
TULUNGAGUNG–KH. Abdul Djalil Mustaqim Husen dikenal luas bukan hanya sebagai pengasuh Pondok Pesantren PETA ( Pesulukan Tharikat Agung ) di Tulungagung dan pewaris tarekat Sadziliyah, tetapi juga sebagai tokoh ulama yang aktif membina dan menginspirasi generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) merata di seluruh Jawa.
Salah satu kontribusi besar beliau adalah menginisiasi berdirinya Jam’iyah ANU (Aku Anak NU) pada masa kepemimpinan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Ketua PBNU.
ANU dirancang sebagai sekoci atau wadah penghubung bagi para pemuda muslim yang ingin bergabung dengan Banser (Barisan Ansor Serbaguna), sayap kepemudaan NU yang berperan penting dalam sosial dan keamanan keagamaan.
Organisasi itern ini menjadi ruang pembinaan awal yang mempersiapkan pemuda untuk mengikuti Diklatsar (Pendidikan dan Latihan Dasar) Banser. Setelah mengikuti Diklatsar, anggota ANU yang resmi masuk Banser secara otomatis keluar dari ANU.
Keberadaan ANU yang digagas KH. Abdul Djalil ini berhasil menjaring ribuan generasi muda muslim dari berbagai daerah di Jawa yang kemudian aktif berkontribusi sebagai anggota Banser di seluruh pelosok Jawa.
Hal ini menunjukkan bagaimana perhatian dan kepedulian KH. Abdul Djalil terhadap kaderisasi generasi muda NU tidak terbatas hanya di Tulungagung, tetapi berdampak luas dan merata sebagai pijakan utama pengembangan kepemudaan serta pengokohan organisasi Islam terbesar di tanah air.
Dasar nilai yang beliau pegang erat adalah hadits mulia, “Khoirunnas Anfauhum Linnas”, yang bermakna “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” Prinsip ini menjadi panduan hidup beliau dalam mengayomi umat, membimbing generasi muda dengan penuh kasih sayang, serta melestarikan warisan spiritual dan budaya lokal.
Selain aktif dalam penguatan organisasi kepemudaan, KH. Abdul Djalil juga menjadi tokoh penting dalam dunia olahraga tradisional Indonesia, khususnya melalui pendirian Perguruan Pencak Silat PORSIGAL (Pendidikan Olahraga Silat Indah Garuda Loncat) sejak 2 Maret 1979. Bersama KH Atim Mijanto, KH.Gholib Thohir dan Mbah Badengam.
Beliau menjabat sebagai Penasehat Spiritual Dewan Pengasuh Pusat PORSIGAL, berdampingan dengan para ulama dan tokoh nasional seperti KH. Haiminan Gunardo, KH. Ahmad Satibi, hingga Gus Dur yang juga Presiden Republik Indonesia ke-4.
Dengan penampilan sederhana dan wangi khas parfum yang selalu menyertainya, KH. Abdul Djalil tampil sebagai figur yang ramah, bijaksana, dan menginspirasi. Sikap beliau yang rendah hati dan penuh cinta menjadikannya panutan spiritual dan sosial di masyarakat luas.
KH. Abdul Djalil wafat pada dini hari Jumat Wage, Januari 2005, dan dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren PETA Tulungagung. Namun, warisan pengabdian beliau dalam pengembangan keilmuan, kepemudaan NU, serta pelestarian tradisi dan budaya terus mengalir dan menginspirasi generasi berikutnya di seluruh Jawa.
Sosok beliau menjadi teladan hidup bahwa keimanan dan pengabdian harus dirasakan manfaatnya oleh sebanyak mungkin manusia, sejalan dengan esensi hadits “Khoirunnas Anfauhum Linnas.” KH. Abdul Djalil Mustaqim Husen pun tetap menjadi pelita yang menerangi jiwa dan melanjutkan perjalanan bangsa ini menuju kebaikan yang berkelanjutan.*Imam Kusnin Ahmad*
