
Prof. Mahmud Mustain, Modified AI, 2026
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
*Abstrak*
Artikel ini mengkaji ulang (reaktualisasi) ontologi bilangan kompleks—yang terdiri dari komponen real dan imajiner—dalam perspektif sinergi sains dan iman. Dengan pendekatan filosofis dan interdisipliner, tulisan ini menegaskan bahwa realitas tidak semata-mata terbatas pada yang empiris (real), tetapi juga mencakup dimensi non-empiris (imajiner) yang memiliki eksistensi bermakna. Reaktualisasi ini diharapkan mampu menjembatani dikotomi antara sains modern dan nilai spiritual dalam memahami hakikat realitas.
*Pendahuluan*
Dalam perkembangan matematika modern, bilangan kompleks sering dianggap sebagai konstruksi abstrak yang “tidak nyata” karena mengandung unsur imajiner. Namun dalam praktiknya, konsep ini justru menjadi fondasi penting dalam berbagai bidang seperti fisika, teknik elektro, hingga mekanika kuantum.
Dalam kerangka sinergi sains dan iman, pertanyaan ontologis muncul:
1. Apakah yang disebut “realitas” hanya yang dapat diindra dan diukur?
2. Ataukah realitas juga mencakup dimensi yang tidak tampak tetapi memiliki pengaruh nyata?
Di sinilah pentingnya reaktualisasi ontologi bilangan kompleks sebagai metafora sekaligus model epistemologis untuk memahami realitas yang utuh.
*Hakikat Ontologi Bilangan Kompleks*
Secara matematis, bilangan kompleks dinyatakan sebagai:
= a + ib
dengan:
a dan b sebagai bagian real
ib sebagai bagian imajiner
i sebagai unit imajiner
Dalam ontologi klasik, real sering diidentikkan dengan “yang ada”, sedangkan imajiner dianggap “tidak ada”. Namun dalam matematika modern, keduanya memiliki status eksistensi yang setara dalam sistem formal.
Reaktualisasi ontologi di sini adalah menggeser pemahaman dari dualisme ke integrasi.
*Ontologi Real–Imajiner dalam Perspektif Sains*
Dalam sains:
* Komponen real → hasil observasi, data, eksperimen
* Komponen imajiner → model teoretis, asumsi, konstruk abstrak
Menariknya, banyak fenomena fisika tidak dapat dijelaskan tanpa komponen imajiner. Dalam mekanika kuantum, misalnya, fungsi gelombang menggunakan bilangan kompleks untuk menggambarkan probabilitas realitas fisik.
Artinya:
yang “imajiner” bukan tidak nyata, tetapi merupakan bagian dari cara realitas bekerja.
*Ontologi Real–Imajiner dalam Perspektif Iman*
Dalam dimensi iman:
* Real → amal, tindakan, perilaku nyata
* Imajiner (ghaib) → niat, ruh, keikhlasan, nilai
Dalam tradisi spiritual, justru dimensi yang tidak terlihat sering dianggap lebih fundamental daripada yang tampak. Amal tanpa niat kehilangan makna, sebagaimana bagian real tanpa imaginer kehilangan arah.
*Reaktualisasi Ontologi: Dari Dikotomi ke Kesatuan*
Reaktualisasi yang diusulkan mencakup beberapa prinsip:
1. Prinsip Kesatuan Eksistensi
Real dan imajiner bukan dua dunia yang terpisah, melainkan dua dimensi dari satu realitas.
2. Prinsip Fungsionalitas
Sesuatu dianggap “ada” jika memiliki fungsi dan dampak, meskipun tidak terindra.
3. Prinsip Keterhubungan (Interconnectedness)
Setiap fenomena real selalu dipengaruhi oleh dimensi non-real (niat, ide, nilai).
4. Prinsip Aktualisasi
Dimensi imajiner harus diwujudkan dalam realitas agar memiliki dampak nyata.
*Model Sinergi: Persamaan Kehidupan Kompleks*
Kehidupan manusia dapat dimodelkan sebagai:
Di mana:
* Real = tindakan, sistem, struktur
* Makna (imaginer) = nilai, niat, tujuan
1. Tanpa makna, tindakan menjadi kosong.
2. Tanpa tindakan, makna menjadi ilusi.
*Implikasi Filosofis dan Praktis*
1. Dalam Epistemologi Ilmu
Ilmu tidak hanya berbasis empirisme, tetapi juga membuka ruang bagi makna dan nilai.
2. Dalam Etika dan Peradaban
Peradaban yang hanya berbasis realitas material akan rapuh tanpa fondasi spiritual.
3. Dalam Perdamaian Dunia
Sistem global (real) harus didukung oleh kesadaran batin manusia (imaginer).
4. Dalam Pengembangan Teori Sains–Iman
Bilangan kompleks dapat menjadi model konseptual untuk merumuskan kaidah ilmiah baru yang integratif.
*Kesimpulan*
Reaktualisasi ontologi bilangan kompleks membuka jalan bagi pemahaman realitas yang lebih utuh—tidak terjebak pada dikotomi antara yang nyata dan yang tidak nyata. Dalam sinergi sains dan iman, komponen real dan imajiner justru saling melengkapi dan bersama-sama membentuk kebenaran yang lebih komprehensif.
Dengan demikian, bilangan kompleks bukan sekadar konsep matematis, tetapi juga simbol filosofis tentang hakikat keberadaan manusia: *”perpaduan antara yang tampak dan yang tersembunyi, antara dunia dan makna.”*
*Penutup*
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Semoga ikhtiar kecil ini menjadi kontribusi dalam membangun paradigma ilmu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga dalam secara spiritual—menuju peradaban damai yang utuh. Semoga bisa demikian aamiin.
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Surabaya,
27 Syawal 1447
atau
15 April 2026
m.mustain
