
KEDIRI – Pernahkah Anda bertanya mengapa sebuah organisasi besar bisa terjebak dalam masalah seperti nepotisme, korupsi, dan pragmatisme? Direktur Wahid Institute, Hj. Zanuba Ariffah Chafsoh Rahman—atau yang lebih dikenal sebagai Yenny Wahid—menyuguhkan jawaban sederhana namun kuat: kunci keberhasilan organisasi, khususnya Nahdlatul Ulama (NU), ada pada dua hal utama; transparansi sistem dan keikhlasan individu.
Bayangkan jika setiap keputusan dalam organisasi diambil berdasarkan kriteria yang jelas, terukur, dan disepakati bersama. Tidak ada ruang bagi favoritisme, tukang titip, atau nepotisme—meski itu adalah keluarga sendiri! Yenny mengajak kita semua untuk mewujudkan sistem seperti itu. “Kalau semua sudah sepakat dengan parameter, maka siapa pun yang tidak memenuhi syarat tidak akan bisa lolos. Mau teman, ponakan, bukan masalah,” ujarnya tegas.
Pernyataan tersebut disampaikan Yenny Wahid menjawab pertanyaan peserta saat menjadi narasumber dalam Halaqoh Nasional yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Jawa Timur di Universitas Tri Bakti Lirboyo, Kediri, Minggu (20/6/2026).
Pada kesempatan itu, hadir sejumlah tokoh. Di antaranya, Dr KH Reza Ahmad Zahid (Rektor UIT Lirboyo Kediri), Prof KH Muhammad Afif Hasbullah (Pj Ketua ISNU Jatim), Prof Moh Mas’ud Said (Wakil Ketua Umum PP ISNU), Dr Muhammad Yasin (Kepala Bapeda Pemprov Jatim), Prof Dr A Muhibbin Zuhri (Guru Besar UINSA), Dr. Abdul Ghoffar (Komisioner Ombudsman RI), dll. Dihadiri ratusan kader ISNU, baik dari Jatim maupun perwakilan PW ISNU se-Indonesia.
Namun transparansi saja tidak cukup. Yenny mengingatkan betapa krusialnya niat dan keikhlasan dalam berorganisasi. NU, katanya, bukanlah ajang untuk mencari posisi semata. “Banyak yang pakai NU cuma buat cari hidup, eksis, nyalon, sampai dapat proyek,” kata sosok yang juga putri bergelar dari Gus Dur ini. Tapi NU adalah ‘malati’—bunga indah yang hanya akan mekar subur jika dirawat dengan ketulusan dan kejujuran.
Inilah panggilan bagi kita semua: jangan mengejar posisi, tapi kejarlah karya dan manfaat nyata bagi umat. Yenny membuktikan dengan kisahnya sendiri bahwa jabatan bukan segalanya. Meskipun pernah ditawari posisi penting termasuk jadi menteri, ia memilih bergelut di ranah yang mempertahankan nilai dan integritas, membantu tanpa terikat kekuasaan. “Kalau posisi itu diatur oleh Allah, usaha setengah mati pun belum tentu dapat,” ujarnya.
Lalu bagaimana memilih pemimpin? Yenny mengingatkan, pilihlah yang benar-benar ikhlas dan berintegritas. Tolak segala bentuk korupsi yang gagal disamarkan dengan amal sosial atau sumbangan. “Jangan mau menerima pejabat yang korup lalu bangun masjid atau jadi pengurus lagi,” tegasnya.
Yenny juga menekankan pentingnya sikap tegas dari NU dalam menegakkan sanksi. Keberanian dan kedisiplinan moral adalah jalan terjal menuju masa depan organisasi yang bersih dan dipercaya.
Tak hanya bicara soal internal NU, Yenny membuka mata kita tentang pentingnya kepekaan terhadap kondisi bangsa. Ia mempertanyakan apakah NU sudah aktif memberi pandangan dan rekomendasi soal ekonomi nasional, khususnya dalam menjaga stabilitas rupiah. Karena tanpa stabilitas yang nyata, kepercayaan publik dan investor akan terus goyah.
Kini saatnya kita renungkan. Apakah kita sudah menjadi bagian dari NU yang ikhlas mengabdi? Sudahkah kita mendukung transparansi sebagai perisai dari segala praktek buruk? Mari bijak memilih pemimpin yang benar-benar mengayomi dan mempersatukan.
Ingatlah pesan Yenny Wahid: “Jangan sibuk rebutan posisi, tapi sibuklah berkarya.” Karena hanya dengan karya yang ikhlas, barokah dan kehormatan akan menghampiri kita. Jadilah generasi pejuang nilai dan integritas yang menjaga warisan para ulama dan menyongsong masa depan bangsa dengan penuh harap dan manfaat.
Mari bergerak bersama, menegakkan kejujuran, membangun sistem yang adil, dan membebaskan NU serta bangsa dari noda pragmatisme dan korupsi. Masa depan kita ada di tangan kita—mulailah dari hati dan langkah kecil Anda hari ini!.*Imam Kusnin Ahmad*
