
Oleh : Abdul Karim.
_”To write is to reveal the world and to reveal oneself. It is to project the world and oneself into the future.”_ – Jean-Paul Sartre, _What Is Literature?_
Menulis, bagi Jean-Paul Sartre, bukanlah sekadar kegiatan estetika yang mengisi waktu luang atau mendandani pikiran dengan kalimat-kalimat indah. Menulis adalah tindakan. Lebih dari itu, menulis adalah keterlibatan. Ketika seseorang mulai menulis, ia sedang mengangkat dirinya dari sekadar eksistensi pasif menjadi pelaku aktif dalam sejarah. Esai Sartre _“Why Write?”_ dalam _What Is Literature?_ menyodorkan sebuah gugatan keras kepada siapa pun yang mengaku mencintai kata-kata namun tetap memilih diam di tengah ketidakadilan. Menulis adalah cara manusia mengekspresikan kebebasannya, dan dalam dunia Sartre yang absurd ini, kebebasan bukanlah anugerah melainkan beban yang harus ditanggung dan diaktualkan.
Pertanyaan “mengapa menulis?” adalah panggilan eksistensial. Dalam kerangka _Being and Nothingness_, Sartre menguraikan bahwa manusia bukanlah sesuatu yang “ada” secara tetap, melainkan ia “menjadi” melalui tindakannya. Eksistensi mendahului esensi. Maka, saat manusia menulis, ia sedang menegaskan eksistensinya melalui pilihan kata, melalui keputusan tentang apa yang layak dikatakan dan apa yang pantas diungkapkan. Ia tidak sedang melukis potret dunia yang beku, melainkan menciptakan dunia baru, mengintervensi kenyataan, dan menunjukkan bahwa dirinya tidak netral terhadap apa yang terjadi.
Menulis bukanlah upaya melarikan diri dari dunia, tapi justru cara paling radikal untuk hadir di dalamnya. Sartre dengan tegas menyatakan bahwa seorang penulis tidak bisa tidak berpihak. Kata-kata bukan benda mati yang netral. Kata-kata adalah tindakan sosial. Ia bisa menindas, membebaskan, menghapus keberadaan, atau justru menghadirkannya kembali. Karena itu, menulis adalah sebuah keputusan moral. Penulis yang memilih untuk tidak menulis berarti memilih untuk membiarkan dunia dikuasai oleh narasi-narasi dominan yang membungkam. Dalam diamnya, ia telah berpihak kepada penindas.
Namun menulis juga bukan soal berkhotbah dari menara gading. Bagi Sartre, tulisan tidak bisa lepas dari pembacanya. Dalam relasi antara penulis dan pembaca, ada dunia yang diciptakan bersama. Kata-kata yang dituliskan hanya akan hidup jika dibaca dan ditanggapi. Maka, menulis adalah undangan kepada orang lain untuk bergulat bersama dalam makna. Di sinilah peran penulis bukan sebagai nabi atau guru yang memberikan jawaban final, melainkan sebagai manusia yang mencoba memahami dunia dengan segala kompleksitasnya, dan mengajak orang lain untuk ikut memikirkannya.
Penting untuk dipahami bahwa dalam pandangan Sartre, kebebasan tidak pernah mudah. Ia adalah kutukan sekaligus kemuliaan manusia. Dan menulis, sebagai perwujudan kebebasan itu, mengharuskan keberanian. Berani mengambil sikap. Berani kehilangan kenyamanan. Bahkan berani dibenci. Karena menulis dengan jujur akan selalu berbenturan dengan kekuasaan, tradisi, dan norma-norma mapan. Di sinilah esai _“Create Dangerously”_ dari Albert Camus memperkuat dan memperluas pemikiran Sartre. Camus menunjukkan bahwa menulis dalam situasi represi dan absurditas adalah tindakan yang berbahaya, tapi justru karena itulah menulis menjadi berarti.
Camus menyadari bahwa dalam dunia yang penuh absurditas—di mana kejahatan terjadi tanpa logika dan kekuasaan menggilas kebenaran—menulis harus menjadi suara yang mengganggu ketertiban palsu. Seorang penulis, kata Camus, harus “bekerja dalam bayang-bayang maut dan kebebasan.” Ia tahu bahwa kata-kata bisa membuatnya dibungkam, dipenjara, atau dibunuh. Tapi jika ia tetap menulis, itu berarti ia telah memilih keberanian. Keberanian untuk tetap menjadi manusia yang merdeka di tengah sistem yang menolak kemerdekaan.
Dalam pengertian ini, menulis bukan hanya tindakan eksistensial, melainkan juga tindakan etis dan politis. Camus tidak percaya bahwa penulis harus netral. Ia menganggap netralitas sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kebenaran. Namun, ia juga menolak propaganda. Baginya, tulisan yang otentik bukanlah yang menggemakan slogan, tetapi yang lahir dari kejujuran, dari luka, dari cinta yang mendalam pada kehidupan dan sesama. Penulis yang sejati, menurut Camus, adalah mereka yang berani menghadapi dunia apa adanya, dan tetap memilih untuk menyalakan cahaya, sekecil apa pun, dalam kegelapan.
Sartre dan Camus memang memiliki ketegangan dalam filsafat mereka—terutama dalam soal kekerasan dan revolusi—tapi dalam soal peran menulis, mereka berdiri di garis yang sama. Mereka percaya bahwa kata-kata punya tanggung jawab. Dan tanggung jawab itu bukan untuk menyenangkan, tapi untuk mengungkapkan kebenaran yang sering kali menyakitkan. Ketika dunia menjadi tempat di mana kebohongan dilembagakan, ketika media menjadi alat kekuasaan, dan ketika manusia kehilangan makna karena banjir informasi yang dangkal, menulis adalah tindakan yang melawan.
Dalam perspektif ontologi Sartre, penulis adalah makhluk yang sadar akan keberadaannya dan keberadaan dunia. Ia tidak hanya “ada” seperti batu atau meja, melainkan menyadari bahwa ia ada, dan bahwa ia bisa memilih. Pilihan itu, dalam dunia menulis, adalah pilihan tentang apa yang patut diberi suara. Apakah ia akan menulis demi pasar? Apakah ia akan menulis demi kekuasaan? Atau apakah ia akan menulis demi nuraninya? Sartre tidak memaksakan satu jawaban, tapi ia mengingatkan bahwa tidak memilih pun adalah sebuah pilihan—dan biasanya, pilihan itu berarti tunduk kepada apa yang dominan.
Menulis, dalam semua bobotnya, adalah bentuk pengambilan posisi. Dan posisi itu tidak selalu nyaman. Karena menulis adalah menantang lupa. Ia mengganggu ketenangan palsu. Ia mempertanyakan apa yang sudah dianggap wajar. Ia menghidupkan kembali suara-suara yang dibungkam. Bahkan ketika kata-kata tampak tak berguna, menulis tetap penting. Karena seperti yang dikatakan Camus, bahkan dalam ketakberdayaan, manusia tetap punya martabat selama ia memilih untuk tidak diam.
Kini, dalam dunia yang semakin bising dan dangkal, esai _“Why Write?”_ menjadi semakin relevan. Kita hidup dalam zaman di mana kata-kata dibanjiri makna palsu. Kata “perjuangan” dipakai untuk menjual produk. Kata “keadilan” digunakan untuk melegitimasi kekuasaan. Kata “kebebasan” diputarbalikkan untuk menutupi dominasi. Dalam kondisi seperti itu, menulis menjadi upaya menyucikan kembali bahasa. Membawa kata-kata pulang ke makna sejatinya. Dan itu bukan tugas kecil.
Sartre menunjukkan bahwa ketika seseorang menulis, ia harus sadar bahwa ia sedang mengubah dunia. Tidak harus dalam skala besar. Tapi setiap kata yang ditulis dengan jujur, dengan refleksi, dan dengan niat untuk membebaskan, adalah batu kecil dalam bangunan sejarah. Ia mungkin tidak langsung tampak. Tapi seperti tetes air yang konsisten, ia akan mengikis batu kebohongan yang paling keras sekalipun.
Menulis adalah kerja untuk masa depan. Sebuah usaha untuk menjadikan dunia ini sedikit lebih jujur, sedikit lebih adil, sedikit lebih manusiawi. Sartre dan Camus mengingatkan kita bahwa tulisan bukan warisan kertas, melainkan warisan keberanian. Maka ketika seseorang bertanya “mengapa menulis?”, jawaban terbaik bukan dalam bentuk teori atau definisi, melainkan dalam bentuk komitmen. Komitmen untuk hadir. Komitmen untuk bertanya. Komitmen untuk melawan dengan kata. Dan komitmen untuk terus menulis meski dunia tampaknya tidak berubah.
Sebab di tengah absurditas, di tengah penderitaan, di tengah kekacauan, satu kalimat yang ditulis dengan jujur bisa menjadi nyala yang menerangi langkah. Dan kadang, nyala kecil itu cukup untuk menunjukkan jalan.
Abdul Karim (Anggota *Tim Litbang Sekolah Nasima*)
