Tulungagung-menaramadinah.com-SUMBUD Gelar Pementasan Wayang Kulit Pada Ambal Warsa-nya Ke-24
BERBEDA dengan pagelaran wayang kulit lainnya, pementasan wayang kulit bersama dhalang Ki Wawan Susetya pada momentum ambal warsa SUMBUD (SUMBAGA BUDAYA) ke-24 di Sasana Budaya Ngesthi Laras Dusun Glotan, Tanggung Campurdarat Tulungagug Sabtu (24/5) pagi lebih mengutamakan faktor tuntunan daripada tontonan. Hal itu terlihat pada adegan Limbuk-Cangik, ki dhalang nampak leluasa memberikan pengajaran sesuai dengan makna ungkapan dhalang, yakni ngudhal piwulang (memberikan pengajaran).

Sebelum pagelaran dimulai sekitar jam 10.20 Wib, pangarsa Paguyuban SUMBUD Tulungagung Prof. Ir. Soeparman yang mantan guru besar ITS (Institut Teknologi Surabaya) menyerahkan wayang Raden Abimanyu kepada dalang Ki Wawan Susetya. Sementara, tokoh wayang Raden Abimanyu tersebut merupakan tokoh utama dalam lakon Wahyu Cakraningrat. Dan, memang tokoh Raden Abimanyu-lah yang mendapatkan Wahyu Cakraningrat setelah mengalahkan dua orang satriya yaitu Raden Lesmana Mandrakumara (putra Prabu Duryudana, Raja Ngastina) dan Raden Samba (putra Prabu Sri Bathara Kresna, Raja Dwarawati). Ketiga satriya tersebut bertapa di Wana Warayang atau Wana Krendhayana. Awalnya yang mendapat wahyu Raden Lesmana, namun karena sikapnya adigang-adigung-adigua dengan bersikap kasar kepada Bathara Wulan Darma dan Wulan Darsih yang menyamar sebagai orang tua yang sangat miskin, akhirnya Wahyu Cakraningrat oncat (pergi) dari putra Prabu Duryudana. Setelah itu Wahyu Cakraningrat merasuk ke dalam tubuh Raden Samba yang sedang bertapa. Sayangnya wahyu tersebut juga hengkang dari tubuh Raden Samba setelah dia jatuh hati kepada seorang wanita cantik jelmaan Bathari Wulan Darsih, tetapi Raden Samba menolak orang tua jelmaan dari Bathara Wulan Darma. Maka setelah itu Wahyu Cakraningrat menghampiri tubuh Raden Abimanyu yang tengah bertapa di Wana Warayang.
Sebagaimana dikisahkan dalam pagelaran wayang kulit itu, Raden Abimanyu berhasil mendapatkan Wahyu Cakraningrat lantaran ia merupakan satriya utama yang senantiasa menjalankan dharmaning satriya, yakni;
Pertama, ngayomi wasu-pitri pandhita resi ingkang ulah puja mesu-brata.
Kedua, rumeksa raharjaning praja bumi kelairan.
Ketiga, trisna bangsa welas asih mring kawula dasih.
Keempat, setya ing janji nuhoni sabda ingkang wus kawedhar.
Kelima, tundhuk ing bebener adhedhasar adil.
Pada pagelaran wayang kulit itu ketika adegan Limbuk-Cangik, Ki Wawan Susetya juga menyampaikan pandangan mengenai konsep atau ajaran Asthagina,, yakni 8 hal yang memberikan manfaat terutama kepada generasi muda atau para pengantin baru. Konsep atau ajaran Asthagina sendiri, dalam perspektif orang Jawa memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan terutama menyangkut menggapai cita-cita yang paling utama agar menjadi ‘manungsa utama’ (manusia utama). Dan, konsep atau ajaran Asthagina tersebut yakni;
Pertama, penggaotan atau pekerjaan. Artinya bahwa para generasi hendaknya memiliki pekerjaan sebagai sumber mata pencaharian dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, gemi, yaitu tindakan yang pandai berhemat dalam kehidupan sehari-hari dalam segala bidang. Artinya, setelah dari bekerja (karena memiliki penggaotan) lalu mendapatkan hasil (rizki berupa uang), maka uang sebagai penghasilan tersebut hendakna harus di-manage dengan cara yang baik dan bijaksana. Jangan bersikap sebaliknya, yaitu boros!
Ketiga, Nastiti Ngati-ati. Nastiti artinya berhati-hati dalam arti yang luas atau bersifat umum, sedang ngati-ati dapat dimaknai waspada terhadap hal-hal yang lebih spesifik.
Keempat, Tegen-Mugen-Rigen. Tegen itu identik dengan penguasaan terhadap sesuatu ilmu (pengetahuan) terutama memiliki ketrampilan di dalamnya. Sedang, mugen itu merupakan ekspresi untuk menjalaninya secara rajin dan istiqomah. Dan, rigen itu identik dengan pengamalan atau aplikasi dengan selalu menjaga segala tindak-tanduknya dalam keseharian.
Kelima, Sumerep Ing Petang (Ngerti Ing Petung). Orang yang bijaksana adalah orang yang ‘ngerti ing petung’; yakni orang yang bisa melakukan tugasnya sesuai dengan skala prioritas dan secara prosedural. Ia tahu mana yang perlu dan mana yang tidak perlu. Tegasnya, orang yang ‘sumerep ing petang’ tidak akan kecolongan atau tertipu dari praktik-praktik kesehariannya, terutama dalam hidup di lingkungan keluarga, kemasyarakatan, dan lingkungan kerjanya.
Keenam, Taberi Tetanya, yakni tidak segan-segan bertanya untuk menambah pengetahuannya. Dalam arti luas, ‘malu bertanya sesat di jalan’, maka untuk menambah pengetahuannya dalam segala hal, ia selalu bertanya kepada ahlinya atau pakarnya.
Ketujuh, Nyegah Kayun, artinya mencegah menjelmanya sifat angkara murka di dalam dirinya. Sifat ini merupakan penghalang utama bagi seseorang yang ingin menggapai pribadi insan kamil (manusia paripurna) atau manusia yang sejati (manungsa utama). Jika dilihat dari jenis nafsunya, maka angkara murka ini tergolong nafsu ammarah; artinya nafsu yang mengajak untuk melakukan kejahatan (dur angkara).
Kedelapan, Tumemen Ing Sedya, artinya suka menetapi kesetiaan dalam segala bidang. Hal ini juga menggambarkan tekad dan semangat yang sungguh-sungguh dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk di dalam lingkungan kerja.
Pahargyan Ambal Warsa SUMBUD Ke-24
Paguyuban SUMBAGA BUDAYA (SUMBUD) mengadakan pahargyan ambal warsa yang ke-24 di Sasana Budaya Dusun Glotan, Desa Tanggung, Campurdarat, Sabtu (24/5). Selain warga SUMBUD dan para niyaga Ngesthi Laras Glotan, pada kesempatan ambal warsa itu datang sekitar 100-an orang lebih dari berbagai komunitas budaya di Tulungagung. Demikian koresponden Menara Madinah Tulungagung Wawan Susetya melaporkan dari Sasana Budaya Ngesthi Laras Dusun Glotan, Tanggung Campurdarat Tulungagung.
Paguyuban SUMBUD didirikan pada tanggal 20 Mei 2001 oleh alm. Bapak Ema Kusmadi yang saat itu menjabat sebagai Kasi Dikbud Tulungagung beserta para staf dan pejabat di lingkungan Dikbud se-Tulungagung. SUMBUD kepanjangan dari SUMBAGA BUDAYA, sedang arti Sumbud adalah misuwur, adiluhung, dan indah, sementara budaya jelas menunjukkan hasil cipta rasa dan karsa manusia. Dengan demikian Paguyuban SUMBAGA BUDAYA artinya budaya yang misuwur atau budaya yang indah atau bagus. Pendirian Paguyuban SUMBUD pada tanggal 20 Mei 2001 tersebut ditandai dengan sengkalan Jawa ARSA NGLELURI TANPA KANTHI (Arsa, karsa, kareping ati = 1, Ngleluri, luri. Luhur = 0, Tanpa = 0, Kanthi = 2) sehingga dibaca dari belakang menjadi tahun 2001.
Hingga saat ini, kepemimpinan dalam Paguyuban SUMBUD telah mengalami beberapa kali pergantian kepengurusan. Sepeninggal Pangarsa SUMBUD Bapak Ema Kusmadi, lalu dilanjutkan Bapak Sudjinal dan Bapak Subandi. Dan, setelah keduanya wafat, lalu dilanjutkan oleh Bapak Prof. Ir. Soeparman, BSc sampai sekarang.
Sekitar jam 9.20 Wib, MC Bapak Winaryo membuka acara pahargyan ambal warsa SUMBUD yang ke-42. Penampilan pertama Panembrama (melantunkan beberapa tembang-tembang Jawa secara bersama-sama atau koor) yang dibawakan oleh belasan orang warga SUMBUD yang dipimpin oleh Bapak Sanuri dengan diiringi gamelan.
“Saya itu sebenarnya bukan pangarsa (ketua) SUMBUD, tetapi saya hanyalah wakil para pangarsa sebelumnya. Sedang tugas yang saya jalankan juga meneruskan visi-misi SUMBUD, yakni dhudhuk-dhudhuk saha dhudhah-dhudhah budaya Jawa yang adiluhung,” ujar Prof. Ir. Soeparman dalam sambutannya pada pahargyan ambal warsa SUMBUD yang ke-24 tahun dengan rendah hati.
Prof. Soeparman kemudian mengatakan pertemuan para warga SUMBUD tiap selapan (35 hari) sekali yaitu pada Hari Setu Legi sesuai dengan kelahiran paguyuban secara bergiliran di rumah anggota. Adapun sarasehan budaya sebagai bentuk dhudhuk-dhudhuk saha dhudhah-dhudhah budaya Jawa yang adiluhung yang dilakukan tiap pertemuan warga SUMBUD sekarang ini membahas dari buku Wangsalan Edi Peni jilid 4 karya Ki Sudjinal, pangarsa SUMBUD kedua. Sebelumnya, para warga SUMBUD membedah dua buku spektakuler dalam perspektif budaya Jawa, yakni Wedhatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV dan Wulangreh karya Sri Paku Buwana IV.
Sambutan kedua disampaikan oleh Saudara Aang Prabowo yang mewakili Kades Suyahman yang berhalangan hadir. Aang Prabowo merasa bersyukur bahwa di desanya ada Sasana Budaya Ngesthi Laras sebagai pusat pelatihan dan pemberdayaan seni krawitan dan pedhalangan.
“Alhamdulilah semenjak saya menjadi Sekdes di sini (Desa Tanggung), saya telah mengikuti secara langsung beberapa kegiatan seni-budaya di Sasana Budaya Ngesthi Laras pimpinan Ki Handaka. Bahkan sebelumnya juga terselenggara menampilkan kethoprak oleh BARANUSA Tulungagung di desa kami yang latihannya juga di sini (Sasana Budaya Ngesthi Laras),” ujar Aang yang tergolong masih sangat muda.
Sementara itu Plt Kepala Dinas Budpar (Kebudayaan dan Pariwisata) Tulungagung, Drs. Bagus Kuncoro memberikan apresiasi positif terhadap acara pahargyan ambal warsa SUMBUD (SUMBAGA BUDAYA) ke-24 di Sasana Budaya Ngesthi Laras Desa Tanggung.
“Terus-terang, saya sangat senang melihat suasana seperti ini. Begitu saya datang ada suara krawitan, lalu ada panembrama yang dibawakan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah sepuh-sepuh sehingga membuat hati saya terharu. Syukurlah bahwa para bapak dan ibu warga SUMBUD masih bersemangat untuk senantiasa nguri-uri (melestarikan) seni-budaya di Tulungagung ini,” tandas Bagus ceria.
Namun, lebih dari itu Plt Kepala Budpar Tulungagung itu berharap bagaimana khasanah nilai-nilai budaya Jawa yang adiluhung itu juga diminati dan diteruskan oleh generasi anak-anak millenial zaman sekarang. “Saya benar-benar berharap agar generasi muda atau anak-anak juga tertarik dengan budaya kita, budaya Jawa yang adiluhung,” harapnya.
Sambutan pamungkas disampaikan oleh Prof. Dr. HM Teguh, penasihat Sasana Budaya Ngesthi Laras Glotan sekaligus guru besar bidang Filsafat Agama di UIN SATU Tulungagung.
“Saya sangat bersyukur dari waktu ke waktu Sasana Budaya Ngesthi Laras Glotan ini terus mengalami perkembangan kemajuan, terutama seperti para hari ini acara ambal warsa SUMBAGA BUDAYA pun juga ditempatkan di sini. Ini semua merupakan buah dari amal Rama Ki Sudjinal yang memang berkomitmen memajukan seni-budaya,” kata Prof. Dr. Teguh yang pada hari Rabu (28/5) dikukuhkan sebagai guru besar di UIN SATU Tulungagung.
Lebih jauh Pak Teguh juga mengapresiasi mengenai ketekunan dan kegigihan para pengurus SUMBUD Tulungagung dalam melestarikan budaya Jawa yang adiluhung. “Dalam kesempatan ini perkenankan saya menyampaikan selamat ambal warsa SUMBUD ke-24 tahun semoga ke depan semakin memberikan kemaslahatan bagi masyarakat luas,” harap Pak Teguh.
Rangkaian acara terakhir slametan (selamatan) pahargyan ambal warsa SUMBUD yang ke-24 dengan di-ujub-kan oleh Ki Suwito, anggota SUMBUD yang berdomisili di Kalidawir. Setelah ujuban selesai, Ki Suwito memanjatkan doa dengan menggunakan Bahasa Jawa. Dan, setelah itu ditutup dengan doa yang dibawakan oleh Prof. Dr. HM Teguh.
Pada kesempatan tigas tumpeng, Prof. Ir. Soeparman selaku pangarsa SUMBUD memberikan penghormatan secara simbolis kepada Bapa Supardan warga SUMBUD yang tergolong paling senior dan kepada Plt Kepala Budpar Drs. Bagus Kuncoro, lalu dilanjurkan bojana andrawina (makan bersama-sama) secara prasmanan bersama para undangan. []
Husnu Mufid
