Perintah itu pun akhirnya benar-benar datang kepada-Nya. Awalnya, ketika bermimpi diperintahkan untuk menyembelih Ismail, Ibrahim merasa ragu. Ia pun melakukan perenungan dan berfikir-fikir apakah ini benar-benar perintah Allah. Peristiwa ini kemudian diabadaikan dengan nama Tarwiyah yakni hari perenungan di mana kita disunnahkan berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah.

Setelah Nabi Ibrahim tahu dan yakin perintah itu datang dari Allah, maka ia pun menyampaikan dan berdiskusi dengan Ismail. Sampai hari itu datang, ketika Ibrahim dengan keimanan dan ketakwaannya serta Ismail dengan keyakinannya akan melaksanakan prosesi penyembelihan. Pada waktu itu, setan juga terus membisikkan kepada Ibrahim, Ismail, dan juga Siti Hajar untuk tidak usah menjalankan perintah Allah ini. Namun, keyakinan mereka tidak goyah sedikit pun. Untuk mengusir setan yang mengganggu, Nabi Ibrahim pun melemparinya dengan batu yang kemudian peristiwa ini diabadikan dalam ritual ibadah haji, yakni melempar jumrah.
Ada tiga lempar jumrah atau lempar jamaroh merujuk pada kegiatan melemparkan batu ke tiga tiang yang melambangkan setan, yaitu Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah. Proses ini dilakukan selama tiga hari berturut-turut sebagai bagian dari pelaksanaan ibadah haji.

Ka’bah dan Thawaf

Nabi Ibrahim juga memiliki peran penting dalam pembangunan Ka’bah, yang kemudian menjadi kiblat umat Islam di seluruh dunia. Bersama Ismail, Nabi Ibrahim membangun Ka’bah sebagai rumah Allah SWT, tempat umat Islam bersujud dan berdoa.

Thawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, mengingatkan umat Islam akan komitmen Nabi Ibrahim dalam menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan.

Ibadah haji adalah kesempatan untuk mengenang dan meneladani perjuangan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail. Kisah mereka mengajarkan kita bahwa ketaatan kepada Allah adalah jalan menuju kebahagiaan sejati. Semoga setiap langkah dalam ibadah haji membawa kita lebih dekat kepada Allah SWT dan memperkuat iman kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27).

Mendengar cerita ayahnya soal mimpi tersebut, sikap Nabi Ismail justru mengejutkan. “Hai ayahku, kerjakan lah apa yang diperintahkan kepadamu; termasuk menyembelihku insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,” ucap Nabi Ismail sitir Kiai Syaikuddin Rohman.

“Lalu dikerjakanlah perintah Allah tersebut, namun Allah mengutus malaikat untuk mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba. Peristiwa ini kemudian menjadi titik awal kemunculan Idul Adha, yang juga bertepatan dengan kegiatan pelemparan jumrah bagi jamaah haji,” ungkap mantan Wakil Ketua DPR D Kabupaten Blitar

Menurut Kiai Cikut panggilan akrabnya,sikap yang diambil oleh Nabi Ismail AS mencerminkan sikap seorang yang sabar serta percaya bahwa mimpi tersebut merupakan kebenaran yang datang dari Allah, dan semua perintah yang datang dari Allah harus dilaksanakan.

Menyelami perasaan batiniah Nabi Ibrahim AS yang menanti lama seorang anak, namun ketika diberi justru diperintahkan untuk menyembelihnya.

“Keikhlasan yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim AS adalah karena dirinya menyadari bahwa semua yang dimilikinya saat itu adalah sekedar titipan dari Allah SWT. Apa itu harta, jabatan, keluarga, prestasi, seseorang yang paling engkau sayangi, bahkan sesuatu yang sangat engkau pertahankan di dunia ini” jelas alumni Ponpes Lirboyo Kediri ini.

“Maka sebenarnya, yang dikurbankan oleh Nabi Ibrahim AS kala itu bukanlah putranya, melainkan rasa kepemilikannya terhadap Nabi Ismail AS”, tambah salah satu pengurus PCNU Kab.Blitar ini.

Menurut Kiai Cikut,segala sesuatu yang kita miliki di dunia hanyalah titipan dari Allah, maka kita perlu belajar untuk ikhlas ketika semua harus kembali kepada pemiliknya serta menjaganya dengan baik selagi masih dititipkan kepada kita.

“Melalui peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, ada tiga hikmah utama yang dapat dijadikan contoh untuk dapat menciptakan spirit idul adha. Yang pertama adalah iman, ikhlas dan Ilmu. Iman bisa dikuatkan dengan cara melaksanakan perintah Allah SWT,” terang Kiai Cikut.

Lalu ikhlas, yang berarti ikhlas dengan hubungan kita kepada Allah. Dengan begitu, kita akan terhindar dari sifat riya atau pamer.Kemudian ilmu.”Karena dengan terus mencari ilmu maka hidup kita serta ibadah kita dapat bernilai dan bisa sabar,” tandasnya.

Hikmah kedua adalah cinta orang tua kepada anaknya, serta hormatnya anak kepada orang tua. Terbentuknya sikap baik dari Nabi Ismail tidak luput dari peran Nabi Ibrahim dan Siti Hajar sebagai orang tuanya. Sedangkan yang bisa membalas cintanya orang tua kepada anaknya adalah birrul walidain. Doa orang tua adalah doa yang mustajab.

“Oleh karenanya kita perlu menghormati mereka dengan membahagiakan mereka selagi masih bersama kita, dan doakan beliau, serta jaga lah cucunya kelak”, terang Kiai Cikut dengan bahasa Jawa Ngoko penuh humoris.

Hikmah terakhir lanjutnya, membangun keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Melalui tauladan Nabi Ibrahim kita dapat melihat satu keluarga yang saling asah, asih, dan asuh.

Untuk mendapatkan spirit Idul Adha, kata Kiai Cikut, menyampaikan perlu membangun ketiga hikmah tersebut. “Untuk dapat ketiga hikmah itu maka kita perlu menyingkirkan jauh-jauh rasa kepemilikan kita terhadap harta. Merasa lah bahwa semua hanyalah titipan Allah. Dengan begitu kita dapat lebih menjganya dan ikhlas ketika hal itu pergi,” pungkas kiai Cikut .*Imam Kusnin Ahmad*