Madiun Benteng Utama Ketahanan Pangan: Modernisasi Alsintan dan Percepatan Tanam Jamin Surplus Beras Jatim. O.

 

Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH Jurnalis Senior Jawa Timur.

JAWA TIMUR kembali menegaskan posisinya sebagai lumbung pangan nasional. Di tengah tantangan kenaikan target produksi nasional dan perubahan iklim, Kabupaten Madiun ditetapkan sebagai garda terdepan untuk mempertahankan surplus beras yang telah lama diraih.

Melalui gerakan panen serentak dan percepatan tanam yang dipimpin langsung Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, kuncinya kini jelas: transformasi teknologi pertanian dan efisiensi waktu kerja menjadi senjata utama agar provinsi ini tetap menjadi penyangga pangan bagi jutaan rakyat Indonesia.

Kabupaten Madiun bukan sekadar nama di peta pertanian Jawa Timur, melainkan wilayah strategis yang memiliki kontribusi sangat besar terhadap ketersediaan pangan nasional. Pada tahun 2025 saja, wilayah ini mencatatkan luas panen mencapai 82.826 hektare dengan total produksi 480 ribu ton gabah kering giling (GKG). Angka yang sangat mengesankan ini dibarengi dengan produktivitas rata-rata mencapai 5,80 ton per hektare.

Angka ini membuktikan bahwa tanah Madiun subur dan masyarakatnya ulet, sehingga layak dipertahankan sebagai salah satu pusat penghasil beras tertinggi di Jawa Timur.

Hal ini ditegaskan langsung Bupati Madiun, H. Hari Wiryanto, saat membuka kegiatan Gerakan Panen dan Percepatan Tanam di Desa Gading, Kecamatan Balerejo, Jumat lalu. Menurutnya, dengan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Madiun berkomitmen menjaga prestasi ini sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat petani agar kesejahteraan mereka tetap terjaga.

“Efisiensi pengolahan lahan dan percepatan tanam menjadi kunci, didukung sinergi lintas sektor termasuk unsur TNI/Polri, agar target produksi selalu terpenuhi,” tegasnya.

Namun, tantangan ke depan tidak bisa dianggap ringan. Tahun 2026 ini, Kementerian Pertanian menaikkan target produksi bagi Jawa Timur menjadi 2,8 juta ton GKG, naik signifikan dari tahun sebelumnya yang sebesar 2,4 juta ton.

Peningkatan target ini menuntut perubahan cara kerja dan pola pikir. Di sinilah peran strategis modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan) menjadi sangat krusial.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menekankan bahwa modernisasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Jawa Timur memiliki modal luar biasa, yaitu jumlah petani muda terbanyak di Indonesia.

Sumber daya manusia yang berusia produktif dan lebih terbuka terhadap inovasi ini harus dibarengi dengan peralatan yang canggih.

“Kita harus memanfaatkan transplanter, rotavator, drone penyemprot, hingga mesin panen gabungan atau combine harvester. Teknologi ini yang akan mempercepat pekerjaan dan meningkatkan hasil,” ujar Khofifah saat turun langsung ke sawah dan mencoba alat transplanter bersama petani.

Salah satu bukti nyata dukungan ini terlihat saat Gubernur menyerahkan bantuan satu unit rotavator kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Rukun Desa Gading.

Bagi para petani di sana, alat ini adalah anugerah besar. Ketua Gapoktan, Suradi, menceritakan bahwa sebelumnya dengan alat bajak manual, seorang petani hanya mampu mengolah seperempat hektare lahan dalam sehari. Kini, dengan rotavator, kapasitasnya melonjak menjadi dua hektare per hari.

“Proses jauh lebih cepat dan tenaga lebih hemat. Kami sangat senang, dan kami minta pendampingan agar kami bisa mengoperasikannya dengan baik,” ungkap Suradi penuh semangat.

Langkah yang diambil Pemprov Jatim dan Pemkab Madiun sangat tepat dan strategis jika dilihat dari berbagai aspek:

1. Efisiensi Waktu Adalah Kunci: Peningkatan target produksi menuntut percepatan masa tanam. Dengan menggunakan bibit unggul berumur pendek dan tahan kekeringan, serta didukung mesin yang mempercepat pengolahan lahan dan penanaman, memungkinkan lahan yang sama dapat dipanen hingga tiga kali dalam setahun. Ini adalah lompatan produktivitas yang signifikan.

2. Adaptasi Perubahan Iklim: Pola tanam tidak bisa lagi dilakukan dengan cara lama yang mengandalkan kebiasaan semata. Diperlukan pola tanam adaptif berbasis teknologi serta penguatan irigasi melalui pompanisasi dan rehabilitasi jaringan.

Langkah ini menjamin pasokan air tetap terjaga meski cuaca tidak menentu.
3. Pemberdayaan Petani Muda: Melibatkan dan membiasakan petani muda dengan teknologi pertanian canggih akan menutup jurang keterbelakangan teknologi di pedesaan. Jika anak muda nyaman dan mampu menggunakan mesin, regenerasi pertanian akan berjalan lancar dan masa depan pangan lebih terjamin.

Ada beberapa terobosan cerdas dalam kebijakan ini yang patut diapresiasi:

-Pola Tanam Tiga Kali Panen: Penggunaan bibit berumur pendek adalah inovasi yang sangat cerdas. Tanpa harus memperluas lahan yang sudah terbatas, hasil panen digandakan dengan mempersingkat siklus tanam.

-Sistem Pendampingan Teknis: Pemerintah tidak hanya menyerahkan alat, tetapi juga menyiapkan pendampingan. Ini memastikan investasi alat mahal tersebut tidak sia-sia karena petani benar-benar paham cara pakai dan perawatannya.

-Sinergi Lintas Sektor: Melibatkan TNI/Polri, instansi pusat, BPS, hingga Pupuk Indonesia menciptakan ekosistem dukungan yang kuat. Petani tidak bekerja sendiri, tetapi didukung sistem yang utuh dari hulu ke hilir.

Kepada para petani Madiun dan segenap insan pertanian di Jawa Timur, inilah saatnya kita bangga dan bekerja lebih semangat lagi! Jawa Timur adalah provinsi penyangga pangan terbesar, dan Madiun adalah salah satu jantungnya. Negara sangat bergantung pada keringat dan kerja keras kalian.

Jangan ragu untuk mencoba teknologi baru, jangan takut menggunakan mesin canggih, karena itu semua disiapkan untuk meringankan beban kalian dan melipatgandakan hasil kerja kalian. Pemerintah telah berjanji mendukung, menyediakan alat, bibit unggul, dan memastikan air tersedia. Tugas kalian hanyalah bekerja cerdas dan rajin di lahan masing-masing.

Ingatlah, beras yang kalian tanam adalah kehidupan bagi jutaan orang. Keberhasilan kalian adalah keberhasilan bangsa. Dengan semangat baru, alat canggih, dan bibit unggul, mari kita buktikan bahwa kita mampu memenuhi target yang lebih tinggi, menjaga surplus beras, dan menyejahterakan keluarga kita sendiri. Maju terus petani Indonesia, kalian adalah pahlawan pangan sejati.*Wallahu A’lam Bisshawab*