
By Husnu Mufid
“Jenderal Sudirman Rela Jual Perhiasan Istri demi Ransum Perang Gerilya”
Sejarah perjuangan Indonesia kembali menyingkap satu teladan agung tentang arti kepemimpinan sejati. Di tengah ganasnya Agresi Militer Belanda dan serba-kekurangan dalam Perang Gerilya, Panglima Besar Jenderal Sudirman menunjukkan bahwa perjuangan bukan sekadar strategi dan senjata, melainkan pengorbanan total, hingga ke titik paling pribadi.
Ketika logistik pasukan menipis dan perut para prajurit terancam kosong, Jenderal Sudirman mengambil keputusan yang mengguncang nurani: merelakan perhiasan milik istrinya, Alfiah, untuk ditukarkan dengan ransum makanan bagi pasukan. Bagi Sudirman, kesejahteraan tentaranya adalah urusan kehormatan, bahkan lebih tinggi dari kepentingan keluarga sendiri.
Pengorbanan itu terjadi pada masa-masa paling getir dalam perang gerilya, saat jalur suplai nyaris terputus total. Ironisnya, pada saat yang sama Sang Panglima Besar juga tengah berjuang melawan penyakit paru-paru yang menggerogoti tubuhnya. Namun, sakit tak pernah melemahkan tekadnya. Selama republik masih berdiri, selama pasukan masih bertahan, Sudirman memilih terus memimpin.
Kesaksian ini disampaikan oleh putra bungsunya, Teguh Bambang Tjahjadi, yang menuturkan bahwa sang ayah telah berpesan jauh hari kepada istrinya: jika keadaan perang mendesak, perhiasan itu akan digunakan untuk perjuangan bangsa.
“Perhiasan itu dibarter dengan ayam dan beras,” ujar Teguh, sebagaimana dikutip dari laporan Tempo (2012).
Tindakan ini bukan sekadar soal barter harta benda. Ini adalah simbol luhur tentang kesatuan jiwa antara pemimpin dan prajurit. Sudirman tidak pernah meminta pengorbanan yang tak ia lakukan sendiri. Ia memastikan para pejuang tetap memiliki tenaga untuk bertempur, agar api perlawanan terhadap penjajah tidak pernah padam.
Dalam kondisi tubuh yang harus ditandu, Jenderal Sudirman tetap berada di garis depan sejarah. Kini, kisah ini menegaskan satu hal: bagi Sudirman, republik lebih berharga dari segalanya, bahkan dari harta terakhir keluarganya sendiri.
Inilah makna kepemimpinan sejati.
Inilah patriotisme tanpa pamrih.
Dan inilah warisan moral Panglima Besar bagi bangsa Indonesia. ‼️
