Kode 63 Dari Langit

 

Penulis: Sayyid  Diar Mandala

Ada angka yang kalau disebut, hati orang beriman langsung bergetar. Bukan 7, bukan 99, tapi 63.

Enam puluh tiga.

Itu umur Rasulullah SAW saat dipanggil pulang. Abu Bakar menyusul di angka yang sama. Umar juga. Tiga pemimpin pertama Islam, wafat di 63 tahun. Kebetulan? Dalam takdir Allah, tidak ada kata kebetulan.

Saya membayangkan malam-malam terakhir Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sahabat yang membenarkan Nabi saat semua orang mendustakan. Yang menemani di gua Tsur saat maut mengintip dari mulut gua. Mungkin dalam sepi Madinah, dia berbisik: “Ya Rasulullah, aku nyusul ya. Di umur yang sama kayak sampean.”

Lalu Umar bin Khattab. Lelaki yang kalau jalan, setan pun minggir. Ditikam saat jadi imam salat subuh. Darahnya membasahi sajadah. Dia pun pulang di angka 63. Seolah Allah berfirman: “Cukup, Umar. Misimu sama seperti dua pendahulamu. Istirahatlah.”

Tapi sejarah menahan Utsman bin Affan lebih lama. 82 tahun. Dua puluh tahun lebih panjang dari tiga pendahulunya. Kenapa?

Karena mushaf masih berceceran. Di pelepah kurma, di batu, di tulang, di hafalan para sahabat. Umat Islam sudah meluas sampai Persia, tapi cara bacanya belum satu. Potensi pecah sangat nyata. Utsman sadar, kalau dia wafat di 63 seperti yang lain, Al-Qur’an terancam jadi seperti kitab terdahulu: banyak versi.

Maka Allah panjangkan umurnya. Bukan untuk foya-foya. Tapi untuk duduk, menyatukan, mengkoreksi, lalu mengirim mushaf standar ke seluruh penjuru dunia. Misi selesai, baru dia dipanggil. Dengan darah, di atas Qur’an yang sedang dibacanya.

Di sinilah saya merinding.

Umur itu amanah, bukan prestasi. Tiga orang dipanggil cepat karena tugasnya selesai. Satu orang ditahan lama karena tugasnya belum selesai.

Lalu kita?

Nabi SAW sudah kasih bocoran lewat hadis riwayat Tirmidzi: “Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun.” Kita ini hidup di masa injury time. 63 tahun itu bukan umur tua. Itu umur pensiun kenabian.

Pertanyaannya: Di umur berapa pun kita sekarang, “mushaf” apa yang sedang kita satukan? Jamaah tahlil mana yang kita rawat? Masjid mana yang kita makmurkan? Anak muda mana yang kita selamatkan dari judi online dan pinjaman online?

Kalau jawaban kita masih “nggak tau”, maka angka 63 itu bukan sekadar sejarah. Itu tamparan.

Muktamar NU sebentar lagi. Para kiai akan kumpul. Saya, Diar Mandala, cuma penulis kampung dari Pandeglang. Tapi saya nitip pesan: Tolong, hasilkan keputusan yang bikin umur para pengurus NU jadi manfaat. Jangan cuma umur organisasi panjang, tapi jamaah tahlil di kampung malah bubar.

Karena di akhirat nanti, kita nggak ditanya panjang umur. Kita ditanya: “Umurmu kau habiskan untuk apa?”

Dan saya nggak mau pas ditanya itu, jawaban saya cuma: “Buat scroll TikTok, Ya Allah.”

Na’udzubillah.

—-

Biodata Penulis:
Diar Mandala, Penulis Nahdliyin Kultural asal Pandeglang, Banten. Aktif menulis isu keislaman, kebudayaan, dan kemasyarakatan dengan pendekatan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.