Ratusan Kilometer, Satu Permintaanku : “Doa Keramatmu, Haji”.

Oleh : Yahya Aziz, Jamaah Haji 2026

Ratusan kilometer bukan sekadar jarak di peta dari Kediri yang udaranya sejuk, dari Lamongan yang tanahnya keras tapi hatinya lembut, mereka berangkat. Naik kendaraan, bergantian nyetir, kadang numpang. Mata ngantuk, badan pegal, tapi langkah nggak pernah ragu.


Itulah keluarga Lamongan Drs Hasani & Dra Sumiarsih dan putranya Yusron, putrinya Hibah dari Sukodadi Lamongan.
Bapak Abbas dan istrinya Sofiah, putranya Dika dan putrinya hidayah dari Glagah Lamongan.
Bapak Abdul Muiz dan istrinya Heni dan putranya Alfin dari Blimbing Kediri.
Dan Rombongan satu mobil elf ibu Mutawaridah, Bapak Mundzir dan bapak Jamil dari Kaliboto Kediri.

Tujuan mereka cuma satu: Surabaya. Bukan ke mall, bukan ke pantai Kenjeran. Mereka datang untuk menyambung “SEDULURAN SAKLAWASE” Persaudaraan yang tidak diukur KTP, tidak diukur suku. Sehati, sebangsa, setanah air. Jauh-jauh hanya biar bisa salaman, duduk sebentar, dan bilang “Kulo nuwun, Mas… Mbak…”

Dan saat ditanya “Mau apa jauh-jauh ke sini?”, jawabannya bikin dada sesak.
“Mohon doa, Mbak. Doa keramatnya orang yang baru pulang haji.”

Mereka yakin betul. Orang yang baru kembali dari Baitullah itu auranya beda. Wajahnya lebih teduh. Baru saja tawaf mengelilingi “Ka’bah” tujuh putaran. Baru saja berlari kecil antara “Shafa dan Marwah”.
Baru saja sujud di depan “Multazam”, tempat doa yang tidak pernah ditolak. Ada pusaran energi Ka’bah yang mereka bawa pulang ke rumah. Energi yang tidak kelihatan, tapi cahaya yang menembus terasa sampai ke hati.

Karena itu mereka percaya: doa orang yang baru haji itu nyampai. Bukan nyampai ke tembok, tapi tembus. Tidak menembus atap rumah, menembus awan, menembus jendela pintu langit… Tapi menembus sampai ke Arsy. Langsung didengar Sang Pemilik Langit dan Bumi.

Saya dan istri cuma bisa menunduk waktu mereka datang. Tidak ada yang dibawa. Tidak ada hantaran mewah. Yang ada cuma mata berbinar, tangan yang gemetar minta didoakan, dan lisan yang berulang-ulang bilang “Ihklas”, Mbak. Pengin banget ke sana”. Lelah? Ada. Tapi mereka ketawa sambil jawab: _Lelah… jadi… Lillah_. Lelah ini kami persembahkan karena Allah.

Sore itu rumah jadi ramai. Setelah ngobrol, setelah kisah lucu tentang antri di Mina, kisah haru waktu pertama kali lihat Ka’bah… semua cair. Mereka duduk melingkar. Tidak ada sekat Kediri, Tidak ada sekat Lamongan, Tidak ada sekat Surabaya. Yang ada cuma saudara yang sama-sama rindu Baitullah.

Lalu kami angkat tangan. Langit Surabaya sore itu jadi saksi:

A. Wahai Allah :
Sehatkan jasad jamaah Kediri dan Lamongan. Kuatkan langkah mereka yang sudah menempuh ratusan kilometer demi silaturahmi. Panjangkan umur dalam taat. Dan limpahkan rizki yang luas, halal, barokah… mengalir terus seperti air Zamzam. Diminum nggak habis-habis, dibagi nggak pernah kurang.

B. Wahai Allah :
Ya Rabb, panggil nama mereka satu persatu. Yang malam ini masih menabung receh demi receh, datangkan ke Baitullah-Mu. Yang air matanya jatuh tiap lihat Ka’bah di TV, pertemukan langsung. Panggil kami semua, tanpa terkecuali, untuk haji dan umroh ke tanah suci-Mu. Kabulkan. Alfatihah.

Mereka pulang menjelang Magrib. Langkahnya sama-sama lelah, tapi wajahnya beda. Ringan. Tenang. Karena ratusan kilometer yang ditempuh hari ini, sudah ditukar dengan satu keyakinan: doa sudah dipanjatkan, tinggal menunggu panggilan.

Wahai saudaraku dari Kediri, Lamongan…
Jalanmu jauh, tapi doamu dekat. Lelahmu banyak, tapi pahalanya lebih banyak lagi.
Insha Anda wahai saudaraku dari Kediri – Lamongan suatu saat Anda ditakdirkan haji dan dipanggil Allah mendapat Undangan untuk mengunjungi “Baitullah” dan ziarah ke “Roudhoh” makam rasulullah Saw…..alfatihah.
Barakallah…Semoga bermanfaat….Aamin