
KH Imadudin Usman Al Bantani sudah tidak asing ketenarannya saat ini sebagai tokoh muda Islam yang mampu mengungkap siapa sebenarnya Habib Baalawi itu. Berikut ini laporan Pemred menaramadinah.com Drs. Husnu Mufid, M PdI :
Sosok KH. Imaduddin Utsman Al Bantani seorang pembaharu dan pencerah di era reformasi. Pemikirannya dan pendapatnya mampu mempengaruhi jutaan umat Islam di Indonesia. Khususnya kalangan Jamiyah Nahdlatul Ulama Kultural.
Pendapatnya juga mulai diakui ulama dunia dan struktur PBNU, PWU NU, PC NU hingga Ranting di kota maupun desa. Memang sungguh luar biasa.
Oleh karena itu, sangat banyak Umat Islam menggelari sebagai seorang Mujaddid setelah meninggalnya Gus Dur. Dengan bukti mampu membongkar kepalsuan Habib Baalawi sebagai cucu Nabi Muhammad SAW.
Pendapatnya melalui tesis hingga kini belum bisa terbantahkan oleh para Habib Baalawi maupun oleh Ribitoh Alawiyah, organisasi pencatat Nasab Baalawi.
Begitulah dengan Rumail timteng Habib Baalawi tidak mempu mengugurkan thesis KH. Imadudin Utsman Al Bantani. Meski punya referensi cukup banyak.
Keberadaan KH. Imadudin Utsman Al Bantani kini mendapat dukungan yang sangat kuat dari Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabililla (PWI LS).
Dimana PWI LS ini sanggup mengawal Beliaunya dimanapun berada. Hingga umat Islam benar benar mengakui bahwa Habib Baalawi bukan keturunan Rasulullah.
“Ya nantinya tidak percaya terhadap Habib Baalawi bukan keturunan Rasulullah akan mencapai 90 persen. Sehingga Jamiyah Nahdlatul Ulama terbebas dari penjajahan Spiritual. Karena memang benar benar bukan Duriyah Nabi Muhammad. Hanya ngaku ngaku saja ,” ujar KH. Imaduddin Utsman Al Bantani.
Beliau juga seorang ulama muda Banten yang memiliki latarbelang Pendidikan formal dan di sejumlah pondok pesantren yaitu :
Pendidikan Formal yang ditempuh:
Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kresek III;
Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Kresek; Madrasah Aliyah (MA) Ashhabul Maimanah di Tirtayasa;
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten di Serang (sekarang UIN Banten, Sarjana Agama); Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta (S2 Magister Agama).
*Pendidikan Pesantren:*
Pondok Pesantren Ashhabul Maimanah di Sampang, Tirtayasa;
Pondok Pesantren Riyadl al-Alfiyah di Pandeglang;
Pondok Pesantren Daar al-Hikmah di Cakung, Carenang;
Pondok Pesantren At-Thohiriyah di Kaloran, Kota Serang;
Pondok Pesantren al-Hidayah di Cisantri, Pandeglang;
Pondok Pesantren Cidahu, Pandeglang; Pondok Pesantren Daar al Falah, Rengas Dengklok, Karawang;
Pondok Pesantren al-Wardayani di Sukabumi; Pondok Pesantren Pertapan di Binuang, Serang; Pondok Pesantren Gaga di Kronjo; Pondok Pesantren Buni Ayu di Balaraja;
#Ruwaq al-Azhar di Iskandaria, Mesir;
Juga memiliki *Karya tulis:* yang luar biasa banyaknya diantaranya :
Kitab al-Fikrah al-Nahdliyyah fi Ushuli wa Furu’I ahl al Sunnah wa al Jama’ah (Bahasa Arab: Fikih, Akidah dan ke-NU-an); al-Syarah al-Maimun fi Syarh al-Jawhar al-Maknun (Bahasa Arab: Ilmu Balagoh); al-Ibanah fi Syarh Matan al-Rahbiyyah (Bahasa Arab: Ilmu Waris); al-Jalaliyah fi al-Qowaid al-Fiqhiyyah (Bahasa Arab: Kaidah-Kaidah Fikih); Talkhis al-Hushul fi Syarh Nadzam al-Waraqat fi Ilm al-Ushul (Bahasa Arab: Ushul Fikih); al-Fath al-Munir fi Syarh Nadzam al-Tafsir li al-Syaikh al-Zamzami (Bahasa Arab: Ilmu Tafsir); Nihayat al-Maqshud fi Syarh Nadzam al-Maqshud (Bahasa Arab: Ilmu Shorof); al-Anwar al-Bantaniyah fi Ikhtilaf Ulama al Bashrah wa al-Kufah (Bahasa Arab: Ilmu Nahwu); al-Burhan ila Tajwid al-Qur’an (Bahasa Arab: Ilmu Tajwid); al-Ta’aruf fi Muqaddimat ilm al-Tasawwuf (Bahasa Arab: Ilmu Tasawuf); al-Nail al-Kamil fi Syarh Matn al-Awamil (Bahasa Arab: Ilmu Nahwu); al-Qawl al-Mufid fi Hukmi al-Mukabbir al-Shaut fi al-Masajid (Bahasa Arab: Fikih Tentang Hukum Speaker); Al-Qawl al-Labib fi Hukm al-Talaqqub bi al-Habib (Bahasa Arab: Fikih Tentang Hukum Bergelar Habib); Tuhfat al Nadzirin (Bahasa Jawa tulisan pegon: Ilmu Mantiq); Fath al-Gafur fi Abyat al Buhur (Bahasa Arab: Wazan syair arab); Ilmu Waris Terjemah Matan al-Rahbiyah (Bahasa Indonesia: Ilmu Waris); Sejarah Pendiri Tangerang; Raden Aria Wangsakara (Bahasa Indonesia: Sejarah); Dari Banten Ku Sebut Namamu (Bahasa Indonesia: Novel).
Dengan demikian tingkat pendidikan dan keulamaannya tidak diragukan lagi. Beliau pelanjut KH. Nawawi Al Bantani.
