
Oleh : Edy Wihardjo, M.Pd., MCE., MCF.
Praktisi dan Konsultan Pendidikan, Universitas Jember.
Pernah merasa yakin sekali dengan jawaban matematika, lalu belakangan sadar ternyata salah? Bukan karena tidak bisa menghitung, tapi karena sejak awal kita terlalu percaya diri. Fenomena inilah yang dalam bahasa populer sering disebut love is blind. Ketika sudah “jatuh cinta” pada suatu jawaban, kita berhenti mempertanyakan, berhenti mengecek, dan merasa semua sudah beres. Menariknya, pola ini bukan hanya soal perasaan, tapi juga sangat sering terjadi dalam belajar matematika.
Matematika sebenarnya bukan sekadar urusan angka dan rumus. Ia adalah cara berpikir. Di dalamnya ada fakta, konsep, operasi, dan prinsip yang saling terhubung. Fakta matematika bersifat objektif dan tegas. Angka tidak berubah hanya karena kita menyukainya. Dua tambah dua tetap empat, meskipun kita berharap hasilnya lain. Namun dalam praktik belajar, banyak pelajar secara tidak sadar hanya memperhatikan fakta yang mendukung jawabannya sendiri dan mengabaikan fakta lain yang seharusnya diperhitungkan. Di sinilah “kebutaan” mulai muncul.
Dari fakta, kita naik ke konsep. Konsep adalah makna di balik angka dan simbol. Ketika seseorang mengatakan paham fungsi, limit, atau peluang, sebenarnya yang diuji bukan sekadar bisa mengerjakan contoh, tetapi apakah ia memahami ide besarnya. Sayangnya, banyak pelajar merasa sudah menguasai konsep hanya karena pernah mengerjakan soal yang mirip. Ini seperti merasa sudah mengenal seseorang hanya dari satu pertemuan singkat. Selama contoh yang muncul masih familiar, semuanya terasa baik-baik saja. Begitu konteks berubah sedikit, kebingungan pun muncul.
Setelah konsep, barulah kita berbicara tentang operasi. Operasi adalah kegiatan menghitung, memanipulasi simbol, dan menjalankan langkah-langkah matematis. Operasi sering menjadi bagian yang paling disukai karena terlihat aktif dan “kerja nyata”. Namun operasi yang tidak didasari konsep justru berbahaya. Banyak jawaban salah bukan karena hitungannya keliru, melainkan karena sejak awal model matematikanya tidak tepat. Ketika ini terjadi, operasi hanya menjadi rutinitas mekanis, bukan alat berpikir.
Yang sering terlupakan adalah prinsip. Prinsip matematika mencakup konsistensi logika, pembuktian, dan kebiasaan untuk mengecek kembali hasil yang diperoleh. Prinsip inilah yang membedakan matematika dari sekadar coba-coba. Dalam prinsip, tidak ada ruang untuk “kayaknya benar”. Setiap jawaban harus bisa dijelaskan, dipertanggungjawabkan, dan diuji. Ketika seseorang melewatkan tahap ini karena terlalu yakin pada jawabannya sendiri, saat itulah cinta pada jawaban berubah menjadi kebutaan berpikir.
Definisi, teorema, dan sifat-sifat matematika sebenarnya hadir untuk membantu kita agar tidak tersesat. Mereka bukan sekadar teks kaku di buku, melainkan penuntun cara berpikir. Definisi memastikan kita berbicara dengan makna yang sama. Teorema memberi jaminan bahwa suatu pernyataan benar jika syaratnya terpenuhi. Mengabaikan definisi dan teorema karena dianggap rumit sama saja seperti berjalan tanpa peta lalu berharap sampai tujuan dengan selamat.
Jika ditarik ke makna yang lebih luas, ungkapan love is blind dalam matematika mengingatkan kita bahwa intuisi saja tidak cukup. Matematika justru mengajarkan keseimbangan antara rasa yakin dan sikap ragu yang sehat. Kita diajak untuk mencintai proses, bukan hanya hasil. Kita dilatih untuk berani mempertanyakan jawaban sendiri dan tidak cepat puas hanya karena terlihat masuk akal.
Bagi pelajar SMA dan mahasiswa semester awal, inilah nilai penting belajar matematika. Ia bukan sekadar mata pelajaran, melainkan latihan kedewasaan berpikir. Matematika mengajarkan bahwa kebenaran tidak pernah takut diuji. Dan ketika kita belajar untuk tidak “buta” pada jawaban sendiri, kita sedang membangun cara berpikir yang jujur, kritis, dan tahan uji—bukan hanya di kelas, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
