
Terlepas dari perdebatan teori masuknya islam ke NUSANTARA dari arab atau china.
Sejarah besar tersebut kini telah bersemi.
Perlahan fakta sejarah berbicara. Berikut ini kisahnya :
Sebelum peresmian situs makam, dahulu mbah mayang madu oleh masyarakat banjarwati dan sekitarnya hanya di kenal sebagai leluhur sepuh yang berkuasa di kawasan banjarwati, bahkan karena di anggap sepuh; dahulu kala ada tradisi setiap ada hajat khususnya nikah, pengantin dan keluarganya ziarah ke makam mbah mayang madu baru kemudian berjalan arak arakan ke makam sunan derajat.
Pemahaman versi lain tentang mbah mayang madu SECARA ILMIAH baru muncul Pada saat peresmian situs sejarah bangunan makam MBAH MAYANG MADU pada tanggal 9 bulan 9 tahun 2015.
prof agus sunyoto (penulis buku ATLAS WALI SONGO, ahli sejarah, dan pembicara dalam forum tersebut, menyampaikan bahwa;
Dalam naskah DEMAK di sebutkan :
SUNAN MAYANG MADU adalah gelar resmi penganugerahan dari RADEN FATAH selaku sultan demak yang di berikan kepada seorang penguasa di jellag.
penganugerahan gelar tersebut karena di anggap mbah mayang madu berjasa besar dan berperan penting dalam proses penyebaran islam di NUSANTARA pada masa itu.
Bersamaan dengan pemberian gelar tersebut (SUNAN MAYANG MADU) juga di berikan wilayah PERDIKAN JELLAG sebagai wilayah kekuasaan otonom, karena JELLAG sebagai pusat pengkaderan dan penggemblengan pejuang2 agama islam.
Selain itu, Prof agus sunyoto juga menyampaikan bahwa dalam catatan MAHUAN (juru tulis laksamana CHENG HO) pada saat melakukan ekspedisi ke pulau jawa. Saat singgah di laut TUBAN, mahuan mencatat ada ribuan china muslim di tuban (dahulu laut lamongan di sebut tuban) dan daerah tersebut di pimpin oleh adipati muslim.
Sepertinya; Catatan MAHUAN tersebut di perkuat dengan Fakta yang tersisa saat ini,
1. di laut tidak jauh dari makam SUNAN MAYANG MADU Ada pecahan keramik tercecer luas berhektar hektar, yang konon keramik tersebut masa DINASTI MING (masa laksamana CHENG HO Melakukan ekspedisi), masyarakat bajarwati dan sekitarnya menyebut hamparan pecahan keramik tersebut dengan nama karang beling, menurut masyarakat setempat, konon dahulu ada rombongan kapal pecah di daerah tesebut.
2. Masyarakat banjarwati dan sekitarnya juga menamai gunung di timur parkiran SUNAN DERAJAT sebagai gunung dampu awang atau sam po kong (CHENG HO) bahkan lengkap dengan watu gong, watu balai, jangkar kapal dll.
Ternyata mbah mayang madu adalah SUNAN MAYANG MADU
Tokoh besar dan seorang penguasa yang berjasa besar terhadap proses islamisasi di NUSANTARA.
Mbah mayang madu adalah besan RADEN RAHMAT SUNAN AMPEL dan MERTUA RADEN QOSIM SUNAN DRAJAT.. beliau adalah pimpinan di wilayah perdikan jellag (masa majapahit blm ada desa.. yg ada perdikan) dan sebelumnya beragama hindu.. yang meng_islam-kan mbah mayang madu adl Mbah Banjar,, setelah mbah mayang madu masuk islam, beliau mendirikan masjid dan tempat untuk mendalami islam.
karena mbah mayang madu sebagai pemimpin dan mempunyai kekuatan finansial yang bagus, perkembangan islam semakin maju, seiring kemajuan tsb mbah banjar dan Mbah Mayang Madu menghadap Raden Rahmat Sunan Ampel dengan maksud mohon bantuan tenaga pengajar,, oleh raden rahmat d utuslah raden qosim untuk berjuang bersama di wilayah perdikan jellag.. Raden Qosim ahirnya menjadi menantu Mbah Mayang Madu yang di nikahkan dengan Siti Shofiah.. mbah mayang madu semakin giat dan bahkan memberikan segala sesuatunya untuk keperluan syiar islam di wilayah jellag.
Raden Qosim meneruskan cara yg sudah di pakai oleh Mbah Mayang Madu dan mbah banjar dalam melakukan syiar, di antaranya dengan media gending jawa yg di pimpin Ki Ageng Kinanthi.. atas kuasa Alloh Alhamdulillah usaha mbah banjar, mbah mayang madu dan Raden Qosim sunan drajat mengalami kesuksesan yg luar biasa… bahkan sampai sekarang bisa di Buktikan.
Sumber Atlas Walisongo , Almaghfurlah KH Agus Sunyoto & KH Abdul Ghofur Pengasuh PP Sunan Drajat , Saat Al Faqir Tabarukkan Kitab Tarbiyah bersama Sama Santri PP Sunan Drajat Dimasjid Mbah Mayang Madu. 4 Maret 2022.
