
JOMBANG, menaramadinah.com –Akhirnya kegiatan Muktamar Lesbumi yang sempat tertunda resmi dilaksanakan di Kampus UNWAHA Jombang Jawa Timur Pada Jumat, 12 Juni 2026 pukul 20.00 wib.
Gelaran Akbar Muktamar Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU mendapat dukungan yang besar dari Keluarga Besar Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang.
Acara yang mengusung tema ‘Kembali kepada Akar’ ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari hingga Minggu, 14 Juni 2026 secara terpusat.
Prosesi pembukaan muktamar Lesbumi ditandai dengan momen khidmat pembacaan Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 oleh Wakil Rektor Unwaha, KH Dr. M. Wafiyul Ahdi yang diikuti oleh seluruh peserta dan para muktamirin dari berbagai daerah Indonesia.
Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab selaku tuan rumah menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam atas dipilihnya Unwaha sebagai lokasi muktamar. Pilihan tempat ini dinilai sangat tepat dan historis mengingat almarhum sang ayah, KH Abdul Wahab Hasbullah, merupakan tokoh kunci pendiri Lesbumi sekaligus salah satu penggerak utama lahirnya organisasi Nahdlatul Ulama.
Melalui medium seni budaya, katanya, Lesbumi diharapkan mampu menyentuh pola pikir generasi muda serta memperkuat nilai-nilai Aswaja (Ahli Sunnah wal Jamaah An-Nahdliyah) sebagai benteng moralitas masyarakat.
Sedangkan Asisten Administrasi Umum Sekdaprov Jatim, Akhmad Jazuli, yang hadir mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan dukungan penuh pemerintah provinsi terhadap eksistensi Lesbumi.
“Keberadaan Lesbumi dinilai sangat vital di era modern ini untuk membentengi generasi muda dari serbuan penetrasi budaya luar yang cenderung sekuler dan merusak moral bangsa,”ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya pelestarian kesenian bernuansa islami tradisional khas NU seperti banjari, ishari, hingga seni teater rakyat. Menurutnya, kultur NU yang begitu melekat sejak manusia dalam kandungan (brokohan, selawatan) hingga kematian membuat organisasi ini begitu kokoh merangkul kehidupan masyarakat di akar rumput.
”Dengan ilmu, hidup menjadi mudah. Dengan agama, hidup menjadi terarah. Dan dengan seni, hidup menjadi indah. Selamat maju, Lesbumi!,” ucap Akhmad Jazuli menutup sambutannya.
SementaraKetua Lesbumi PBNU, KH M Jadul Maula, dalam pidato kebudayaannya memaparkan bahwa penyelenggaraan muktamar tahun 2026 ini menempuh perjalanan yang penuh dinamika. Sempat direncanakan pada Oktober tahun lalu, agenda ini terpaksa ditunda akibat dinamika gejolak politik nasional serta situasi internal organisasi pada Agustus silam.
Kiai Jadul merefleksikan situasi bangsa dan internal NU saat ini yang tengah menghadapi tantangan berat berupa degradasi moral dan krisis kepercayaan diri. Muktamar Kebudayaan ini menjadi momentum krusial untuk meneguhkan kembali jati diri dan khidmah kebangsaan sesuai amanat para founding fathers.
Mengutip pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan tokoh budayawan nasional Asrul Sani, Kiai Jadul Maula mendefinisikan ulang esensi kebudayaan bukan sekadar panggung seni atau adat-istiadat statis, melainkan sebuah ‘kata kerja’ sebuah ikhtiar aktif dari suatu komunitas atau bangsa untuk menjawab tantangan kehidupan dan bertahan dari impitan zaman.
Ia memetakan lima pilar kebudayaan yang saling bertaut sirkular: Agama (spiritualitas), Ilmu Pengetahuan (rasionalitas), dan Seni (rasa) di level suprastruktur ideal, yang ditopang oleh basis material berupa tata Politik-Hukum dan Ekonomi di level bumi.
”Muktamar ini mengangkat tema ‘Kembali kepada Akar’. Akar dari kebudayaan itu sebenarnya adalah mengembalikan kesadaran manusia sebagai subjek aktif. Manusia yang berpikir mandiri dan berdaulat untuk mengatasi segala kelaparan, ketimpangan ekonomi, korupsi, serta tantangan sosial yang melanda bangsa,” pungkas Kiai Jadul Maula.
Ia berharap, Muktamar ini diharapkan tidak hanya menghasilkan garis besar haluan program kerja organisasi yang strategis bagi Lesbumi PBNU, namun juga menjadi oase kebudayaan yang menyatukan komitmen kebangsaan lewat jalur seni dan tradisi.
