50 Jawara Tiban Jawa Timur Adakan Lawatan Budaya ke Lampung Timur: Merajut Persaudaraan Lewat Seni Tradisi.

BLITAR — Semangat persaudaraan dan cinta budaya kembali menggetarkan tanah Blitar, Jawa Timur. Puluhan jawara seni tradisi tiban dari berbagai daerah di Jawa Timur diberangkatkan menuju Lampung Timur untuk mengikuti pentas lawatan budaya yang akan digelar pada 23–24 Mei 2026.

Lebih dari sekadar ajang adu kekuatan, perjalanan ini membawa misi mulia: mempererat silaturahmi dan persatuan sesama pecinta kesenian tiban di Indonesia.

Tiban adalah salah satu tradisi bela diri turun-temurun yang kaya akan nilai budaya dan spiritualitas. Bersama dengan kesenian lain seperti kuda lumping, reog, dan pencak dor, tiban menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Jawa Timur, khusnya Blitar, Kediri,Trenggalek dan Tulungagung yang masih lestari di tengah masyarakat.

Pembina Paguyuban Tiban Blitar–Tulungagung, Guntur Wahono, mengungkapkan bahwa keberangkatan ini bukan hanya soal pertunjukan fisik.

“Nawaitu kita berangkat ke sana adalah menjalin silaturahmi, mencari saudara, dan mempererat persatuan sesama pecinta kesenian tiban,” kata Guntur Wahono ketika melepas rombongan di Dusun Tambakboyo, Desa Sumber, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, Jumat (22/5/2026).

Sekitar 50 jawara tiban dari Kabupaten Blitar, Tulungagung, Kediri, hingga Trenggalek tergabung dalam rombongan yang menempuh perjalanan darat menuju Lampung Timur menggunakan bus.

Suasana pelepasan terasa hangat dan penuh kekeluargaan, turut dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti Bupati Blitar, Rijanto, yang juga penasihat Tiban Kabupaten Blitar, serta para pengurus Paguyuban Tiban Blitar Raya.

Dalam arahan penuh makna, Guntur Wahono mengingatkan para jawara bahwa mereka mengemban suatu tanggung jawab besar. “Keberangkatan ini bukan membawa nama pribadi, tetapi membawa nama besar Kabupaten Blitar dan Jawa Timur,” tegas Guntur yang juga anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim ini.

Guntur,juga menekankan pentingnya menjaga sikap dan sportivitas, serta menyelesaikan setiap persoalan secara dewasa dan damai sesuai aturan arena agar kesenian tiban tetap terhormat.

Nilai-nilai luhur dalam tiban bukan hanya soal kekuatan fisik atau pertunjukan cambuk, melainkan lebih pada persaudaraan, penghormatan terhadap warisan leluhur, dan kesempatan untuk mempererat jaringan antar komunitas budaya. Lawatan ke Lampung Timur ini menjadi bukti nyata bahwa seni tradisi tiban tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang, merambah panggung nasional dan memperkuat jati diri budaya Nusantara.

Acara pentas adu laga yang akan dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Lampung Timur tersebut diharapkan mampu menjadi momentum promosi budaya lokal sekaligus memperkokoh ikatan pelaku seni tradisional di Indonesia. Kehadiran para jawara tiban dari Jawa Timur diharapkan menjadi duta budaya yang menginspirasi dan memperkenalkan kekayaan tradisi kepada masyarakat luas.

Dengan semangat persaudaraan dan kecintaan terhadap budaya, perjalanan ini bukan hanya sebuah lawatan, tetapi panggilan untuk terus melestarikan dan menghidupkan khazanah warisan budaya negeri agar tetap berdenyut dalam setiap langkah generasi mendatang.*Imam Kusnin Ahmad*