Cerita Fayza, Belajar Agama Sikh dan Kebudayaan Batak Melalui Modul Nusantara PMM

 

Jember, 25 Juni 2024-Fayza Dwi Ega Leonida, mahasiswi program studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember (UNEJ) mendapatkan pengalaman unik belajar agama Sikh dan kebudayaan batak dari Modul Nusantara dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) di Universitas Negeri Medan (UNIMED), Medan, Sumatera Utara. Saat ditemui di Kampus Tegalboto Senin (25/06/2024) Fayza menceritakan pengalamannya selama belajar dan bersosialisasi di UNIMED.

Mahasiswi semester 4 ini mengikuti program PMM dengan kegiatan Modul Nusantara, mata kuliah khusus bagi peserta PMM yang memfasilitasi pembelajaran tentang keberagaman nusantara, khususnya keragaman budaya dan keunikan daerah lokasi Perguruan Tinggi (PT) Penerima. Melalui modul nusantara inilah Fayza belajar tentang agama Sikh di Gurdwara Shree Guru Tegh Bahadur yang merupakan tempat ibadah penganut agama Sikh di Kota Medan, Sumatera Utara.

Ia mengaku sedikit banyak mengetahui tentang apa itu agama Sikh, tempat ibadah dari agama Sikh, dan berkesempatan untuk mencicipi makanan khas India secara langsung, “Senang rasanya gaperlu jauh-jauh ke India buat bisa ngerasain makanan India secara langsung, berkat ikut PMM aku bisa makan chana aloo curry, kue talam ketan, dan chai masala,” ujarnya dengan gembira.

Fayza juga belajar mengenai sejarah agama Sikh melalui tetua Gurdwara Shree Guru Tegh Bahadur yaitu Hardip Singh Kaur, “Sikhisme adalah agama yang percaya akan satu Tuhan yang panteistik. Agama Sikh didirikan oleh Guru Nanak (1469-1539). Menurut legenda, Guru Nanak yang dilahirkan di keluarga Hindu, mendapat wahyu setelah mandi pagi di tahun 1499. Pada saat usianya 30 tahun, ia menyerahkan semua harta yang dimilikinya. Kemudian ia melakukan perjalanan keliling negeri dalam upaya pengkhotbah Sikhisme, untuk menyebarkan kepercayaannya akan satu Tuhan.” jelas Hardip Singh Kaur.

Menariknya, Fayza menceritakan bahwa ketika ia menjalani PMM disana secara kebetulan ada acara pernikahan yang diadakan di Gurdwara, sehingga seluruh mahasiswa yang sedang mengikuti kegiatan modul nusantara dapat menyaksikan dan mengetahui prosesi upacara pernikahan dan berkesempatan untuk berfoto bersama pengantin, keluarga, dan pendeta.

Saat ditanya motivasinya mengikuti PMM, mahasiswi asli Jember itu mengaku ingin merasakan suasana belajar baru dan melihat dunia dari perspektif yang lebih luas, serta menjalin relasi pertemanan dengan seluruh mahasiswa di berbagai universitas di Indonesia.

“Selagi masih jadi mahasiswa, aku berusaha manfaatin sebaik mungkin kesempatan yang ada, dengan ikut PMM aku ingin mengembangkan skill komunikasi, belajar bahasa daerah setempat dan membangun relasi pertemanan yang lebih luas,” ungkap Fayza.

Selama satu semester di Medan, Fayza juga belajar tentang kebudayaan Batak seperti melihat cara pembuatan ulos, memahami jenis-jenis ulos berdasar motifnya hingga belajar membuat ulos secara langsung dengan warga asli Batak. Fayza mengaku pengalaman selama mengikuti program PMM ini sangat menyenangkan dan tidak akan pernah ia lupakan.

Ia juga membagikan beberapa tips bagi mahasiswa yang berkeinginan mengikuti program PMM, “Tipsnya yang pasti cari teman sebanyak-banyaknya, baik dari sesama mahasiswa PMM atau mahasiswa lokal karena satu semester disana bakal banyak banget kegiatan-kegiatan yang kalo kita tidak punya teman akan kesusahan. Selain itu juga membiasakan diri dengan karakter dan watak masyarakat setempat itu penting, karena perbedaan budaya kadang bisa membuat kita kurang betah. Sehingga dengan membiasakan diri, kita bisa lebih survive disana. Yang terakhir jaga adab dan perilaku selama disana, karena ada pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.” pungkasnya. (nil/dil)