
Prof Mahmud Mustain, Guru Besar Teknik Kelautan ITS
Kita bayangkan ada dua orang satu jujur dan yang lain tidak jujur yakni pendusta atau pembohong. Ketika ada ujian sosial tentang kejujuran maka sikap kedua orang itu sangat berbeda. Orang jujur tenang tanpa beban sedangkan pendusta atau pembohong sangat tidak tenang, kalaupun tampak tenang itu hakekatnya adalah dibuat-buat. Logika sehat mestinya membenarkan kalimat tersebut. Ini artinya tenang yang sesungguhnya itu adalah tanpa buang energi, sedangkan ketenangan yang dibuat-buat oleh pendusta itu pasti dengan mengeluarkan energi atau melakukan pemborosan yang hanya ingin menutupi kebohongannya.
Satu paragrap di atas ini sebenarnya sudah bisa membuktikan bahwa judul artikel yang tertulis Jujur Hemat Energi sudah bisa diterima kebenarannya. Namun penulis ada ide lain yang seirama, yakni tentang sikap manusia ke depan bahkan sampai di alam barzah atau alam kubur.
Ketika kata jujur itu dilebarkan menjadi benar tidak batil dalam segala sikap meliputi perbuatan, ucapan dan buah pikir, maka prilaku ke depan akan menjadi tenang tanpa ada takut gundah dan resah. Jadi prilaku yang selalu berada dalam koridor hukum yang benar artinya tidak pernah melanggar atau melawan hukum, maka akan membuahkan hidup yang nyaman tentram dan sentosa.
Contoh dua orang yang berbeda di paragrap pertama tersebut, misalkan keduanya menjadi terdakwa mencuri dan keduanya akan dipertemukan pada gelar perkara. Sudah barang tentu kita bisa membayangkan bagaimana perbedaan performance dan sikap dari mereka berdua. Jelas tidak bisa dielakkan bahwa yang jujur dan memang tidak mencuri pasti tenang, sudah barang tentu berbeda sikap dengan yang pembohong yang memang mencuri. Contoh ilustrasi tersebut memberikan pengertian bahwa sikap seseorang adalah buah dari perbuatan sebelumnya.
Poin yang penulis anggap sangat penting adalah ketika kita nanti ada di alam barzah atau alam kubur. Sikap kita di sana adalah perwujudan atau buah dari perbuatan kita di alam dunia ini. Jadi secara umum tidak perlu takut dengan kedatangan kedua malaikat tersebut, kita cukup berbekal malakukan semua perintah Allah SWT sesuai kapasitas kita dan menjauhi semua laranganNya juga sesuai kapasitas kita. Sekali lagi bahwa performan atau sikap dan tampilan kita di sana adalah representatif dari amal perbuatan kita di alam yang fana ini.
Ada beberapa hadits yang menyebutkan tentang amalan yang menjelma menjadi sosok atau menjadi penolong di hari akhir. Salah satu contoh adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ahmad tentang shalat yang menjadi cahaya dan penolong bagi pelakunya. Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa sedekah dapat menjadi pelindung dari api neraka. Amalan-amalan baik ini bisa menjadi perwujudan yang baik bagi pelakunya di alam kubur atau di hari akhir (Meta AI, 2025).
Semoga kita bisa mengambil manfaat dari artikel ini dengan meningkatkan ketaqwaan kita aamiin.
Surabaya, 17 Muharrom 1447 / 12 Juli 2025
m.mustain
