
By : Drs. Husnu Mufid, M. PdI PAMRED MENARAMADINAH.COM.
Penggiringan Opini Menuju Muktamar NU 35 terus berlanjut agar calon yang mampu membalikkan marwah NU kearah yang lebih baik menolak dijalonkan.
Hal tersebut masifnya pemberitaan
yang menempatkan Prof. KH. Said Aqil Siradj sebagai subjek menolak dicalonkan sebagai Rais Aam pada Muktamar NU ke-35 Agustus 2026 mendatang.
Dalam ajaran Islam mencalonkan diri sebagai pemimpin tidak bisa dibenarkan. Haram untuk dipilih. Hanya orang orang yang tidak mencalonkan diri sebagai pemimpin Islam itulah yang layak untuk dipilih.
Nah komentar KH. Said Aqil Sirat menolak untuk mencalonkan diri sebagai Calon Rois Amm PBNU patut mendapat apresiasi. Inilah etika dalam sistem pemilihan dalam ajaran Islam.
Beliau mengerti betul ajaran Islam tidak boleh mencalonkan diri dikomunitas Islam. Kecuali bila seluruh Jamiyah NU mencalonkan KH. Said Aqil Siraj untuk menjadi Rais Am di Muktamar NU ke 35.
Narasi ini harus dibaca sebagai instrumen psikologis untuk nalar publik secara psikologi para anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) untuk memilih KH. Said Aqil Siraj.
Perlu dipahami bahwa kursi Rais Aam bukanlah jabatan politis yang tunduk pada mekanisme pencalonan diri. Sehingga menjadikan opini bahwa Prof. KH. Said Aqil Siradj tidak gila jabatan. Kalau dipilih akan siap melaksanakan. Jika tidak dijalankan ya tidak ada persoalan. Karena berjuang di NU tidak harus menjadi Rais Am.
Secara psikologis, anggota AHWA yang merupakan para ulama senior akan memilih orang yang tidak berambisi mwngejar jabatan Rois Am PBNU
Mengingat legitimasi Rais Aam murni berada di tangan AHWA sesuai AD/ART NU, bukan berdasarkan pernyataan kesediaan atau penolakan di ruang publik. Tapi harus berdasar syariat Islam.
Perlu diketahui akhir akhir ini ada upaya membelokkan fatsun organisasi ke arah politik praktis dengan memanfaatkan media massa sebagai alat tekan adalah ancaman nyata bagi independensi NU.
Jika nalar publik dan psikologi AHWA berhasil disetir oleh narasi media onlin, cetak dan TV, maka hak prerogatif AHWA dalam menentukan sosok yang paling tepat akan kehilangan otonominya.
Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap konspirasi yang mencoba membungkam figur seperti Prof. KH. Said Aqil Siradj dengan menggunakan media massa.
Kepemimpinan di jajaran Syuriyah adalah amanah keulamaan yang suci, yang seharusnya dijauhkan dari intrik-intrik media yang sarat kepentingan politik.
Jangan biarkan AHWA menjadi korban dari skenario yang sengaja dibentuk oleh sekelompok orang untuk mendikte arah masa depan jamiyah dengan menyingkirkan KH. Said Aqil Siraj.
Semoga AHWA memilik beliaunya. Karena pendidikan ilmu agamanya cukup tinggi dan punya pengalaman memimpin NU. Sehingga tidak ada konflik PBNU lagi. Dimana NU adem dan ayam. NU Kultural dan PBNU Berjalan seiring menuju zaman kemasan.
