Menjadi Hamba Pengharap, Bukan Penentu .

 

Oleh: Dr. H. Moh. Rifa’i, M.Pd & Al – Faqir Sukma Sahadewa.

Dalam kehidupan ini, manusia sering kali merasa mampu merencanakan segalanya. Jabatan dirancang, usaha diperjuangkan, perjalanan disusun, bahkan ibadah pun terkadang dihitung seolah pasti diterima. Padahal sejatinya, manusia hanyalah pengharap, bukan penentu. Penentu seluruh takdir, hasil, dan penerimaan amal hanyalah Allah SWT.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa di atas segala rencana manusia, ada kehendak Allah yang paling menentukan.

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS. At-Takwir: 29)
Ayat ini mengajarkan bahwa manusia hanya mampu berikhtiar dan berharap. Tidak ada satu pun yang terjadi tanpa izin Allah. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh sombong terhadap amal, ilmu, maupun ibadahnya. Sebab belum tentu apa yang dilakukan diterima oleh Allah SWT.

Dalam kajian para ulama disebutkan, orang-orang saleh terdahulu justru lebih takut amalnya tidak diterima dibanding bangga terhadap banyaknya ibadah. Mereka memperbaiki niat, menjaga keikhlasan, dan terus berdoa agar amal diterima.
Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 27)

Ayat ini menjadi renungan besar bagi setiap muslim. Banyak orang mampu shalat, bersedekah, berpuasa, bahkan berhaji dan umroh berkali-kali. Namun yang paling penting bukan sekadar banyaknya amal, melainkan diterima atau tidaknya amal tersebut di sisi Allah.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar seorang muslim tidak merasa aman terhadap amalnya sendiri. Dalam sebuah hadist disebutkan:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, memperbaiki niat menjadi kunci utama dalam setiap ibadah. Haji bukan sekadar perjalanan ke Tanah Suci. Umroh bukan sekadar memakai pakaian ihram dan thawaf mengelilingi Ka’bah. Semua itu adalah perjalanan hati menuju Allah SWT.

Betapa banyak orang yang mampu datang ke Makkah dan Madinah, namun belum tentu mendapatkan kemabruran. Sebaliknya, ada orang yang berangkat dengan penuh air mata, membawa dosa, berharap ampunan Allah, lalu pulang dengan hati yang lebih bersih dan lebih dekat kepada Rabb-nya.

Haji dan umroh sejatinya adalah panggilan Allah. Tidak semua yang kaya dipanggil, dan tidak semua yang sehat mampu berangkat. Ada orang yang menabung sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun demi memenuhi panggilan suci itu. Semua terjadi karena rahmat dan izin Allah semata.
Rasulullah ﷺ bersabda:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Umroh ke umroh berikutnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Namun kemabruran bukan hanya terlihat saat berada di Tanah Suci. Tanda diterimanya haji dan umroh justru tampak setelah pulang: akhlak yang semakin baik, hati yang semakin lembut, ibadah yang semakin istiqamah, serta semakin takut berbuat dosa.

Maka jangan pernah merasa menjadi penentu. Kita hanyalah hamba yang berharap. Berharap doa dikabulkan, berharap amal diterima, berharap dosa diampuni, dan berharap Allah masih memberikan kesempatan untuk sujud serta kembali ke rumah-Nya.

Karena sesungguhnya, tidak ada yang paling indah selain menjadi hamba yang terus berharap kepada Allah SWT.