
“Puas” & “Sangat Memuaskan” itulah komentar kami dan 200 jamaah yang ikut program unggulan “Ngeloni Ka’bah”.
Banyak para jamaah yakin hanya di KBIH Bryan Makkah program ini ada.
Bagaimana teknisnya, berikut ini laporan Ustadz H. Yahya Aziz dari Masjidil Harom Mekkah kepada redaksi MenaraMadinah.Com.
“Sangat Istimewa” itulah komentar H.Moh.Afandi & H.Eko Suhaeriyadi jamaah Bryan Mekkah yang ikut program ini. Mereka berdua bercerita kami berhasil mencium HAJAR ASWAD. Allah Akbar…!
Ada momen dalam hidup yang rasanya tidak cukup diungkap dengan kata-kata. Momen ketika dada sesak, air mata deras, dan seluruh tubuh bergetar di depan Baitullah. Momen itu yang oleh KBIH Bryan Makkah Surabaya disebut “Ngeloni Ka’bah” (merangkul Ka’bah).
Tahun ini, program unggulan KBIH BM Surabaya kembali menyentuh hati 200 jamaah haji binaan. Dibimbing langsung oleh tiga sosok yang sudah tidak asing bagi jamaah KH.Imam Chambali, KH. Syukron Jazilan dan KH. Ali Zainal Abidin. Tiga kyai yang tidak hanya mengajar manasik, tapi juga menemani jamaah sampai doanya ke langit.
1). Duduk dengan merenung, Shalat, Dzikir di depan ka’bah
Tidak ada thowaf, 200 jamaah ini hanya ingin merangkul ka’bah. KH. Syukron dan KH. Ali Zainal mengajak mereka duduk melingkar di pelataran Masjidil Haram, tepat di depan Ka’bah. Di bawah pancaran lampu dan kesejukan malam Mekah, para jamaah shalat sunnah sendiri-sendiri. Lalu berdzikir. Lisan kompak menyebut Asma Allah, hati satu-satu mencurahkan rindu. Tidak ada yang buru-buru. Karena ini bukan sekadar ritual, ini pertemuan rindu seorang hamba dengan Tuhannya dan rumah-Nya.
2). Pengarahan : Apa itu “Ngeloni Ka’bah”
Setelah dzikir, KH. Syukron Jazilan dan KH. Ali Zainal memberi pengarahan dengan suara yang lembut tapi menggetarkan. “Ngeloni Ka’bah itu artinya memeluk Ka’bah seperti anak memeluk ibunya yang sudah lama dirindukan,” jelas KH. Syukron.
Beliau menjelaskan caranya: mencium Hajar Aswad jika mampu. Jika tidak, minimal menyentuhkan tangan, lalu mencium tangan itu. Atau menempelkan pipi ke dinding Ka’bah Multazam sambil berdoa. “Itu tempat yang mustajab. Nabi Ibrahim pernah berdiri di sana. Rasulullah pernah berdoa di sana. Selipkan hajat kalian di situ,” pesan KH. Ali Zainal.
3). Teknik dari KH.Syukron : Menembus Kerumunan.
Semua jamaah tahu, mendekat ke Hajar Aswad dan dinding Ka’bah bukan perkara mudah. Desakan manusia dari seluruh dunia, postur tubuh besar dari Afrika, Nigeria, Pakistan, bisa membuat jamaah Indonesia mundur.
Di sinilah KH. Syukron membagikan teknik.
Teknik pertama untuk para jamaah laki-laki :
:Buat barisan rapat seperti pasukan tentara. Alhamdulillah jamaah Bryan Makkah ada pensiunan Polri, TNI dan ada yang masih aktif seperti H. Jufri, H. Edi Priyono, H. Arifian Wahyu Irfandi dan H.Bayu Firmandany. Mereka semua membantu KH.Sykron Jazilan.
Bahu menempel bahu, tidak ada celah. KH. Syukron di depan, KH. Ali Zainal di tengah barisan. Sambil terus berdzikir “Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah”, barisan berjalan pelan tapi pasti. Tidak mendorong, tidak kasar, tapi kokoh. Perlahan menembus kerumunan jamaah-jamaah berbadan besar. Doa jadi tameng, kekompakan jadi kekuatan.
4.). Teknik kedua untuk para ibu-ibu
KH. Syukron paham, fisik ibu-ibu lebih rentan terhimpit. Maka tekniknya berbeda. Para suami diminta menggandeng erat istrinya masing-masing, membentuk “benteng” dari tubuhnya sendiri. Bagi ibu-ibu yang berhaji tanpa suami, KH. Syukron sendiri yang turun tangan membimbing. Satu-satu, beliau arahkan, lindungi, dan doakan. “Ibu, pelan-pelan. Tarik napas. Ini rumah Allah, Allah yang jaga,” ucapnya sambil menuntun.
Saya sendiri membentengi istri kami di bawah desakan jamaah dari Afrika.
Ternyata istri kami lebih lama menyentuh dinding ka’bah.
5.). Alhamdulillah Hajat Terkabul
Dengan bimbingan, kesabaran, dan pertolongan Allah, hasilnya luar biasa. Hampir semua dari 200 jamaah itu berhasil “ngeloni Ka’bah”. Ada yang tangannya sampai menyentuh Kiswah. Ada yang pipinya menempel di dinding Multazam dan menangis sejadi-jadinya. Dan MasyaAllah, banyak juga yang Allah mudahkan sampai bisa mencium Hajar Aswad – batu dari surga yang dicium Rasulullah.
Tangis haru pecah di mana-mana. Ada bapak yang sudah 30 tahun menabung akhirnya bisa memeluk Ka’bah. Ada ibu yang berdoa untuk anaknya yang sakit, dan air matanya jatuh di atas Kiswah.
6). Sukses Karena Berkah & Ridlo Allah.
Program ini sukses bukan karena tekniknya saja. Tapi karena berkah bimbingan tiga kyai yang ikhlas, kesabaran jamaah, dan yang paling utama: ridha serta pertolongan Allah SWT.
KH. Ali Zainal Abidin menutup kegiatan dengan doa: “Ya Allah, jadikan pelukan kami pada Ka’bah-Mu ini sebagai pelukan yang Engkau terima. Jadikan tangis kami sebagai tangis taubat yang Engkau ampuni.”
Pulang dari Multazam, langkah jamaah terasa ringan. Rindu sudah terobati, meski mereka tahu rindu itu akan tumbuh lagi. Karena sekali mencium Ka’bah, hati akan selalu ingin kembali.
Semoga Allah mudahkan kita semua merasakan “Ngeloni Ka’bah” suatu hari nanti.
Hati kami menangis : Ya Allah tidak terasa 3 hari lagi kami meninggalkan rumah-Mu (Baitullah), ingin sekali saya bersama istri , anak-anak kami untuk memenuhi panggilan-Mu lagi…..aamin. Semoga !
