
Banyuwangi menaramadina.com, Program Merdeka Belajar merupakan program yang dicanangkan Mendikbudristek Nadiem Makarim. Istilah Merdeka belajar muncul ketika Mendikbudristek berpidato saat memperingati hari guru Nasional 2019. Konsep merdeka belajar, Kemdikbudristek mengelaborasi dan mengaktualkan dalam bentuk kebijakan. Sejalan dengan kebijakan itu, guru BK perlu segera menyikapi dalam menyukseskan implementasi program tersebut.

Untuk dapat berperan dengan lebih baik guru BK perlu memahami lebih detail berbagai landasan peraturan, hakikat merdeka belajar serta petunjuk pelaksanaan program merdeka belajar. Selanjutnya bersama-sama merumuskan peran yang dapat dilakukan oleh guru Bimbingan Konseling.
Berbagai peran yang disandang guru Bimbingan Konseling dalam rangka pelaksanaan merdeka belajar, menunjukkan guru BK semakin dibutuhkan pemerintah dan sekolah serta masyarakat. Oleh karena itu guru BK selalu melakukan update ilmu dan meningkatkan kemampuannya supaya dapat berperan lebih optimal. Pewarta menaramadina.com melaporkan,
Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) Kabupaten Banyuwangi yang tergabung dalam zonasi tengah pada hari Sabtu tanggal 27 Agustus 2022 bertempat di SMP Negeri 3 Rogojampi mengadakan acara ‘Workshop Pembuatan perangkat pembelajaran Berbasis IT dalam rangka implementasi Kurikulum Merdeka”.
Guru BK berkumpul mempelajari secara komprehensif mengenai program merdeka belajar dan merancang program Bimbingan Konseling tentang pembuatan perangkat pembelajaran Berbasis IT, yang mendukung kesuksesan implementasi program merdeka belajar yang dicanangkan Mendikbudristek.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Drs. Pujianto selaku Ketua MGBK Zona tengah kepada menaramadina.com, kegiatan yang bertempat di SMP Negeri 3 Rogojampi ini merupakan kegiatan periodik yang dilakukan oleh MGBK, kebetulan tema hari ini adalah “Workshop pembuatan perangkat pembelajaran Berbasis IT dalam rangka Implementasi Kurikulum Merdeka”. Wokshop dihadiri oleh guru-guru BK zona tengah dari Kecamatan Rogojampi, Blimbingsari, Singojuruh, Srono, songgon dan Kecamatan Kabat.
Harapan adanya pertemuan MGBK zona tengah ini, bagi kami pelayanan Bimbingan konseling kepada peserta didik sejak dulu sudah merdeka dalam proses pembelajaran, tinggal memantapkan dan melengkapi perangkatnya saja dengan cara menggali dari peserta didik sehingga dapat diterapkan secara simpatik di sekolah.
Disamping itu prioritas memperkecil dan menyelesaikan penerapan program-program bimbingan konseling di lapangan serta meminimalisir 3 ( tiga ) pekerjaan besar di dunia pendidikan yaitu, tindakan intoleransi, tindakan seksual, dan tindakan buillying serta meminimalisir siswa berhenti sekolah (zero drop out) menjadi harapan kita semua. Tegasnya
Sedangkan Joko Susanto, S.Pd selaku Ketua MGBK Kabupaten Banyuwangi, menyampaikan rasa terima kasih kepada anggota guru BK zona wilayah tengah khususnya jajaran pengurus MGBK yang telah melaksanakan kegiatan workshop pada hari ini.Lebih lanjut Joko Susanto menyampaikan, Bapak/Ibu guru BK tidak kaget dengan adanya kurikulum merdeka dan program guru penggerak dengan program programnya, karena guru BK pada tahun-tahun sebelumnya sudah menerapkan kurikulum merdeka dan juga tidak kaget dengan adanya Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) hanya mungkin namanya saja yang dirubah. Sebenarnya kita sudah ikut andil didalamnya termasuk profil pelajar pancasila yaitu di tugas perkembangan sudah ada semuanya. ucapnya.
Mendukung kurikulum merdeka belajar kaitannya problem besar dan pekerjaan rumah (PR) di dunia pendidikan yang menjadi perhatian kita seperti, tindakan intoleransi, tindakan seksual, dan tindakan buillying serta zero drop out. Tidak hanya guru Bimbingan Konseling (BK) yang bergerak dan menjadi pioner akan tetapi harus didukung, bersinergi dan bekerjasama dengan guru-guru mata pelajaran (Mapel) lainnya, wali kelas dan Kepala sekolah. Saya yakin guru BK sudah maksimal untuk melayani karena itu tugas kita,
Diakhir penyampaian kepada menaramadina.com Joko Susanto S.Pd mengharapkan, pada kegiatan workshop hari ini, peserta tidak sekedar melihat dan mendengarn saja, akan tetapi peserta workshop mampu membuat produk atau hasil perangkat pembelajaran asli yang dikerjakan sendiri seperti assesment, mengelola RPL sampai laporannya, tegasnya.
Yuli Eka Ismarini, S.Pd selaku Kepala SMP Negeri 3 Rogojampi ketika ditemui menaramadina.com menyampaikan rasa syukur ketika sekolahnya menjadi tuan rumah pertemuan workshop MGBK Kabupaten Banyuwangi zona tengah, dengan harapan mudah-mudahan guru-guru yang tergabung MGBK menjadikan pioner untuk meminimalisir serta menuntaskan pekerjaan besar masalah di dunia pendidikan.
Mudah-mudahan di akhir pertemuan nantinya ada hasil yang diperoleh,bermanfaat dan dilaksanakan di sekolah masing-masing, ucapnya (pewarta Rishje)
