
Prof Mahmud Mustain,
Guru Besar Teknik Kelautan ITS
Karakter utama makhluq Allah SWT berupa manusia ini adalah dikaruniai akal. Karunia tersebut membarengi amanah besar yakni berupa mandat mengatur bumi (Kholifah fil-ardl). Maka dengan akal manusia memiliki kemampuan menjalankan amanah tersebut. Kaidah berakal sehingga bisa disebut berpikir logik, diantaranya seperti ini (Modified AI, 2026):
1. Tidak Bertentangan (Konsisten)
2. Ada Hubungan Sebab–Akibat yang Masuk Akal.
3. Mengikuti Aturan Penalaran.
4. Tidak Mengandung Kontradiksi.
5. Jelas dan Tidak Ambigu (membingungkan).
6. Berdasarkan Fakta atau Asumsi yang Diterima.
QS Az-Zumar (39): 9 mensinyalir keberadaan dan fungsi akal, yakni:
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya (terjemah Indonesia)
“Apakah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya, itu sama dengan orang yang tidak demikian? Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal sehat yang dapat mengambil pelajaran.”
Tafsir ayat ini menegaskan perbedaan besar antara hamba Allah SWT yang taat dan yang lalai. Allah SWT menggambarkan sosok ideal:
1. Qanit (taat dan tekun beribadah).
2. Menghidupkan malam dengan salat.
3. Takut akan akhirat, dan
4. Penuh harap pada rahmat Allah SWT.
Lalu Allah SWT menegaskan bahwa tidak sama antara orang yang berilmu, yakni mengenal Allah SWT, memahami kebenaran, lalu mengamalkannya. Dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu, yakni yang hidup tanpa kesadaran spiritual. Penutup ayat ini menekankan bahwa hanya orang yang berakal (ulul albab) yakni orang yang mau berpikir, merenung, dan membuka hati yang bisa mengambil pelajaran dari perbandingan tersebut. Alhasil, Ilmu, iman, dan amal nyata membuat seseorang mulia di sisi Allah SWT. Ibadah yang dilandasi kesadaran dan ilmu tidak pernah disamakan dengan ibadah kosong atau kelalaian (Modified AI, 2026).
HR. Bukhari (dalam Kitab Al-Ilm) memberikan kriteria atau tandanya orang baik, yakni:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
Artinya: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memahamkannya dalam agama.”
Fungsi utama akal manusia ini untuk memahami aturan/tuntunan dari Allah SWT kemudian bagaimana mentaati segala perintahNya dan menjauhi larangaNya. Secara umum tuntunan hidup tersebut berupa bagaimana berinteraksi dengan Allah SWT sebagai pencipta, dan berinteraksi dengan alam sebagai ciptaan. Kontek kekinian secara global adalah membangun perdamaian di muka bumi. Semua ini hanya bisa dilakukan bila kita berakal sehat dan normal. Semoga bisa demikian aamiin.
Semoga pinaringan manfaat barokah selamat aamiin.
Surabaya,
11 Sya’ban 1447
atau
30 Januari 2026
m.mustain
