Air Berkata Aku Pulang

By Dr.Ir. HADI PRAJOKO SH, MH Ketum PP HKP.

Bahtera air yang menghidupi manusia, walaupun diciptakan Tuhan dalam bentuk cairan terasa punya jiwa’.

Air berkata ” setelah aku selesai tugas ku dan bumi menumbuhkan tanaman, mencukupi manusia aku dikirim ke angkasa, menjadi Awan, tetapi aku telah membangun rumah ku di akar dan serabut akar tanaman, apabila Tuhan memutar kembali dunia aku akan pulang ke rumah tinggal ku, jangan engkau rusak jalan pulang dan aku telah membangun jalan untuk pulang,

Tetapi pada saat aku pulang jalan dan rumah ku telah hilang dan rusak, bahkan aku tidak lagi punya rumah, seluruh rumah dan jalan ku pulang telah menjadi rumah manusia, padahal aku ditakdirkan harus turun ke bumi dan naik ke angkasa menjadi Awan, jangan salah kan’ aku bila tidak lagi ada rumah dan jalan pulang yg aku bangun jutaan tahun di serabut akar dan akar akar tanaman.”

Banjir adalah jalan pulang, Bumi milik kita bersama.

0leh air, Bumi selalu mampu mencukupi dan menjaga hidup manusia, mendukung kegiatan hidup manusia dan makhluk lain di semesta, tetapi manusia tidak pernah mampu menahan mengelola keserakahan serta kekuatan kerakusannya yg semakin liar dan tak bermartabat.

Setiap banjir, longsor, kebakaran hutan, bencana alam lainnya adalah hanyalah cermin – cermin diri dari wajah kerakusan yang kita rawat, dan merupakan bentuk
cermin penderitaan dari *alam yang kita paksa* menanggung warisan ego, hedonistik ambisi manusia.

Dengan angkuhnya manusia menyebut sebagai bencana padahal sering kali itu hanyalah respon alam, pahala manusia atas luka yang kita buat sendiri.

Pertanyaan yang tak bisa lagi Kita warisi Dan dihindari, akan bertambah panjang kah bencana yg Kita tuai, kita tanpa sadar telah menabur dan menabung bencana bagi anak cucu selanjutnya

Berapa banyak lagi kehancuran yang harus terjadi? Karena kita *liar mengelola ego*
sebelum kita mengakui bahwa penyebab bencana bukan alam tetapi diri kita sendiri, warisan bencana itu sebenarnya hasil dari kehilangan jiwa’ Moralitas mu sendiri, generasi kedepan harus mulai sadar, bencana alam, jangan menyalahkan air, dan bumi melainkan *manusia yang kehilangan batas?*

Hidupkan intuisi kita menuju titik kesadaran.

Salam kehidupan , Rahayu

Hadi Prajoko