Pendidikan Islam di Era Peradaban Modern

Catatan Azizatul Maghfiroh dkk, Yahya Aziz & Saefullah Azhari : Mahasiswi PAI & Dosen FTK UINSA

Inilah catatan kecil kelompok kami dalam riset penelitian buku, ;
1. Azizatul Maghfiroh (06010121006)
2. Bayu Wira Pratama (06010121007)
3. Septia Ayu Wardany (06010121023)
4. Tria Yuli Shafira (06020121071)
5. Malvina Vioday (06040121110)
6. Vindy Melisa (06040121129)
Ke 6 para mahasiswa/wi ini dibimbing langsung oleh Yahya Aziz & Saefullah Azhari dosen FTK Uinsa untuk meresensi buku mata kuliah “Materi Public Speaking”.

Judul Buku : Pendidikan Islam di Era Peradaban Modern
Penulis : Prof. Dr. H. Sutrisno, M.Ag dan Dr. Suyatno, M.Pd.I
Penerbit : Prenadamedia Group
Tahun : Desember, 2015
Kota : Jakarta
Jumlah Halaman : 202 hlm

Buku Pendidikan Islam di Era Peradaban Modern ini bersumber dari pengalaman dua penulis yang menjadi pemikiran sekaligus praktisi pendidikan Islam, buku ini menawarkan ide-ide baru yang orisinal dan membumi.

Buku Pendidikan Islam di Era Peradaban Modern memfokuskan pembahasannya pada ajaran kenabian khusus dari aspek kritis dan kreatif. Hal ini ini dipandang penting mengingat kenyataan bahwa daya kritis dan kreatif sudah relatif lama pudar dari kehidupan umat Islam.

Dengan mulai ada perhatian kembali terhadap sifat kritis dan kreatif, diharapkan suatu ketika nanti kedua sifat itu akan mulai tumbuh berkembang lagi pada kehidupan umat Islam, khususnya pada subjek didik di lembaga pendidikan Islam.

Seiring perubahan zaman, tantangan yang dihadapi umat Islam semakin kompleks. Modernisasi dan globalisasi “memaksa” pendidikan Islam untuk merekonstruksi ulang agar SDM yang dihasilkan tetap survive dalam kehidupan global

Buku Pendidikan Islam di Era Peradaban Modern terdiri dari 12 bab :

Bab 1 Menggagas Pendidikan Profetik.
Pembahasan ini dimulai dari perjalanan pendidikan umat Islam, pendidikan umat Islam ke arah kritis dan kreatif, hingga kritis dan kreatif dalam perencanaan kurikulum pendidikan Islam.

Bab 2 Interkoneksitas Sistem Pendidikan Sains dan Agama untuk Membangun Mutu Pendidikan Bangsa.
Pembahasan ini mempersoalkan adalah bagaimana interkonektivitas sistem pendidikan sains dan agama. Sains yang berkembang di barat dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis yaitu natural sciences, social sciences, dan humanities. Sedangkan pada dunia Islam berkembang ilmu agama dan di Indonesia sendiri dikelola dan dikembangkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Diknas), sedangkan ilmu agama dikelola dan dikembangkan oleh Departemen Agama (Depag)

Bab 3 internalisasi dan Integrasi al-Qur’an Hadits dalam Disiplin Ilmu Pendidikan.
Ilmu pendidikan sudah ada lebih dahulu atau ilmu pendidikan sudah berkembang lebih dahulu, kemudian di internalisasi dan diintegrasi dengan Al-Qur’an Hadits. Ilmu pendidikan digunakan sebagai acuan untuk praktik pendidikan. Tetapi dapat juga sebaliknya, praktik pendidikan menghasilkan pengetahuan dan pengetahuan yang disistematisasi menjadi ilmu pendidikan

Bab 4 Transformasi Pendidikan Umat Islam.
Pada pertengahan tahun 1970-an lembaga pendidikan Islam pada umumnya relatif jauh tertinggal dari sekolah modern. Pada tahun 1980-an muncul beberapa lembaga pendidikan Islam yang mulai berkembang. Pada tahun 1990-an mulai banyak lembaga pendidikan Islam yang mengalami kemajuan. Kemudian pada tahun 2000-an sudah mulai banyak sekolah Islam yang mampu bersaing dengan sekolah negeri dan non Islam. Mulai tahun 2011 lebih banyak lagi lembaga pendidikan Islam yang lebih bagus dari sekolah negeri dan sekolah non Islam.

Bab 5 Pendidikan untuk Membangun Daya Saing Bangsa di Era Globalisasi.
Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019 mentargetkan Indonesia menjadi negara maju. hal ini disebabkan bahwa indonesia memiliki bonus demografi yang bisa mendukung indonesia menjadi negara maju.

Bab 6 Pendidikan Islam Menghadapi Gelombang Peradaban Modern.
Adanya tantangan yang berubah seiring berkembangnya zaman dan selalu menuntut untuk lebih bekerja keras, mau tidak mau pendidikan harus segera mereformasi diri jika tidak ingin selalu ketinggalan dengan bidang lain. Setidaknya ada dua sisi yang harus segera dilakukan reformasi yaitu pengelolaan pendidikan dan budaya akademik.

Bab 7 Lembaga Pendidikan Islam Negaholic.
Dalam pembahasan ini berisi tentang usaha mengemukakan penyakit negaholic yang menjangkiti lembaga pendidikan. Negaholic sendiri berarti orang yang ketagihan atau orang yang terus-menerus bersikap negatif. Orang yang telah terkena penyakit ini selalu menolak ide-ide baru yang datang dari pihak lain dan selalu memberikan respon negatif. Jika ini menyakiti berbagai pihak di lembaga pendidikan maka sudah pasti akan memberikan dampak yang buruk

Bab 8 Pendidikan Islam Berorientasi pada Kualitas Lulusan.
Pendidikan dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi, lulusannya akan dapat memenangkan kompetisi. Jika lulusan pendidikan itu dapat memenangkan dalam berbagai kompetisi, mereka akan dapat hidup dengan baik. Sesuai dengan tuntutan zaman, pendidikan dituntut dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Bab 9 Peningkatan Kualitas Perkuliahan di Perguruan Tinggi Agama Islam.
Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun dan memajukan kondisi peradaban bangsa kedepan. Kualitas suatu bangsa kedepan dapat diprediksi dengan tingkat kualitas pembelajaran di perguruan tinggi. Jika kualitas pembelajaran di perguruan tinggi rendah bisa dipastikan kualitas bangsa kedepan juga rendah. Dan sebaliknya jika kualitas pembelajaran di perguruan tinggi itu bagus maka bisa dipastikan kualitas bangsa kedepan juga tinggi.

Bab 10 Sisi Lain Pendidikan Agama Islam.
Menjadi seorang guru PAI tidaklah mudah, karena dalam implementasinya seorang guru dituntut untuk dapat menumbuhkan dan menerapkan akhlak serta budi pekerti luhur yang baik bagi para peserta didiknya.

Bab 11 Penilaian Mata Pelajaran Agama Islam.
Terkait penilaian pada mata pelajaran PAI di sekolah sangat memfokuskan terhadap pengembangan aspek sikap, baik sikap sosial, maupun sikap spiritual, maka semua proses penilaiannya harus mengacu pada kompetensi tersebut. Selain itu teknik dan instrumen penilaian harus dirumuskan agar benar-benar dapat mengukur aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap sosial, serta spiritual para peserta didik.

Bab 12 Strategi Pembelajaran Tarikh di SMA.
Dalam pembahasan ini menjelaskan tentang bagaimana langkah-langkah konkret proses pembelajaran tarikh di SMA. Untuk itu secara berturut-turut akan dikemukakan tentang apa itu tarikh, materi tarikh, tugas guru, prinsip pembelajaran, dan contoh strategi pembelajaran tarikh di SMA.

Kelebihan :
Buku ini begitu kaya, padat, dan disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Referensi bertebaran di sana-sini, memberikan nuansa keketatan informasi yang mudah dijangkau oleh para pembaca. Beberapa bab yang membutuhkan skema atau gambaran detail agar pemahaman yang utuh didapatkan, tidak luput dari perhatian para penulis. Beberapa bab juga menyajikan pembahasan-pembahasan yang terkesan “asing” di telinga, karena itulah para penulis mengenalkannya kepada para pembaca. Sebut saja di antaranya gagasan pendidikan profetik yang menekankan pada aspek kritis dan kreatif dari ajaran kenabian, interkoneksitas sains dan agama sehingga pintu-pintu dikotomi didobrak dan dipecahkan, menghilangkan virus _negaholic_ dalam tubuh lembaga pendidikan Islam, dan strategi pembelajaran _tarikh_ di SMA, suatu hal yang perlu mendapat perhatian khusus karena materi _tarikh_ sendiri masih mendapat stigma yang terlalu deskriptif dan membosankan. Pembahasan-pembahasan tersebut memberikan nuansa kebaruan dan memang sampai saat ini diskusi, kajian, dan langkah-langkah penerapannya tetap _sustainable._

Kekurangan :
Hanya saja, beberapa strategi, pembahasan, dan informasi yang diangkat dirasa sudah tertinggal oleh zaman yang terus berubah. Kurikulum 2013 yang diangkat sudah tidak begitu relevan dengan kebutuhan-kebutuhan yang kini dihadapkan pada Kurikulum Merdeka, menjadikan apa yang disajikan hanya sebatas informatif, tidak konstruktif.
Barakallah….