
Oleh: Muhammad Faris Rifqi, intelektual rakyat di Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Jember.

Indonesia di masa kini memiliki tantangan yang jelas berbeda dari tahun 1957 -dimana untuk pertama kalinya pasca proklamasi kemerdekaan, seminar sejarah diadakan. Pada tahun tersebut, para pakar sejarah Indonesia mengembangan misi dekolonisasi sehingga penulisan sejarah Indonesia diletakkan dalam perspektif Indonesia-sentris. Namun, saat ini, bangsa Indonesia sudah menyelesaikan dekolonisasinya dan menghadapi tantangan baru yang lebih besar sebagai efek dari kapitalisme modern seperti: bencana ekologis, konflik agraria, ketegangan antara kelas karena ketimpangan sosial yang terjadi amat tajam.
Historiografi Indonesia masa kini harusnya mengemban misi untuk turut berkontribusi dalam merefleksikan problematika tersebut dalam lintasan sejarah Indonesia. Misi ini sebenarnya dapat dimanifestasikan dalam historiografi Indonesia kekinian tanpa harus mengorbankan penelitian ilmiah yang ketat dalam proses rekonstruksinya. Kini, peneliti sejarah dapat memilih beragam tema/topik sejarah yang bersifat nasional maupun lokal dengan tidam hanya mendekati disiplin ilmu-ilmu sosial saja, namun juga bisa melakukan pendekatan environmental sciences, ecology, hingga disiplin ilmu sains lainnya. Hal ini diperlukan, sebab penulisan sejarah kini seharusnya lebih mampu menangkap segi yang lebih luas.
Historiografi Indonesia masa kini dapat bersifat lebih ilmiah tanpa membuat karakternya yang misioner. Dalam arus globalisasi dan gelombang modernisasi yang kian masif berkat perkembangan teknologi sebenarnya dapat menjadi pisau bermata dua terhadap perkembangan penelitian sejarah. Krisis-krisis kemanusiaan dalam rupa politik identitas, ketimpangan kelas yang semakin tajam, hingga perubahan iklim sebagai akibat dari pola perilaku manusia modern kini telah menjadi sasaran misi dari penulisan sejarah itu sendiri. Selain itu, kemajuan teknologi jelas memberikan dampak positif bagi perkembangan sejarah terutama berkaitan dengan dokumentasi historis yang disediakan oleh big data dalam sistem search engine Google akan memudahkan penulis sejarah.
Melalui fitur “Google Arts & Culture” saja telah menyediakan dokumentasi terlengkap dari seluruh penemuan warissn budaya berwujud benda dari beragam tempat di dunia yang dapat diakses dengan mudah oleh siapapun. Berkat kemampuan big data juga, Delpher juga mampu mendokumentasi secara digital berbagai warisan intelektual dan budaya -bahkan sejak abad ke 16- dalam bentuk literatur dan lainnya. Hal ini memungkinkan penyimpanan dari hasil dokumentasi historis yang luas, sebab big data mampu menampungnya tanpa batas di dunia digital tersebut. Itulah salah satu contoh untuk meralat alasan klasik bahwa penelitian sejarah itu sulit, kini tidak lagi sulit berkat adanya kemajuan teknologi ini.
