
Tepat habis Asar 12.Juni 2026 jumat sore, pengumuman menggema di lobi hotel alalaa Makkah. “300 jamaah Haji Bryan Makkah Surabaya, segera turun, baris. Kita berangkat ke Bandara King Abdul Aziz Jeddah.”
Wajah sumringah. Ada yang buru-buru masih tidur, ada yang masih makan sore. Semua siap pulang. Membawa doa, rindu, dan koper penuh kenangan.
Lalu latihan sabar dimulai.
Bis sudah antri menunggu. 1 jam, 2 jam, 3 jam sampai 4 jam ada yang ngobrol, ada yang mengaji pelan. 15 menit sebelum bis mau berangkat, justru drama kecil muncul. “Ya Allah, kurma saya ketinggalan!” “Boneka untuk cucu di Surabaya belum diambil!” Koper dibuka lagi, lari naik ke kamar. Ada tawa, ada keringat, ada sabar yang ditempa.
Sampai bandara, ujian belum selesai. Antrian paspor dan pemeriksaan koper mengular panjang. Kursi tunggu tak cukup. Lantai marmer jadi sejadah sementara. Duduk bersila, bersandar koper. 5 jam antri. Kaki pegal, tapi lisan tetap: “Alhamdulillah, ya Allah”.
Lalu dipanggil baris. “Rombongan 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1. Siapkan nomor tiket pesawatnya”. Koper ada yang dipeluk erat, ada yang langsung masuk bagasi. Banyak yang bingung. Ini masuk kabin? Itu masuk bagasi? Tanya ke sini, tanya ke sana.
KH. Imam Hambali tersenyum menenangkan: “Gak usah bingung-bingung. Semuanya sudah diatur oleh Allah. Tugas kita tawakal”.
Dan Allah tak pernah ingkar janji.
Alhamdulillah, tepat pukul 12.15 WAS, 300 barisan rapi terbentuk. Satu persatu naik bis. Satu persatu melangkah ke pintu pesawat. Capek hilang diganti haru.
Begitu roda pesawat berputar meninggalkan Jeddah, 300 dada serentak lega. Senyum mengembang. Air mata jatuh. Rindu rumah, rindu keluarga di Surabaya sudah di depan mata.
Betul, sabar itu mudah diucapkan. Tapi mempraktekkannya saat nunggu 3 jam, antri 5 jam, koper ketinggalan, kaki di lantai… itulah hajinya hati.
Benar kata KH. Syukron Jazilan : “Disabar-sabarkan, dikuat-kuatkan. Nanti selesai dengan sendirinya”.
Barakallah untuk 300 jamaah BM Surabaya. Kalian lulus ujian sabar sebelum tiba di tanah air.
