
JAKARTA –Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani menyatakan bahwa bangsa Indonesia memiliki utang budi kepada Nahdlatul Ulama (NU).
“Barangkali itulah yang menyebabkan kita masih kuat, barangkali itulah yang menyebabkan kita masih bersatu, dan barangkali itulah yang menyebabkan kita masih kuat sampai sekarang dalam menghadapi berbagai macam ujian. Itu sebabnya bangsa ini berutang kepada NU,” kata Ahmad Muzani.
Pernyataan ini disampaikannya saat memberikan sambutan dalam acara peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 NU di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Muzani menegaskan bahwa NU telah berperan penting dalam menyelamatkan bangsa mulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga saat ini, menjadi salah satu pijakan kekuatan dan persatuan bangsa di tengah berbagai ujian yang dihadapi.
*Peran NU dalam Menyelamatkan Bangsa dan Menjaga Persatuan*
Muzani menekankan bahwa kontribusi NU tidak bisa dipisahkan dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Menurutnya, peran NU sebagai pelindung bangsa menjadi salah satu faktor utama mengapa Indonesia tetap kuat, bersatu, dan mampu menghadapi berbagai tantangan hingga saat ini.
Pernyataan ini mengakui peran sentral NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia yang telah berperan aktif dalam perjuangan kemerdekaan, serta menjadi penjaga stabilitas sosial dan nasional pasca-kemerdekaan.
Melalui jaringan organisasi yang luas dan kedekatan dengan masyarakat, NU turut menjaga persatuan antarumat beragama dan antar suku di tanah air.
“Maka rakyat pun tenang, rakyat pun sabar menerima bencana ini bagian dari kehidupan kita yang harus kita terima sebagai bagian dari yang datang dari Allah,” sambungnya.
*Peran NU dalam Penanganan Bencana dan Penenangan Masyarakat*
Selain kontribusi dalam konteks nasional, Muzani juga menyebutkan bahwa NU secara konsisten membantu penanganan berbagai bencana alam di seluruh Indonesia, seperti tsunami di Aceh, serta bencana di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Ia menjelaskan bahwa para kiai NU berperan penting dalam menenangkan masyarakat dengan menyampaikan pemahaman bahwa bencana merupakan ujian dari Allah SWT yang perlu diterima dengan kesabaran.
“Dalam setiap kejadian bencana, jaringan NU yang terdiri dari kiai, santri, dan pengurus lokal selalu berada di garis depan untuk memberikan bantuan logistik, kesehatan, serta dukungan psikologis dan spiritual kepada korban,” kata Muzani.
Pendekatan yang menggabungkan tanggung jawab sosial dengan nilai-nilai agama menjadi ciri khas NU dalam menangani situasi krisis, yang membantu masyarakat tetap tenang dan mampu bangkit kembali.
*Doa Para Kiai untuk Keselamatan Bangsa dan Negara*
Muzani juga menyoroti peran doa dan aktivitas spiritual yang dilakukan oleh para kiai NU untuk keselamatan bangsa dan negara. Ia menyebutkan bahwa doa disampaikan melalui berbagai cara, seperti istighosah, yasinan, tahlilan, zikir, dan salawatan—semua dengan tujuan memohon kebaikan dan perlindungan bagi Indonesia.
“Aktivitas spiritual ini tidak hanya menjadi bentuk dukungan moral bagi bangsa, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan harapan masyarakat untuk masa depan yang lebih baik. Melalui doa dan ibadah bersama, NU turut memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas nasional di antara rakyat Indonesia,” ulasnya
*”Jika NU Kuat, Indonesia Akan Kuat”*
Sebagai politikus Partai Gerindra, Muzani menegaskan bahwa kekuatan NU terletak pada organisasinya sendiri dan kesejahteraan jemaahnya. Ia menjelaskan bahwa NU akan kuat jika jam’iyah (organisasi) NU solid, jemaahnya sehat, memiliki pekerjaan, dan mampu memenuhi kebutuhan hidup. Menurutnya, Indonesia dapat mengambil contoh dari NU, karena negara juga akan kuat jika rakyatnya sehat, produktif, dan memiliki pemikiran yang cerdas.
Pernyataan ini mengaitkan kekuatan organisasi masyarakat dengan kekuatan nasional secara keseluruhan. “NU sebagai organisasi yang lahir sebelum Indonesia merdeka telah membuktikan bahwa kesejahteraan anggota dan solidaritas organisasi menjadi pondasi penting dalam mendukung perkembangan negara,” tegasnya.
Muzani juga menyampaikan harapan agar seluruh rakyat Indonesia mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat, sebagaimana terkandung dalam doa “Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah” tutupnya. *Imam Kusnin Ahmad*
