Membongkar Misteri Nasab : Ketika Pernyataan Dianggap Serangan

 

Oleh: Diar Mandala
Banten, 12 Januari 2026

Bismillahirrahman’nirrahim. Kita sering mendengar bahwa bertanya itu ibadah, tapi mengapa ketika pertanyaan tentang nasab dianggap sebagai serangan? Apakah nasab lebih sakral daripada wahyu? Mari kita telusuri bersama.

Pertanyaan sederhana: kalau nasab itu shahih, kenapa harus repot-repot menghindari pertanyaan? Seperti orang jual emas, tapi marah ketika ditanya kadar karatnya. Kalau emas murni, justru bangga diuji.
Imam Ibnu Khaldun sudah mengingatkan tentang penyakit para pengklaim nasab. Beliau menulis tentang bagaimana manusia sering meremehkan urusan nasab dan mengklaim nasab tanpa bukti yang jelas.

Kita bertanya lagi: kenapa yang paling ribut membela justru bukan dari alam yang diklaim punya nasab itu sendiri? Ini seperti penonton tinju yang lebih emosional daripada petinjunya.

Dalam ilmu hadits, yang bersaksi itu pemilik riwayat, bukan fans. Imam Abdullah bin Al Mubarak berkata: “isnat itu bagian dari agama”. Tanpa isnat, siapapun bisa berkata apapun.
Ganti kata hadis dengan nasab, logikanya tetap jalan. Kita ketawa sebentar, bayangkan kalau Imam Bukhari hidup hari ini lalu berkata: “Hadis ini Shahih, tapi jangan ditanya sanadnya, nanti merusak cinta”.

Imam al-Bukhari tidak hanya menulis hadis, sudah menulis biografi perawi. Siapa ayahnya, dari mana, kapan lahir, kapan wafat. Detail itu bukan hiasan, itu alat verifikasi.
Imam Dzahabi rahimahullah sangat berani mengkritik bahkan kepada orang Saleh. Beliau sering berkata: “Dia Saleh, tapi riwayatnya lemah”. Ini menunjukkan bahwa akhlak dan validitas ilmiah tidak selalu sejalan.

Sekarang kita tertawa lagi, ada yang berkata: “Kalau tidak percaya, berarti jenis loh”. Kalau semua klaim harus diterima demi adat, maka ilmu mati, yang hidup hanya kultus.
Allah sendiri memerintahkan tabayun: “Ya ayyuhalladzina aman…” Kalau berita saja diperintah untuk dicek, apalagi klaim nasab. Pertanyaan dianggap serangan, padahal dalam sejarah Islam, pertanyaan adalah pintu ilmu.

Imam Malik pernah berkata: “La Adri berkali-kali tidak tahu, itu bukan aib. Yang aib itu berpura-pura tahu lalu marah ketika ditanya”.

Kita tidak sedang mengatakan siapa benar, siapa salah. Itu sedang mengatakan: jawablah dengan data, bukan dengan emosi. Kalau datanya kuat, justru kritik akan runtuh sendiri.
Tapi kalau kritik dibungkam, kecurigaan justru hidup. Di sinilah hakikat berdiri, bukan sebagai hakim manusia, tapi sebagai pengingat bahwa Islam dibangun di atas kejujuran ilmiah.

Kesimpulan:

Kita harus ingat bahwa kebenaran tidak pernah takut pada pertanyaan. Sebaliknya, kebenaran itu senang diuji karena setiap diuji, dia semakin terang.
Yang gelisah, yang marah, yang panik biasanya bukan kebenaran, melainkan klaim yang berdiri di atas kebiasaan, bukan di atas bukti.
Kita harus berani bertanya, berani mengkritik, dan berani menerima kebenaran. Karena kebenaran itu tidak perlu diselamatkan dengan propaganda, karena ia bisa berdiri sendiri.

Semoga kita semua dapat menjadi umat yang berani bertanya, berani mengkritik, dan berani menerima kebenaran. Aamiin.

#Hakimmedsos #NasabHabib#sdiarm 🇮🇩