Ratu Nursy “Cucu”: Mengajak Literasi Nasab dan Pemahaman Ajaran Islam yang Berbasis Dalil

Oleh: Diar Mandala | menaramadinah.com

*Jakarta* – Ratu Nursy, yang akrab disapa “Cucu”, adalah warga Serang yang aktif mengajak masyarakat memahami ilmu nasab dan pentingnya berpegang pada ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis yang sahih.

Ratu Nursy lahir dari pasangan Tb. Engki Pandi asal Serang dan Nyai Entik Jumana asal Pandeglang. Meski terhubung dengan garis keturunan Tubagus di Banten, ia memilih tidak menyematkan gelar kebangsawanan pada namanya. Panggilan “Cucu” yang melekat sejak kecil ia maknai sebagai pengingat untuk tetap rendah hati dan menjaga adab sesuai nilai yang diwariskan leluhur Banten.

“Saya ingin mengajak masyarakat belajar bersama tentang bagaimana ilmu nasab dibahas dalam tradisi keilmuan Islam, dan bagaimana kita bisa membedakan ajaran pokok agama dari pemahaman yang tidak bersandar pada dalil,” ujarnya.

Untuk memperkaya wawasan, Ratu Nursy membaca sejumlah literatur yang membahas pelurusan pemahaman keagamaan, termasuk karya Gus Azis, KH Nur Ihya, dan KH Husnu Mufid. Ia juga mengikuti wacana akademik KH Imaduddin Utsman Al-Bantani terkait standar verifikasi nasab. “Membaca berbagai rujukan membantu kita bersikap lebih teliti dan tidak mudah menerima informasi tanpa dasar,” katanya.

Menurutnya, salah satu tantangan saat ini adalah beredarnya pemahaman keagamaan yang tidak didukung dalil naqli maupun aqli. “Ketika sesuatu disampaikan sebagai bagian dari ajaran Islam padahal tidak ada rujukannya, masyarakat perlu diajak berpikir kritis dan mencari penjelasan dari sumber yang kredibel,” jelasnya.

Ratu Nursy menekankan peran penting forum-forum keagamaan seperti majelis taklim dan pengajian sebagai ruang untuk saling mengingatkan dan meluruskan pemahaman. Ia juga mengingatkan pentingnya menempatkan istilah Ahlul Bait dan Dzuriyat sesuai konteks keilmuan Islam. “Penghormatan kepada keluarga Nabi diwujudkan melalui pengamalan akhlak dan mengikuti sunnah beliau,” tegasnya.

Ia berharap masyarakat semakin terbiasa mengecek informasi keagamaan sebelum meyakininya. “Tujuan saya sederhana: mengajak kita semua kembali pada semangat belajar, bertanya dengan adab, dan menjaga persatuan di atas dasar kebenaran,” tutupnya.