Selamat Ya Sahabatku Prof. Dr. Prima Retno Wikandari, M Si

Ir. Wahyu Samio Widodo.

Kenangan lebih 46 tahun lalu, terputar lagi di memori, seperti baru kemarin terjadi, ketika itu saya duduk sebangku dengannya selama di kelas 3-B, SMP Katolik ‘Maria Fatima’ Jember.

Pada hari Selasa, 10 Februari 2026, di Graha Sawunggaling Universitas Negeri Surabaya (Unesa), teman sebangku saya, berhasil meraih prestasi tertinggi dalam dunia pendidikan.
Dia telah dikukuhkan sebagai Guru Besar di Unesa,
Dia adalah *_Prof. Dr. Prima Retno Wikandari, M.Si_*, dan dia telah menyampaikan pidato pengukuhan Profesornya dalam bidang _’Pangan Fungsional Fermentasi’_ dengan judul : *”Dari Mikroba Indigenous ke Pangan Fungsional Fermentasi. Peran _Lactobacillus plantarum B1765_ dalam Penguatan Kesehatan dan Kemandirian Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal”*.

Menurut International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2024, sekitar 589 juta orang dewasa di dunia, hidup dengan Diabetes, dan angka ini diproyeksikan meningkat tajam menjelang pertengahan abad ini.
Di Indonesia sendiri, prevalensi diabetes melonjak dari 6,9% pada 2013, menjadi 10,9% pada 2018, dan lebih dari 11,3% dari populasi dewasa, kini hidup dengan Diabetes, sekitar 20,4 juta orang.
Jika tren ini tidak diatasi, Indonesia diperkirakan akan memiliki 28,6 juta penderita Diabetes tahun 2050, menempatkan Indonesia diperingkat kelima secara global.

Dari hasil penelitiannya memberikan harapan sebagai upaya terobosan baru bagi pengobatan Diabetes Mellitus tipe 2 (DMT-2).

Melihat potensi ini, sudah waktunya kita melakukan eksplorasi potensi sumber pangan lokal kekayaan Indonesia.
Melalui pengembangan pangan fungsional fermentasi, dapat melengkapi strategi Kesehatan Masyarakat yang lebih preventif, terutama dalam mengatasi masalah penyakit Degerative Diabetes Mellitus Type 2.

Bukan hanya hasil penelitiannya yang membuat decak kagum pada sahabat saya ini, tapi ketekunan dan kerja keras telah mampu dan berhasil mengalah keterbatasannya.

Di usia 3 tahun, sahabat saya ini terkena Polio, tapi serangan polio yang mengakibatkan gangguan pada kakinya, tidak menyurutkan semangat belajar hingga mencapai prestasi tertinggi di dunia pendidikan.

Selama setahun saya duduk sebangku dengannya, saya bisa melihat dan menilai, bahwa sahabat saya ini memiliki kemampuan IQ yang di atas rata², ditambah dengan ketekunan dan ketelitiannya dalam mengerjakan sesuatu.

Pertumbuhan kaki yang tidak sempurna akibat serangan Polio, dan membuatnya harus berjalan pincang, tidak mampu membatasi tekadnya untuk menyelesaikan S1 nya di Ilmu Kimia ITS, S2 nya di Ilmu Pangan IPB, dan S3 nya di Ilmu Pangan UGM, dan semuanya ditunjukkan dengan prestasi kelulusannya yang sangat cemerlang.

Mencerdaskan anak bangsa dengan ter-pincang², kemudian menggunakan tongkat, dan terakhir menggunakan kursi roda, menjadi ciri khasnya, dan itu menjadikannya sangat dicintai oleh para Mahasiswanya.

Pidato Pengukuhannya, ditutup dengan sederet kalimat yang bisa menjadi motivasi bagi siapa saja yang sedang menyelesaikan studinya :
*_Sopo sing têkun, bakal têkan, nadyan nganggo têkên_*
_(Siapa yang tekun, akan sampai, walau harus menggunakan tongkat)_.

Selamat ya, Prof. Dr. Prima Retno Wikandari, M,Si,
In Syaa Allaah engkau akan senantiasa mampu mengemban Amanah yang berat di pundak mu sebagai seorang Guru Besar,
In Syaa Allaah ilmumu menjadi lebih Barokah dan bermanfaat selalu untuk kemaslahatan.

Aamiin Yaa Rabballaalamiin.

Surabaya, 10 Februari 2026.
Teman sebangkumu yang sangat bangga dengan pencapaian prestasi pendidikanmu,
*_Wahyu Samio Widodo_*