Bedah Buku Racikan Kopi Rangga Warsita

Grebek Literasi Kedai & Toko Buku Flavora
BEDAH BUKU
*RACIKAN KOPI RANGGAWARSITA* : _*Dari Tegalsari Merekam Zaman Hingga Negeri Hari Ini*_
Karya: _*Wirastho*_

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, penuh carut marut dan gegap gempitanya informasi namun miskin kedalaman makna, hadir sebuah buku yang mengajak pembaca berhenti sejenak, menyeruput hidup perlahan, dan kembali membaca zaman melalui kesadaran batin.

Dalam rangka Grebek Literasi Kedai & Toko Buku Flavora, akan digelar acara bedah buku Racikan Kopi Ranggawarsita: Dari Tegalsari Merekam Zaman Hingga Negeri Hari Ini, karya penulis, peneliti budaya, dan pegiat literasi serta penggiat sosial, Wirastho.

Buku ini bukan sekedar biografi atau kajian sejarah tentang Raden Ngabehi Ranggawarsita. Buku ini adalah perjalanan rasa. Sebuah upaya membaca ulang kegelisahan zaman melalui simbol kopi, kesunyian, pesantren, dan laku hidup yang membentuk kesadaran manusia Jawa.

Melalui sosok Bagus Burhan; nama kecil Ranggawarsita, pembaca diajak memasuki dunia Pesantren Tegalsari, ruang sunyi yang dalam buku ini digambarkan bukan hanya sebagai tempat belajar ilmu, tetapi sebagai kawah pembentukan jiwa. Di sana, adab ditempatkan di atas pengetahuan, kesunyian menjadi ruang perjumpaan dengan diri sendiri, dan pahit kehidupan dipahami sebagai bagian penting dari proses menjadi manusia.

Menggunakan pendekatan sastra kontemplatif, buku ini memparafrasa ruh karya-karya besar seperti Serat Kalatidha dan Serat Sabda Jati, serta wasiat dan wejangan Kyai Ageng Kasan Besari ke dalam bahasa dan pola pikir kekinian. Tidak hadir sebagai ceramah atau doktrin, melainkan sebagai percakapan sunyi yang dekat dengan kegelisahan manusia hari ini.

Dalam buku ini, kopi menjadi metafora kehidupan. Pahit bukan sesuatu yang harus ditolak, melainkan dirasakan perlahan agar manusia memahami kedalaman makna di baliknya. Seperti proses meracik kopi, manusia diajak belajar tentang kesabaran, pengendapan, dan keberanian menghadapi realitas zaman.

Acara bedah buku ini akan menjadi ruang dialog budaya dan refleksi bersama mengenai:
• Spirit membaca zaman ala Ranggawarsita
• Tegalsari sebagai pusat pembentukan intelektual dan spiritual Jawa
• Relevansi “zaman edan” dengan kondisi sosial hari ini
• Kesadaran eling lan waspada di tengah krisis nilai modern
• Literasi sebagai jalan merawat kewarasan dan kebudayaan

Selain membahas isi buku, forum ini juga diharapkan menjadi ruang temu bagi para pecinta literasi, pengelana budaya, pegiat kopi, santri, seniman, dan siapa saja yang masih percaya bahwa kata-kata dapat menjadi cahaya di tengah gelapnya zaman.
Sebagaimana secangkir kopi yang diseruput perlahan, buku ini tidak menawarkan jawaban instan. Ia mengajak pembaca untuk kembali mendengar suara paling sunyi dalam dirinya sendiri.

Karena mungkin, di tengah hiruk pikuk negeri hari ini, yang paling kita butuhkan bukan sekadar informasi, melainkan kesadaran.
*“Membaca zaman, sejatinya adalah membaca diri sendiri.”*