Ki Gede Solo dan Berdirinya Kraton Kartasura

Ki Gede Solo tokoh pendiri Desa Solo dan kini namanya terapi abadi dalam sejarah berdirinya Kraton Surakarta. Bagaimana ceritanya. Berikut ini :

 

Ki Gede Solo adalah tokoh sentral dalam sejarah awal Kota Solo (Surakarta), yang diyakini menjadi cikal bakal berdirinya kota tersebut saat ia mengeringkan wilayah rawa dan memimpin Desa Sala sebelum Keraton Mataram dipindahkan dari Kartasura.

Ia bernegosiasi dengan Susuhunan Pakubuwana II untuk pemindahan keraton dan mendapat gelar Bekel sebelum meninggal tak lama setelah pembangunan Keraton Surakarta dimulai.

Makam Ki Gede Sala di Baluwarti, Surakarta, kini menjadi lokasi ziarah penting.

Peran dan Jasa Ki Gede Solo

Pengering Rawa dan Pendiri Desa Sala: Ki Gede Sala adalah pemimpin Desa Sala yang dulunya merupakan hutan rawa.

Ia berhasil mengeringkan area tersebut sehingga menjadi lokasi pemukiman yang layak dan dipilih untuk pembangunan keraton.

Penentu Pemindahan Keraton: Ketika Keraton Mataram di Kartasura hancur akibat Geger Pecinan tahun 1745, Susuhunan Pakubuwana II mencari lokasi baru.

Ki Gede Sala berperan dalam negosiasi dan persetujuan pemindahan pusat pemerintahan ke Desa Sala.

Menjadi Abdi Dalem dan Mendapat Gelar: Setelah Desa Sala dipilih, tanahnya dibeli oleh Pakubuwana II, dan Ki Gede Sala diangkat sebagai abdi dalem Keraton Surakarta dengan gelar Bekel.

Makam Sebagai Situs Sejarah dan Ziarah: Ki Gede Sala meninggal dunia tak lama setelah Keraton Surakarta berdiri dan dimakamkan di Kelurahan Baluwarti, tidak jauh dari keraton.

Makamnya kini menjadi magnet bagi peziarah dari berbagai kalangan, terutama saat momen Ramadan.

Perubahan Nama Kota Desa Sala kemudian berganti nama menjadi Surakarta Hadiningrat, mengikuti nama yang diberikan oleh Susuhunan Pakubuwana II, yang didirikan di atas tanah yang dulu dipimpin Ki Gede Sala.

Nama “Solo” sendiri merupakan singkatan dari nama desa tersebut.