*Mauludan: Meneladani Rasul*

بسم الله الرحمن الرحيم
*Meneladani Rasul*

Prof Mahmud Mustain, Guru Besar Teknik Kelautan ITS

Ada ayat yang sangat masyhur tentang keteladanan rasul, yakni Surat Al-Ahzab Ayat 21،
“لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوْا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا”
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

Di momen peristiwa maulid Nabi Muhammad SAW saat ini sangat bijak apabila kita mengingat kembali tentang perjuangan dan karakter beliau yang patut kita ditiru. Kemudian kita jadikan beliau sebagai figur panutan kita dalam menjalani hidup ini. Sudah barang tentu ini selebihnya setelah kita perbanyak baca sholawat. Artikel ini menelaah perihal hal apa saja yang kita harus tiru.

Setidaknya ada tiga hal yang kita perlu perhatikan, yakni dalam hal; peribadatan, interaksi sosial, dan budaya.

Dalam hal peribadatan disebut uswah ta’abudiyah atau ritual. Jenis mengikuti di sini ada yang bersifat harus dilakukan dan ada yang pilihan. Sholat lima waktu harus dilakukan persis sama. Sedangkan yang boleh milih misalkan perintah yang berstatus hukum sunnah. Sekian banyak peribadatan yang wajib dan yang sunnah. Semua itu mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Uswah ijtimaiyyah, ini dalam hal berinteraksi sosial yakni bagaimana membangun kelompok sosial. Mencontoh rasul dalam hal ini sifatnya keutamaan yakni sebaiknya mencontoh atau mengembangkan. Seperti membangun negara, bangsa kita tercinta ini dalam membangun dasar negara berupa PANCASILA ini adalah mencontoh rasul membangun dasar negara Madinah. Dasar negara Madinah adalah berupa Piagam Madinah (Risalatul Madinah), dengan prinsip semua orang di wilayah Madinah yang berbeda-beda agama, suku, dan lain-lainnya bisa diajak hidup bersama yang damai.

Dalam budaya disebut Uswah Tsaqofiyyah. Mengkuti ini sifatnya mubah atau wenang yakni boleh iya boleh tidak. Seperti budaya berpakaian, budaya Saudi Arabia pakaian orang laki-laki keseharian berupa jubah dan untuk wanita gamis. Tentang warna, putih untuk laki-laki warna hitam untuk wanita. Normalnya wanita tidak keluar rumah, hanya laki-laki yang beraktifitas di luar rumah. Ketika kita sesuaikan dengan karakter warna yang hubungannya dengan merespon panas matahari, maka ternyata warna putihlah yang paling sempurna memantulkan panas.

Alhasil budaya warna putih juga ada hubungannya dengan hal tersebut sehingga manusia pada kondisi sinar yang kuat akan terasa paling sejuk bila berpakaian warna putih bila dibanding dengan warna yang lain. Sungguh luar biasa pilihan warna putih oleh Nabi Muhammad SAW menyimpan rahasia warna paling sempurna memantulkan atau menolak panas.

Point besar yang juga perlu diketahui adalah, ketika budaya berpakaian putih itu dianggap sunnah rasul ya monggo baik saja. Tetapi kita bangsa Indinesia yang memiliki budaya BATIK misalkan juga harus senang dan bangga sebab ikut sunnah rasul dalam rangka melestarikan budaya kita. Jadi monggo dirasakan sama antara pakaian putih dengan batik. Sama-sama mengikuti sunnah rasul dalam melestarikan budaya.

Semoga manfaat barokah selamat aamiin.
🤲🤲🤲

Referensi, catatan Khutbah jum’at MAS oleh Prof Ahmad Zahroh MA, sekitar 15 tahun yang lalu.

Surabaya, 12 Robiul Awal 1447
atau
5 September 2025
m.mustain