Implementasi Pembelajaran Mendalam melalui Outing Class KAI

*Oleh: Lely Widorini Kurniawati, M.Pd*
Kepala Sekolah TK Imam Syafii Jember & Mahasiswi Doktoral S3 PAUD Universitas Negeri Surabaya.

 

Pada hari Kamis, 7 Mei 2026, TK Imam Syafii Jember di bawah naungan Yayasan Imam Syafii yang dipimpin oleh Ustad Muhammad Jawas, Lc serta di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Ibu Lely Widorini Kurniawati, M.Pd, melaksanakan kegiatan Outing Class Edukasi Pembelajaran bersama PT KAI. Dengan rute perjalanan dari Stasiun Jember menuju Stasiun Ketapang Banyuwangi. Kegiatan ini sebagai bentuk implementasi pembelajaran kontekstual berbasis pengalaman nyata (experiential learning). Dalam mendukung penguatan pembelajaran mendalam pada anak usia dini.
Kegiatan Outing Class Edukasi Pembelajaran bersama PT KAI merupakan implementasi pembelajaran mendalam (deep learning) yang dikembangkan melalui pendekatan pembelajaran kontekstual (contextual learning) dan pengalaman langsung (experiential learning). Pendekatan ini memberikan kesempatan kepada murid-murid untuk memperoleh pengalaman belajar autentik melalui interaksi nyata dengan lingkungan sosial dan kehidupan sehari-hari. Dalam perspektif pendidikan anak usia dini, pembelajaran kontekstual mampu membantu anak membangun makna belajar melalui pengalaman konkret, observasi, eksplorasi, serta keterlibatan aktif dalam situasi nyata sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menyenangkan (Kolb, 1984; Jannah, 2026).
Sejak pagi hari, Murid-murid TK Imam Syafii Jember datang ke Stasiun Jember dengan penuh antusias didampingi guru dan wali murid. Pada tahap awal kegiatan, anak dikenalkan secara langsung terhadap budaya disiplin, tata tertib di area publik, kebiasaan antre, menjaga kebersihan, serta pentingnya menghargai waktu sebagai bagian dari pendidikan karakter Islami yang menjadi ciri khas TK Imam Syafii Jember. Pengalaman belajar yang berlangsung secara nyata tersebut sejalan dengan prinsip meaningful learning yang menekankan keterhubungan antara materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari peserta didik (Hasiana, 2026).

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan proses pembagian tiket kereta api yang sebelumnya sudah dibeli secara kolektif. Pada tahap ini, anak belajar mengenal fungsi tiket sebagai identitas perjalanan sekaligus memahami prosedur keberangkatan secara sederhana. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendampingi anak dalam memahami setiap tahapan kegiatan dengan pendekatan yang aktif, reflektif, dan menyenangkan. Melalui aktivitas tersebut, anak tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga membangun kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan memecahkan masalah sederhana melalui pengalaman langsung di lapangan (Sakinah, 2026).
Selanjutnya, peserta didik melakukan proses scan barcode tiket pada gerbang pemeriksaan stasiun. Aktivitas ini menjadi media pengenalan teknologi digital sederhana pada anak usia dini. Anak memperoleh pengalaman nyata mengenai pemanfaatan teknologi dalam mendukung ketertiban, keamanan, dan pelayanan publik. Pembelajaran berbasis pengalaman seperti ini dinilai efektif dalam meningkatkan keterlibatan belajar anak melalui aktivitas yang kontekstual dan interaktif (Mahardhika, 2025).
Setelah memasuki area peron, peserta didik diajak mengamati berbagai aktivitas di lingkungan stasiun, mulai dari keberangkatan kereta api, profesi petugas stasiun, suara pengumuman keberangkatan, hingga aturan keselamatan selama berada di area transportasi umum. Guru memfasilitasi proses pembelajaran melalui kegiatan observasi, tanya jawab, dan diskusi sederhana yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak usia dini. Pendekatan ini mendukung terciptanya pembelajaran reflektif, interaktif, dan eksploratif yang menjadi bagian penting dalam implementasi deep learning pada pendidikan anak usia dini (Implementing a Deep Learning Approach to Foster Social Learning, 2026).
Ketika kereta mulai bergerak menuju Banyuwangi, suasana pembelajaran berlangsung semakin hidup dan bermakna. Anak-anak membaca doa naik kendaraan darat, dzikir dipagi hari dan menikmati pengalaman naik kereta api sambil mengamati berbagai fenomena lingkungan seperti persawahan, pegunungan, permukiman masyarakat, serta keindahan alam sepanjang perjalanan. Momentum ini dimanfaatkan guru untuk mengembangkan aspek bahasa, kognitif, sosial emosional, dan spiritual anak melalui dialog sederhana serta penanaman rasa syukur atas ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pembelajaran berbasis pengalaman langsung terbukti mampu memperkuat keterlibatan emosional dan pemahaman anak terhadap lingkungan sekitarnya (Kolb, 1984).
Sesampainya di Stasiun Ketapang, murid-murid membaca doa singgah disuatu tempat, membaca doa sebelum belajar dan membaca ayat qursi. Setelah rangkaian pembukaan kegiatan pembelajaran selesai dilaksanakan, murid-murid belajar mengenal kota tujuan serta memahami konsep perjalanan yang memiliki titik keberangkatan dan tujuan akhir. Selain itu, anak dilatih untuk tetap tertib, mandiri, serta bertanggung jawab terhadap barang bawaannya masing-masing. Pengalaman autentik tersebut menjadi bagian penting dalam membangun karakter disiplin dan tanggung jawab sejak usia dini melalui aktivitas nyata yang terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari.
Setelah seluruh rangkaian kegiatan edukatif selesai dilaksanakan, peserta didik kembali melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Jember dengan mengikuti prosedur yang sama, mulai dari pemeriksaan tiket, menunggu kereta dengan tertib, hingga kembali naik kereta api menuju kota asal. Pengalaman perjalanan pulang-pergi ini memberikan penguatan pembelajaran yang lebih mendalam karena anak mengalami secara langsung keseluruhan proses perjalanan secara utuh dan berkesinambungan.
Melalui kegiatan Outing Class Edukasi Pembelajaran bersama PT KAI ini, TK Imam Syafii Jember berupaya menghadirkan pembelajaran anak usia dini yang aktif, kontekstual, bermakna, dan selaras dengan nilai-nilai karakter Islami. Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan sikap disiplin, mandiri, tanggung jawab, kemampuan sosial, serta literasi teknologi dasar pada peserta didik melalui pengalaman belajar yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan nyata.

*Daftar Pustaka*
Hasiana, I. (2026). Pendekatan deep learning dalam menguatkan pembelajaran bermakna pada pendidikan anak usia dini. Jurnal Manajemen Pendidikan.

Jannah, B. T. M. (2026). Deep learning in early childhood education: A systematic review. NAKKANAK: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini.

Kolb, D. A. (1984). Experiential learning: Experience as the source of learning and development. Prentice Hall.

Mahardhika, I. E. P. (2025). Visual and contextual learning for deep learning education. Journal of Deep Learning. https://doi.org/10.23917/jdl.v1i1.11556

Sakinah, V. I. (2026). Implementasi pembelajaran mendalam pada pendidikan anak usia dini berbasis kontekstual. Sosioedukasi.

Wirawan, P. R. (2026). The effect of deep learning-based contextual problem on meaningful learning experiences. Jurnal Phi.

Wikipedia contributors. (2025). Contextual learning. In Wikipedia.

Wikipedia contributors. (2025). Experiential learning. In Wikipedia.