
“Astaghfirullah, Innalillahi…Allah Akbar”, itulah ucapan penumpang bis 3, ketika rem bis ngeblong,…”brak”..”brak”…”brak”.. bis kami mengalami kecelakaan, menabrak mobil sedan kaca belakang pecah semuanya.
Inilah musibah jamaah haji Bryan Mekkah. Bagaimana kisahnya ?
Berikut ini laporan Ustadz Yahya Aziz dari Laut Merah Jeddah Arab Saudi kepada redaksi MenaraMadinah.Com.
Siang itu, 300 jamaah haji Bryan Mekkah merasa senang diajak berwisata di Laut Merah kota Jeddah Arab Saudi.
Tepat pukul 13.00 (siang WAS) jamaah berkumpul di lobi hotel untuk doa bersama sebelum berangkat ke Laut Merah. Doa keberangkatan dipimpin langsung oleh KH.Imam Khambali pembimbing kami.
8 bis berangkat, saya ada di bis 3, sebelum berangkat saya ajak bersama sama membaca solawat, agar selamat selama perjalanan ke tempat tujuan.
Rombongan bis 3 sangat bahagia berwisata ke laut merah. Di dalam bis setelah berdo’a suasananya hangat. Ada yang ngobrol pelan, ada yang bersandar lalu tertidur nyenyak, sebab jarak hotel kami menuju laut merah sekitar 80 km.
Kami semua yakin perjalanan ini aman, sebelum berangkat baca doa dipimpin kyai Imam Chambali, ketika di bis kami ajak baca solawat bersama-sama. Niatnya sangat baik.
Pada kilometer terakhir hampir dekat wisata Laut Merah. Sopir kami manusia biasa, kelelahan, matanya berat tapi dipaksa matanya melek.
Di depannya ada mobil sedan, tiba-tiba rem mendadak Ngeblong….maaf pak haji remnya ngeblong…ngeblong..ngeblong begitu kata sopir asal Jawa barat kepada kami yang persis duduk di belakangnya.
Bis seperti ditarik ke depan, lalu menghantam bumper sedan yang ada di depannya.
Jadi siang itu ada 2 kecelakaan, bis kami nabrak sedan…..sebelah kami sedan menabrak sedan.
Suara benturan itu yang membangunkan semua 41 penumpang rombongan kami. Kaget….panik…terkejut…suara istighfar jadi satu.
Baru beberapa detik lalu kami bermimpi, sekarang sudah berhadapan dengan kenyataan pahit : “KECELAKAAN”.
Saya sebagai karom 3 langsung turun di bis, memfoto bodi bis dan sedan yang tertabrak
Spontan seluruh penumpang saya ajak berdoa agar bisa selesai secara damai.
Saya kirim WA dan foto bis menabrak ke group WA B M 2026.
“Mohon doanya geh, bis kami rombongan 3 kecelakaan, remnya ngeblong, sopir panik dan nabrak mobil sedan.
Langsung KH Imam Chambali merespon : “Semoga Allah cepat memberi pertolongan”.
KH.Ali Zainal, KH.Syukron juga WA kami, ya saya katakan ini musibah ujian kami.
Sempat muncul pertanyaan di kepala para penumpang jamaah rombongan bis 3 :
1.Lho bukankan kita sudah berdoa tadi di lobi hotel dan membaca solawat di bis ?
2.Bukannya niat kita baik wisata halal, tadabbur alam di laut merah ?
3.Bukannya kita beribadah datang ke Jeddah, bukan bermaksiat ? Itulah pertanyaan-pertanyaan di bis rombongan kami.
Disinilah Allah mengajari kami, berdo’a bukan jaminan bebas musibah. Berdo’a itu supaya hati kuat saat musibah datang. Takdir tetap berjalan, tugas kami ridho apa kehendak Allah.
Dari sinilah Allah menolong kami, do’a KH.Imam Chambali dikabulkan Allah.
Saya mengira terjadi pertengkaran antar sopir bis dengan sopir sedan.
Sopir sedan turun duluan, wajahnya kaget campur marah dan emosi. Sopir bis ikut turun, badan gemetar sambil minta maaf karena remnya ngeblong
Kami kira terjadi adu jotos dan bertengkar di situ. Ternyata tidak.
Mereka bicara dari hati ke hati, saling cek kendaraan masing-masing dan saling minta maaf.
Polisi datang mengatur lalu lintas, dan mengatakan diselesaikan secara kekeluargaan.
Dan Alhamdulillah tidak ada yang merasa paling benar, tidak ada kata kata kasar yang keluar. Mereka diskusi singkat, lalu berpelukan bersalaman, sepakat selesai secara damai.
Bis 1 datang menjemput rombongan kami, sesampai di laut merah, hampir semua jamaah menemui kami menanyakan kronologi kejadiannya.
Itu kalau di Surabaya, pasti gegeran….ha…ha…ha kata H.Maulan.
Sore itu di laut merah kota Jeddah kami mendapat 3 pelajaran kehidupan yang lebih mahal dari tiket wisata.
Pelajaran itu adalah :
1.Jaga amanah, sopir membawa 41 penumpang seharusnya cek dulu kondisi bis. Lelah, ngantuk itu tanda tubuh minta istirahat. Memaksa jalan tanpa lihat kondisi bis sama dengan menghianati amanah.
2.Menerima takdir ilahi, musibah bukan hukuman, tapi teguran dan ujian. Orang beriman ditimpa duri saja dapat pahala kalau sabar.
3.Mengutamakan Akhlaq. Kerusakan mobil bisa diganti, hubungan karena emosi susah diperbaiki. Saling memaafkan dan berangkulan dua sopir itu yang bikin semua penumpang lega.
Bis depan rusak, mobil sedan penyok, tapi hati kami yang tadinya panik jadi tenang.
Sore itu LAUT MERAH bukan tujuan akhir wisata kami. Tujuan akhir adalah sebuah KESADARAN , bahwa hidup ini adalah TITIPAN , hati-hati itu ibadah dan MEMAAFKAN itu adalah suatu KEMENANGAN.
Semoga seluruh jamaah haji Bryan Mekkah menjadi haji yang mabrur. Amin.
