
Prof Mahmud Mustain, Guru Besar Teknik Kelautan ITS.
Suatu saat penulis hanya berdua di lapangan dengan pembimbing sekolah S3 di Leicester University UK, selingan dari keseharianya yg hanya bicara tentang seismik topik penelitian, penulis nyletuk mengajukan pertanyaan What is actually your purpose of live (apa hakekatnya tujuan hidupmu). Beliau menjawab “saya memberi manfaat dunia meskipun hanya satu titik kecil” (maaf redaksi inggrisnya lupa). Kalau sudah tercapai terus apa, tanya penulis. Kemudian disambung menjawab ya sudah selesai tidak ada lain. Dengan cepat penulis katakan, that is very very trivial (tujuan hidup itu sangat cetek).
Judul artikel ini *tujuan hidup cetek* sudah terjawab, kemudian yang tidak cetek yang bagaimana, tentu ini yang menarik. Hal ini tidak beda jauh dengan kematangan membuat peresepsi tentang masa depan. Umumnya orang menyekolahkan putra-putrinya sampai perguruan tinggi bertujuan berhasil untuk meraih masa depan, yang berarti mendapatkan pekerjaan di masa rumah tangga. Tujuan sekolah seperti ini menurut penulis tergolong cetek, yakni hanya bertujuan sukses se-masa hidup di dunia saja.
Normal orang hidup di zaman sekarang standard usia Nabi Muhammad SAW sekitar 63 tahun. Angka ini teramat sangat kecil sekali dan bahkan hampir tidak berarti apabila dibanding dengan angka tidak berhingga atau selamanya. Dengan demikian logika normal pasti mengatakan sayang sekali apabila kita hanya berobsesi atau bercita-cita hidup sukses di dunia saja.
Notabene orang hidup beragama seperti kita sebagai WNI (Warga Negara Indonesia) harus punya keyakinan bahwa setelah mati nanti kita akan hidup dan hidup nanti itu berdurasi selamanya yakni tanpa ada batas waktu. Dengan demikian logika sehat dan waras pasti akan berusaha keras untuk mengutamakan sukses hidup setelah mati. Hal ini memberikan pengertian bahwa kalimat *”seimbangkan kepentingan dunia dan kepentingan akhirat”* adalah kurang bijaksana, sungguh ini berarti mengecilkan/meremehkan urusan akhirat atau terlalu membesarkan urusan dunia.
Mari kita sadar sesadar-sadarnya tentang menset-up filosofi tujuan hidup dan kehidupan ini. Kita tata ulang persepsi hidup ini. Mari kita tambah perhatian kita untuk maraih sukses akhirat. QS Al-Qasas ayat 77:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ
Artinya (Terjemahan Bahasa Indonesia – Kemenag):
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Kita diperintahkan untuk mencapai sukses pada kehidupan akhirat. Kemudian urusan kehidupan dunia beredaksi janganlah kamu melupakan, yang berarti tidak utama, apabila kurang sukses dunia bukan kegagalan fatal. Alhasil, apabila kita faham betul tentang ini tentu kita akan menjadi lebih ringan melakukan ibadah, akan dengan mudah memerangi syetan dan menaklukkan nafsu yang menghambat. Semoga kita semakin bisa meningkatkan istiqomah dalam ibadah kita. Juga tidak ada kata terlambat bagi kita yang masih baru mulai menata.
Semoga kita mendapatkan manfaat barokah dan selamat dunia akhirat aamiin. 🤲🤲🤲
Surabaya, 17 Muharrom 1447 / 12 Juli 2025
m.mustain
