*NU Selalu Diuji: Perjalanan Seratus Tahun Menjaga Akar dan Mengawal Peradaban* .

Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH Wartawan Senior. Aktif di PW ISNU Jawa Timur.

SEJAK AKHIR 2025 hingga kini, tubuh Nahdlatul Ulama (NU) mengalami dinamika internal yang tak luput dari sorotan publik—seolah babak baru ujian yang menguji kekuatan ikatan sejarah dan nilai-nilai yang dibawa selama seratus tahun.

Namun seperti selalu terjadi dalam perjalanan panjangnya, NU kembali menemukan titik temu dan menyambut usia satu abad dengan langkah yang tetap kokoh. Di hari H Harlah NU ke-100 Masehi (31 Januari 2026), kita perlu menengok kembali jejak panjang organisasi Islam terbesar di dunia ini, yang bukan hanya bertahan dari ujian zaman, tapi juga terus menjadi bagian tak terpisahkan dari peradaban Indonesia.

*Perjuangan Lahirnya NU: Menjawab Ujian Pemikiran dan Identitas*

Satu abad bukanlah sekadar angka untuk NU. Di balik usianya yang panjang tersimpan luka perjuangan, doa yang tak putus, dinamika yang menguji solidaritas, air mata yang mengalir bersama derita rakyat, tawa yang menyatu dengan kegembiraan kemerdekaan, dan stamina luar biasa dari para kiai yang menggerakkan organisasi ini dari zaman kolonial hingga era digital.

NU lahir pada 31 Januari 1926 di Surabaya, jauh sebelum negara Indonesia resmi berdiri. Pada masa itu, ketika konsep bangsa Indonesia masih berkembang di kalangan para pejuang, NU telah muncul membawa misi penting: menjaga agar Islam tidak tercerabut dari akar budaya dan tanah air tempat ia tumbuh. Para Muazis terutama, KH Muhammad Hasyim Asy’ari, tidak mendirikan organisasi semata-mata sebagai bentuk aktivisme semata, melainkan dari kegelisahan mendalam terhadap arus pemikiran yang tengah menguji landasan keyakinan umat. Saat itu, aliran modernisasi Islam dan pengaruh Salafi dari organisasi seperti Al-Irsyad mengusung semangat pemurnian yang kerap memandang tradisi lokal sebagai bid’ah. NU hadir sebagai penyeimbang—mempertahankan mazhab Syafi’i, teologi Asy’ariyah, dan tasawuf ala Al-Ghazali serta Junaid al-Baghdadi, dengan prinsip bahwa Islam bisa bersih tanpa harus kering dari nilai-nilai lokal.

Sebelum berdiri sebagai NU, telah ada embrio pergerakan seperti Tashwirul Afkar (1914), Nahdlatul Wathon (1916), dan Nahdlatut Tujjar (1918) yang digagas KH Wahab Chasbullah—semua lahir bukan dari ruang rapat mewah, melainkan dari kegigihan kaum sarungan yang tak ingin kehilangan identitas di tengah ujian pemikiran.

Lahirnya NU adalah jawaban konkret terhadap ujian zaman yang mengancam untuk memisahkan agama dari akar budaya lokal, dengan landasan yang kuat pada tradisi yang telah terbukti mampu menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia.

*Zaman Penjajahan: Ujian Ketahanan dan Strategi Bertahan*

Zaman penjajahan Belanda menjadi babak pertama ujian bagi NU. Daripada mengeluarkan proklamasi pahlawan, organisasi ini bekerja secara sunyi melalui dakwah dan pendidikan, memperkuat basis pesantren di Jawa Timur dan wilayah sekitarnya. Pada 1928, NU membuat keputusan revolusioner dengan mengizinkan khotbah Jumat dalam bahasa Jawa—langkah yang kini terlihat biasa, tapi pada masa itu menjadi bukti bahwa agama harus mudah dipahami oleh rakyat, bukan hanya dilantunkan dalam bahasa asing.

Tahun 1937, NU bergabung dalam Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) bersama organisasi Islam lain, meskipun dinamika hubungan dengan Muhammadiyah terkadang menjadi ujian seperti saudara yang berbeda pendapat tapi tetap satu rumah. Ketika Jepang datang pada 1942 dan mengganti MIAI menjadi Masyumi, KH Hasyim Asy’ari menjabat sebagai ketua nasional, sementara KH Wahid Hasyim memimpin secara praktis. Meskipun Jepang berusaha memanfaatkan organisasi Islam, NU justru memanfaatkan kesempatan itu untuk bertahan dan menyusun langkah-langkah perlawanan di tengah ujian penjajahan baru.

Di bawah penjajahan, NU menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menghadapi ujian dengan memilih strategi bertahan yang fokus pada pemberdayaan rakyat melalui pendidikan dan dakwah, sekaligus menyusun perlawanan yang cerdas tanpa mengorbankan eksistensi organisasi.

*Perjuangan Kemerdekaan: Ujian Mempertahankan Keutuhan Bangsa*

Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, NU tidak berhenti pada perayaan semata. Pada Oktober tahun yang sama, resolusi jihad dikumandangkan—melawan kembalinya penjajah Belanda bukan sekadar kata-kata, melainkan kewajiban yang dijalankan oleh pasukan Hizbullah dan Sabilillah.

Santri yang sebelumnya menghafal kitab kuning kini memanggul senjata untuk memastikan republik ini tetap berdiri. Pada saat yang sama, KH Wahid Hasyim berkontribusi dalam merajut fondasi negara, terlibat dalam perdebatan Piagam Jakarta dan penyusunan Pancasila—membuktikan bahwa NU tidak hanya peduli pada urusan agama, tapi juga masa depan bangsa secara keseluruhan di tengah ujian membangun negara baru.

Perjuangan kemerdekaan menjadi ujian besar yang membuktikan bahwa NU tidak hanya berperan sebagai organisasi agama, tapi juga sebagai bagian integral dari perjuangan membangun dan mempertahankan keutuhan bangsa Indonesia.

*Era Politik: Ujian Menyeimbangkan Peran dan Prinsip*

Pada 1952, NU memutuskan untuk terjun langsung ke politik praktis dengan memisahkan diri dari Masyumi. Pada Pemilu 1955, organisasi ini meraih prestasi gemilang dengan memperoleh 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante, serta suara nasional sebesar 18,41 persen—bukti bahwa NU bukan sekadar lembaga pengajian, tapi juga memiliki kekuatan yang dipercaya rakyat.

Di era Demokrasi Terpimpin, NU ikut terlibat dalam skema NASAKOM Soekarno, kemudian menghadapi tekanan politik selama Orde Baru yang memaksa NU bergabung dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada 1973.

Dinamika internal pun muncul sebagai ujian antara kelompok yang ingin tetap berpolitik dan yang ingin kembali ke akar perjuangan. Hingga akhirnya, pada Muktamar Situbondo 1984, NU mengambil keputusan bersejarah untuk kembali ke Khittah 1926—menempatkan dakwah dan kerja sosial sebagai fokus utama, sementara politik dibiarkan pada individu anggota.

Dari fase ini muncul sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)—figur kritis, unik, dan sering menjadi ujian bagi kekuasaan dengan pemikirannya yang terbuka.

Era politik menjadi ujian bagi NU untuk menemukan posisi yang tepat, hingga akhirnya memutuskan kembali ke prinsip dasar yang lebih fokus pada dakwah dan kesejahteraan masyarakat, tanpa meninggalkan kontribusi pada kehidupan berbangsa dan bernegara.

*Reformasi hingga Kini: Ujian Adaptasi dan Pertumbuhan*

Reformasi 1998 membuka bab baru bagi NU. Meskipun tidak berpolitik sebagai organisasi, NU melahirkan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Gus Dur terpilih sebagai Presiden RI ke-4 pada 1999—menulis sejarah bahwa seorang santri pernah memimpin republik. Setelah itu, NU terus berkembang dengan kepemimpinan KH Hasyim Muzadi, KH Said Aqil Siroj, KH Ma’ruf Amin, hingga kini Gus Yahya Cholil Staquf. Dinamika internal tidak pernah absen sebagai bagian dari ujian organisasi, mulai dari perdebatan tentang konsep Islam Nusantara hingga dinamika antara Syuriyah dan Tanfidziyah sepanjang tahun 2025 yang melibatkan perdebatan AD/ART dan proses islah yang akhirnya menemukan titik damai menjelang akhir tahun. NU memang selalu diuji, tapi selalu memiliki “rem darurat” berupa para kiai sepuh yang mampu menyatukan kembali barisan.

Hingga tahun 2026, NU diperkirakan memiliki sekitar 159 juta pengikut dan menjadi organisasi Islam terbesar di dunia. Struktur organisasinya sangat luas—mulai dari PBNU hingga tingkat wilayah dan cabang, dengan badan otonom seperti GP Ansor, Muslimat NU,ISNU, IPNU, Pagar Nusa,Jatman dan PMII. Di bidang pendidikan, NU mengelola 183 perguruan tinggi resmi di bawah Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU), selain ribuan pesantren, madrasah, dan sekolah yang beroperasi dari gotong royong.

Survei LSI Denny JA tahun 2023 mencatat bahwa 56,9 persen umat Islam Indonesia mengidentifikasi diri sebagai bagian dari NU, naik drastis dari 27,5 persen pada 2005. Angka ini bukan hanya menunjukkan pertumbuhan kuantitatif, tapi juga bahwa NU terus mengakar dan menjadi pilihan bagi masyarakat meskipun selalu diuji zaman.

Sejak reformasi hingga kini, NU telah berhasil menghadapi berbagai ujian dengan tetap berkembang dan beradaptasi, sekaligus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan sebagai bukti bahwa nilai-nilai yang dibawanya tetap relevan bagi kehidupan masyarakat Indonesia.

*Perayaan 1 Abad NU: Ujian untuk Menjadi Jangkar Moral*

Dengan tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”, Harlah NU ke-100 akan diisi dengan doa, istighosah, dan ingatan kolektif di Istora Senayan. Tak ketinggalan, sebagai barometer NU se-Indonesia, PW-NU Jawa Timur juga akan menggelar Mujahadah Kubro Peringatan 1 Abad Nahdlatul Ulama di Stadion Gelora Gajayana Kota Malang pada 7-8 Februari 2026, dengan inti acara berlangsung pada tanggal 8 Februari mulai pukul 01.00 WIB. Acara ini diperkirakan akan dihadiri puluhan ribu jamaah dari berbagai wilayah di Jawa Timur dan luar daerah, menjadi bukti bahwa ujian yang dilalui tidak pernah menyurutkan semangat persatuan.

Untuk menunjang kelancaran acara, Pemerintah Kota Malang telah mempersiapkan berbagai antisipasi, termasuk rekayasa lalu lintas di 12 ruas jalan sekitar lokasi seperti Jalan Besar Ijen, Jalan Semeru, dan Jalan Willis, yang diberlakukan mulai Sabtu (7/2) pukul 12.00 WIB hingga Ahad (8/2) pukul 20.00 WIB. Selain itu, disiapkan juga 48 titik parkir strategis dan sekitar 120 personel untuk mengatur lalu lintas, serta 1.500 personel Banser dengan dukungan aparat kepolisian untuk pengamanan.

PERAYAAN SERATUS tahun NU bukan hanya momen merayakan prestasi, tapi juga menjadi ujian baru untuk tetap menjadi jangkar moral bangsa dan mengawal Indonesia menuju peradaban yang lebih mulia.

NU BUKAN organisasi yang sempurna—ia penuh dengan dinamika, peristiwa yang menguji, dan perdebatan yang kadang panas. Namun justru di situlah terletak kekuatannya: NU hidup karena ia manusiawi, mampu belajar dari setiap ujian dan selalu kembali ke niat awal yang dibawa sejak tahun 1926.

Seratus tahun NU bukan tentang keberhasilan menghindari ujian, melainkan tentang kemampuan untuk tetap berdiri tegak dan menjadi jangkar moral bangsa di tengah badai zaman. Acara perayaan di tingkat pusat dan daerah menjadi bukti bahwa NU tidak hanya turut merayakan perjalanan seratus tahun, tapi juga terus menjadi bagian penting dalam menggerakkan semangat persatuan dan dakwah bagi seluruh rakyat Indonesia.*Wallahu A’lam Bisshawab*