Tafan Mahdi memiliki kenangan yang cukup manis saat menjadi wartawan Jawa Pos. Seperti apakah. Berikut ini dikisahkan dalam Catatan Perjalanan menjadi Wartawan Jawa Pos edisi 3 :
Proses seleksi di Jawa Pos sangat ketat. Dari lebih seribu pelamar, dipanggil 100 kndidat untuk seleksi tulis pengetahuan umum, Bahasa Inggris, dan tulis-menulis. Dilkerucutkan menjadi 25 kandidat untuk
seleksi wawancara dan psikotes. Hingga akhirnya dipilih 12 calon reporter Jawa Pos. Sebuah proses rekrutmen yang sangat profesional.
===
Tenggelam dalam keasyikan dunia tulis menulis saat mahasiswa, membuat saya berpikir bahwa menjadi wartawan Jawa Pos adalah cita-cita absolut. Saya tidak mengincar untuk bekerja di media-media besar lain seperti Kompas, Republika, atau Media Indonesia karena tidak ingin tinggal di Jakarta.
Saya mau hidup di Surabaya biar dekat orang tua (Ibu) dan pilihan tempat bekerja paling pas seharusnya adalah Jawa Pos.
Bagi saya, Jawa Pos sebenarnya bukan institusi media pertama tempat saya bekerja. Saat mahasiswa, saya sempat bekerja sebagai reporter di Radio Suara Akbar dan SKM (Surat Kabar Mingguan) Derap Pembangunan Jember.
Namun tidak lama karena oleh kakak yang membiayai kuliah saya dilarang kuliah sambil bekerja. Fokus kuliah saja. Meski singkat, saya sempat melakukan liputan-liputan fenomenal, salah satunya liputan tentang kasus tanah di Jenggawah dan persoalan pencaplokan tanah yang dialami warga Talangsari.
Saat mahasiswa, saya sudah mengenal banyak wartawan media nasional yang ngepos di Jember seperti Dodi dari Harian Kompas, Shodiq Syarif (Jawa Pos), Supianto (Surabaya Post), Aga Suratno (Prosalina), Edison (RRI), Slamet H. Purnomo (LKBN Antara), dan beberapa nama lain.
Di antara beberapa nama itu, yang paling dekat adalah dengan Mas Slamet H Purnomo. Kami beberapa kali liputan bareng, terutama pas meliput kegiatan Bapak Pembantu Gubernur (jabatan ini sekarang sudah tidak ada lagi). Dari Mas Slamet lah saya banyak belajar bagaimana menjadi wartawan yang baik dan penuh integritas.
Berkat kedekatan dengan para wartawan ini, saat KKN laporan saya tentang pencemaran air sungai di Desa Kemiri mendapatkan liputan berita yang cukup besar. Bahkan, sampai Pemkab Jember mendatangkan tangki-tangki air bersih untuk warga Desa Kemiri.
“Pokok’e Dek, lek ngliput hati-hati saja pas wawancara sama Bupati, Kasospol, dan Danrem. Ojok kenceng-kenceng,” pesan Supiyanto kepada saya. Ya waktu itu masih zaman Orde Baru saat pers hidup dalam sistem yang masih “bebas tetapi bertanggung jawab”.
Ada beberapa “kreteg” (firasat) bahwa Jawa Pos akan menjadi tempat bekerja saya setelah lulus kuliah. Tentu selain tulisan-tulisan yang sering dimuat dan kenal beberapa personilnya meski tidak dekat.
Sejumlah kreteg itu antara lain datang dari Bapak mertua kakak saya yang kebetulan juga sering tinggal di Jember, kami memanggil beliau Papi. “Nulisnya dilanjutkan terus ya, siapa tahu lulus bisa diterima di Jawa Pos. Jawa Pos itu media sangat besar dan berpengaruh,” kata Papi dalam sebuah kesempatan. Saya hanya mengangguk dan mengatakan “Aamiin” dalam hati.
Kreteg kedua datang dari Bapak mertua, saat itu tentu saja masih calon mertua. Dalam beberapa kesempatan, Bapak mertua menyampaikan kepada teman-temannya bahwa calon menantunya adalah wartawan Jawa Pos.
Padahal saya masih mahasiswa yang kebetulan tulisannya sering dimuat di Jawa Pos. Mendengar hal ini, saya tidak menyangkal, dan lagi saya “Aamiin”-kan.
Keinginan menjadi wartawan semakin kuat saat mendengar cerita ada senior HMI Jember yang diterima menjadi wartawan Jawa Pos.
Namanya Imron Mawardi (sekarang doktor ekonomi dan menjabat Wakil Dekan Fakultas Teknik Universitas Airlangga). Yang hebat, baru sebulan menjadi wartawan, Imron sudah ditugaskan liputan tiga bulan di Timur Tengah mulai Lebanon, Jordania, hingga Palestina.
Pulang dari Tmur Tengah, sudah bisa beli rumah (dari sisa uang saku selama tugas luar negeri tersebut). Apalagi, saat itu, santer di kalangan mahasiswa bahwa gaji di Jawa Pos cukup besar.
Selain gaji tiap awal bulan, pada pertengahan bulan ada uang TP (tunjangan profesi) yang nilainya Rp 1 juta. Misalnya gaji pokok Rp 1,5 juta plus TP Rp 1 juta, berarti seorang wartawan baru, bisa mendapatkan gaji Rp 2,5 juta per bulan. Bayangkan itu pertengahan tahun 1990an ketika harga motor Honda Astrea hanya sekitar Rp 7,5 juta.
Dan cita-cita menjadi wartawan Jawa Pos semakin dekat menjadi kenyataan saat nama saya masuk dalam 100 shortlisted candidates. Ikut test tulis di Karah Agung, Alhamdulillah lolos lagi dalam 25 besar. Kami dipanggil lagi ke Karah Agung untuk wawancara dengan pimpinan Jawa Pos dan psikotes oleh Prof Darmanto Jatman, Guru Besar Universitas Diponegoro Semarang. Saya lupa, mungkin ketua Tim Seleksi Mas Arif Afandi WakGus Arif Afandi, ingat apakah wawancara dan psikotes itu pada hari yang sama.
Saat wawancara dengan pimpinan Jawa Pos, rasanya seperti diinterogasi. Seingat saya waktu itu ada Arif Afandi, Ali Murtadlo, Mbak Yani (HRD), Budi Kristanto, dan Solihin Hidayat.
“Kenapa Anda melamar menjadi repoter Jawa Pos?” kata salah satu pewawancara. Seingat saya Pak Hin yang tanya.
“Passion saya di dunia jurnalistik dan saya yakin mampu bekerja di bidang ini,” jawab saya.
“Apa buktinya Anda mampu?” Saya pun menunjukkan kliping-kliping artikel
saya yang pernah dimuat di Jawa Pos dan media-media lain. Pewawancara manggut-manggut “Okay, okay…”.
Pewawancara yang lain lantas bertanya, “Anda banyak kenal Tim Redaksi Jawa Pos dong. Siapa nama Kepala Redaksi Jawa Pos?”
Saya jawab, “Solihin Hidayat”.
“Yang mana orangnya?” Saya langsung tanpa ragu menunjuk nama yang dimaksud. Seisii ruangan tertawa dan selesai sudah wawancara saya.
Satu lagi tantangan, psikotes. Saya dapat giliran paling belakang dan ingat persis mendapatkan giliran wawancara jam 11 malam. “Edan, angel tenan iki,” batinku.
Meski lelah, semua pertanyaan Prof Darmanto Jatman saya jawab apa adanya. Terakhir, disuruh menggambar. Saya gambar saja orang pakai rompi dan pohon yang besar. Gak paham juga maksudnya apa. Husnu Mufif
Ada lima orang dari Jember yang waktu itu ikut lolos babak 25 besar. Kami berlima
kembali ke Jember barengan, saat itu tiba di Bungurasih sudah jam 1 malam. Lelah.
Sebulan kemudian, kembali pada kesibukan bekerja di sebuah BMT di Jember, Pak Masyhuri pemilik BMT menyalami saya. “Selamat kamu diterima di Jawa Pos, saya baca di koran tadi pagi”.
Antara percaya dan tidak, pinjam motor teman, saya cari loper koran. Saya beli satu, benar ada nama saya dalam
daftar 12 orang yang diterima sebagai calon reporter. “Alhamdulillah ya Allah”. Saya borong koran tadi, saya langsung ke rumah calon istri Rufi Yenuartik mengabarkan hal baik ini. Saya telepon kakak saya yang di Jember, juga ingin segera mengabari Ibu di Pasuruan.
Mungkin bagi banyak orang kisah ini biasa saja. Tetapi bagi saya pribadi, seorang anak desa yang yatim dengan segala dinamika kehidupannya hingga menjadi sarjana, diterima bekerja di tempat yang sangat diimpikan, seperti berdiri di depan sebuah jendela emas dan bersiap membuka cakrawala dunia. InsyaAllah. (tofan.mahdi@gmail.com/ bersambung)
foto: Saya bersama Ibu dan calon istri (sekarang sudah 22 tahun lebih menjadi istri) usai wisuda sarjana di Kampus UMJ, Januari 1997. (dok. pribadi) Al Fatihah untuk Ibu (wafat 8 Maret 2018 dalam usia 81 tahun)
