
Ijazah Hadist Musalsal Awwaliyyah di UIN Maliki Malang
Senin, (3/12) Rihlah Tarbawiyah Syekh Awad Karim Al-Aqli di Indonesia telah sampai di Kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kehadiran Ulama 53 tahun ini dalam rangka Daurah Ilmiyah lil Ma’ahid al-Islamiyah Indonesia (DAIMI) yaitu safari dakwah keliling pesantren dan lembaga pendidikan di Indonesia. Selain UIN Maulana Malik Ibrahim, Qori Riwayat Imam Duri dari Amr dan Bashri ini juga mengunjungi beberapa pesantren seperti Pondok Pesantren al-Islahiyyah, Singosari, Malang, Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Manyar, Gresik, Pondok Pesantren Mathailul Falah, Kajen, Pati dan lain-lain.
Dalam seminar Internasional ini Ulama asal Sudan, Afrika Utara ini memberikan ceramah umum tentang bahasa Arab dan beberapa keistemawaannya. Ulama kelahiran Sudan, 1 Januari 1965 ini banyak menyampaikan tentang faidah-faidah yang akan didapatkan seseorang yang mau mendalami bahasa Al-Qur’an ini. Beliau juga menyampaikan bahwa bahasa arab adalah bahasa yang mudah dipahami bahkan oleh orang non-Arab. Tersebutlah Imam Sibawaih (pengagas Ilmu Nahwu) dan Iman Kholil Farahidi (penyusun kamus Bahasa Arab pertama) yang dikenal sebagai ahli bahasa arab namun justru berasal dari Negeri Basrah (sekarang Irak).
Bertempat di Gedung Ir. Soekarno atau Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini acara yang dipandu oleh Dr. KH. Isyroqun Najah, Wakil Rektor III, dan moderator Dr. H Syuhada’ Sholeh, Ketua Jurusan Doktoral (S3) Pendidikan Bahasa Arab (PBA) berlangsung dengan khidmat. Peserta yang hadir pun berasal dari latar belakang yang berbeda, dari mahasiswa, dosen, tamu undangan dan tak ketinggalan pula warga Sudan yang menempuh studi di beberapa kampus di sekitar Kota Malang. Meski seminar tersebut berjalan dengan berbahasa arab tanpa penerjemah, seminar berjalan dengan lancar dan sempat mengundang mengundang decak kagum Syekh Awad Karim.
Selain memberikan ceramah, Ulama yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang keilmuan Majma’ Shufi Al-Aam Sudan, Guru Besar Ilmu Fiqh, Mantiq, Akidah, Tasawwuf dan Kalam di Masjid Agung Omdurman Sudan, ini juga memberikan ijazah kitab Aqd Al-Jauhar Ats-Samin fi Arbain hadistan min ahadist sayyidil mursalin (Arbain Al-Ajaluni) karya Syekh Ismail bin Muhammad Al-Ajaluni (w.1162 H). Berbeda Arbain Nawawi karya Imam Syarifuddin Zakariya Yahya an-Nawawi, dalam kitab tersebut Imam Al-Ajaluni mencantumkan 40 hadist dari 40 kitab seperti Kutubus Sittah (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan Ibnu Majah, Sunan An-Nasai, dan Sunan Ibnu Majah) al-Muwattho’ Imam Malik, Musnad Ibn Hanbal, Tarikh Ibnu Asakir, Syarah Sunan al-Baghowi dan lain-lain.
Tak hanya itu ulama yang menerima lebih dari 100 riwayat hadist dari ulama terkemuka dunia ini seperti Syekh Ali Jum’ah, Syekh Abdur Razaq Mahmud, Syekh Muhammad Ali, Syekh Yusri Rusydi Jabr, Syekh Muhammad Yahya al-Kattani ini juga memberikan ijazah hadist musalsal yang terkumpul dalam Kitab Imdad ar-Rauf ar-Rahim bi ba’dhi musalsalat wa murwiyat asy-Syaikh Awad al-Karim”. Memandang kegigihannya dalam menggali sanad keilmuan ini mengingatkan kita pada sosok Musnid Dunya Syekh Yasin Al-Fadani, Ulama Besar Berdarah Padang, Sumatera Barat yang amat masyhur akan keahliannya dalam bidang ilmu hadist dan penyambung sanad keilmuan dari ulama-ulama salaf. Dan ternyata Syekh Awad Karim juga banyak mengambil sanad dari Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, yang darinya banyak pula mengambil sanad kepada Guru Besar Hadist tersebut.
Tentang kata Musalsal sendiri secara bahasa artinya berasal dari kata سلسل يسلسل سلسلة yang berarti berantai dan bertali menali. Hadis ini dinamakan musalsal karena ada kesamaan dengan rantai (silsilah) dalam segi pertemuan pada masing-masing perawi atau ada kesamaan dalam bagian-bagiannya.
Secara istilah, hadits musalsal adalah sebuah hadits yang dalam sanandnya antara satu perawi dengan perawi setelahnya melakukan hal yang sama, baik berupa perkataan, perbuatan ataupun keduanya
Dikutip dari catatan Zulfikar Afdhilla, Dalam istilah lain, hadis musalsal adalah:
تتا بع رجال اسنا ده علي صفة اوحالة للرواية تارةوللرواية تارة اخري
Keikutsertaan para perawi dalam sanad berturut-turut pada satu sifat atau pada satu keadaan, terkadang bagi para perawi dan dari periwayatan.
هوالحديث الذي يتصل اسناده بحال (هيئة) اووصف- قولي اوفعلي- يتكررفي الرواة اوالرواية اويتعلق بزمن الرواية اومكانها
Adalah hadis yang sambung penyandarannya dalam satu bentuk atu keadaan atau satu sifat, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang terulang-ulang pada para periwayatan atau pada periwayatan atau berkaitan dengan waktu atau tempat periwayatan.
Hadis musalsal adalah hadis musnad mutthasil yang bebas dari tadlis (pemalsuan). Dalam periwayatannya selalu berulang perkataan-perkataan atau perbuatan-perbuatan yang sama, yang dinukil oleh setiap perawi dari orang di atasnya dalam sanad, hingga berakhir pada Rasulallah SAW Keterlepasannya dari tadlis dan keterputusannya mendorong pemula dalam ilmu ini mengenakan hukum secara spontan dan tergesa-gesa.
Ibn Katsir berkata: “Faedah tasalsul (kesinambungan) adalah menjauhkan suatu hadis dari pemalsuan dan keterputusan. Meskipun begitu, jarang hadis shahih disampaikan dengan cara musalsal. Kadang-kadang asal matan dalam hadis jenis ini memang shahih, karena terhindar dari tadlis.
Pada kesempatan yang begitu mulia ini Syekh Awad Karim juga mengijazahkan beberapa hadist yang sanadnya bersambung langsung dari beliau sampai ke Rasulullah. Tradisi keilmuan dengan sanad ini kata beliau telah banyak dilupakan banyak orang. Beliau pun berpesan dengan mengutip nasehat ulama
لولا اسناد لقال من شاء ما شاء
“Tanpa sanad seseorang maka orang akan berkata semaunya”
Dan berikut yang hadist-hadist musalsal diijazahkan oleh ulama bermadzhab Maliki ini, diantaranya:
Hadist Pertama
عن معاذ بن جبل -رضي الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «يَا مُعَاذ، واللهِ، إِنِّي لَأُحِبُّكَ، ثُمَّ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ، لاَ تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَة تَقُول: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ» [رواه أبو داود والنسائي ومالك وأحمد.]
Hadis Mu’adz bin Jabal, bahwasannya Nabi Muhammad SAW bersabda kepadanya: Hai Mu’adz sesungghnya aku mencintaimu, maka katakanlah pada setelah shalat: Ya Allah Tolonglah aku untuk dzikir kepada-Mu, syukur kepada-Mu, dan baik dalam ibadah kepada-Mu. (HR. Abu Dawud, Nasai, Malik, dan Ahmad)
Hadist Kedua
عن انس ابن مالك قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا يَجِدُ الْعَبْدُ حَلاوَةَ الإِيمَانِ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ ، حُلْوِهِ وَمُرِّهِ ” . قَالَ : وَقَبَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى لِحْيَتِهِ ، وَقَالَ : ” آمَنْتُ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ ، حُلْوِهِ وَمُرِّهِ ”
Hadis Anas bin Malik RA Berkata: Rasulallah SAW bersabda: Seorang hamba tidak mendapatkan manisnya iman sehingga beriman kepada ketentuan Allah (Qadar) baik dan buruk, manis dan pahitnya.” Rasulullah sambil memegang jenggot bersabda: “ Aku beriman pada ketentuan Allah (qadar) baik dan buruk, manis dan pahitnya.” (HR. Al-Hakim secara musalsal)
Hadist Ketiga
عن انس ابن مالك قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِى الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاء
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah yang di atas muka bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Tirmidzi)
Hadist Keempat
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : ” قَعَدْنَا نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ سَيِّدِنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَذَاكَرْنَا ، فَقُلْنَا : لَوْ نَعْلَمُ أَيَّ الأَعْمَالِ أَقْرَبَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَعَمِلْنَاهُ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (١) يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ (٢) سورة الصف آية (١-٢) حتى ختمها قَالَ سَيِّدُنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : فَقَرَأَهَا عَلَيْنَا سَيِّدُنَا وَمَوْلانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حتى يختمها
Dari sahabat Abdullah bin Salam berkata telah duduk bersama kami seseorang dari sahabat Rasulullah SAW maka kami pun berdiskusi. Maka kami mengatakan andaikan kita tahu amalan yang paling dekat di sisi Allah maka kita akan amalkan. Maka turunlah firman Allah Azza wa Jalla (yang artinya)
1. Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah; dan Dialah Yang Maha Perkasa, Mahabijaksana.
2. Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
(QS. Shaff: 1-2)
kemudian mereka membacanya sampai mengkhatamkannya. Dan Abdullah bin Salam berkata: telah dibacakan surat ini oleh Rasulullah SAW sampai khatam”
Sanad hadits di atas, sebagian besar beliau terima dari Syekh Muhammad Abdulllah Muhyiddin dari Syekh Yahya bin Abdur Rozaq al-Ghaustani dari Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, dari Syekh Umar Hamdan al-Mahrasi, yang bersambung mata rantai sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW.
Sebelum menutup seminar, beliau juga mengijazahkan cara berjabat tangan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang beliau dapatkan dari guru-guru beliau yang dengan musyafahah al-ma’mariyyah (berjabat tangan sembari mengapalkan tangan) yang berlandas pada hadist dan musyabakah (mengenggam tangan sambil menggandengkan jari-jemari satu sama lain atau ngapurancang dalam bahasa jawa).
Harapan dari Musyabakah dan Musyafahah ini semoga kelak dengan bergandengannya antar muslim dapat bersambung sampai Rasulullah SAW dan kelak dapat berjabat tangan langsung dengan Al-Musthafa di akhirat kelak untuk menuju ke Surga-Nya . Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
قال النبي صلى الله عليه وسلم: مَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَنَمَّا زَارَنِي، وَمَنْ صَافَحَ عَالِمًا فَكَأَنَّما صَافَحَنِي، وَمَنْ جَالَسَ عَالِمًا فَكَأَنَّما جَالَسَنِي في الدُّنْيَا، وَمَنْ جَالَسَنِي في الدُّنْيَا أَجْلَسْتُهُ مَعِيْ يَوْمَ القِيَامَةِ
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa mengunjungi orang alim, maka seolah-olah ia mengunjungiku. Barang siapa berjabat tangan dengan orang alim, maka seolah-olah ia berjabat tangan denganku. Barang siapa duduk berdampingan dengan orang alim, maka seolah-olah ia duduk berdampingan dengan denganku di dunia. Barang siapa duduk berdampingan denganku di dunia, maka ia akan duduk berdampingan denganku di hari kiamat.”
Malang, 4 Desember 2018
Muhammad Abid Muaffan
Santri Backpacker Nusantara
Wartawan MM.com
