
JAKARTA–Perang Israel-Iran tak kunjung menunjukkan tanda-tanda penurunan tensi. Bahkan, eskalasi semakin tinggi karena Amerika Serikat mulai ikut nimbrung dalam perang.
Di tengah kondisi yang belum juga mereda, Indonesia ditunggu perannya. Presiden Prabowo Subianto juga terus menunjukkan sikap dan meminta seluruh pemimpin dunia untuk menahan diri.
Saat situasi Iran dan Israel terus memanas Presiden Prabowo sedang tengah menjalani kunjungan kenegaraan ke Rusia. Tapi, di sana, Presiden Prabowo terus memperhatikan kondisi dunia.
Presiden meminta semua pihak untuk menahan diri. Apalagi, dalam konteks Iran-Israel, Rusia juga punya pengaruh. Jalan damai akan sangat penting dalam kondisi ini.
“Kita ingin semua turunkan suhu. Kita ingin cari penyelesaian jalan keluar yang damai untuk semua pihak,” ujar Presiden.
“Tentunya pengaruh Rusia lebih besar ya di kawasan itu, khususnya dengan pemerintah Iran. Saya kira peran dari pemerintah Rusia akan sangat besar,” tambah Presiden Prabowo.
Jalan damai selalu digaungkan Presiden saat berkunjung ke Rusia lalu. Ada beberapa negara yang sudah menerapkan zona damai di Bawah pengawasan PBB. Contohnya, di Korea Selatan dan Korea Utara.
“Ada zona demiliterisasi yang diawasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Perang di Korea secara resmi belum berakhir. Tetapi ada, ada kondisi damai,” ungkap Presiden Prabowo.
“Indonesia secara tradisional selalu non-blok. Kami menghormati semua negara. Politik luar negeri kami sangat sederhana: seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak. Kami ingin berteman dengan semua pihak,” jelas mantan Menhankam ini.
Presiden Prabowo lalu menyampaikan contoh nyata yang dilakukannya di Indonesia. Dia menceritakan hubungan dirinya dengan eks panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Muzakir Manaf.
Dulu, keduanya saling berhadapan. PresidenPrabowo masih TNI aktif. Kini, Keduanya bersatu dan berada dalam koalisi.
“Pemberontakan separatis di Aceh. Sangat panjang, saya kira hampir 30 tahun. Tapi bayangkan, mantan panglima Gerakan Aceh Merdeka, yang dulu melawan kami selama lebih dari 25 tahun, sekarang bergabung dengan partai saya dan dibawah naungan NKRI” ungkapnya.
“Bahkan dia kini menjadi Gubernur Aceh, dan saya Presiden Indonesia. Ini menunjukkan bahwa mantan musuh pun bisa bersatu,” lanjutnya.
Karena itu, Presiden Prabowo terus mengajak negara-negara di dunia untuk berbenah, menahan diri, dan mawas diri dalam menyikapi berbagai konflik yang terjadi, termasuk di Kawasan Timur Tengah.
“Dan kami berharap semua pihak dapat segera mencapai resolusi damai. Bagi kami, dunia ini semakin kecil. Kami ingin bekerja sama dengan semua pihak demi kolaborasi damai, hidup berdampingan secara damai,” ucap Ketua PB IPSI ini.
“Sebagai mantan prajurit, saya selalu berusaha, bahkan dari dulu untuk bernegosiasi. Negosiasi, negosiasi, negosiasi. Lebih baik berbicara daripada saling membunuh,” tutur dia.
Saat kunjungan ke Rusia, Presiden Prabowo sebenarnya juga diundang untuk hadir dalam Forum G7 di Kanada. Tapi, Presiden Prabowo tidak hadir dan lebih memilih berkunjung ke Rusia.
“Saya ditanya, mengapa saya tidak menghadiri G7, tetapi saya menghadiri Saint Petersburg Forum 2025, itu bukan karena saya tidak menghormati G7, tetapi saya telah berkomitmen untuk menghadiri forum ini sebelum mereka mengundang saya. Ini satu-satunya alasan saya,” tegas Presiden Prabowo .
Meski begitu, Prabowo tak mau kehadiran di Rusia dan ketidakhadiran ke G7 sebagai salah satu penyataan sikap membela kubu tertentu. Dia menegaskan, Indonesia non-blok.
“Indonesia sejak dulu, selalu non-blok, kami menghormati semua negara. Kebijakan luar negeri kami sangat sederhana, satu frasa, seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak. Kami ingin berteman dengan semua,” ungkapnya.
Menteri Luar Negeri Sugiono merespons sikap negara-negeri G7 yang cenderung mendukung Israel di perang dengan Iran. Sikap itu dinilai justru memperburuk suasana.
”Kita sama sekali tidak mengharapkan situasi ini, justru akan memperburuk situasi. Kita tidak tahu kalau sudah begini nanti berhentinya di mana,” tambah Sugiono,Menteri Luar Negeri.
“Begitu ada perang yang dimulai kita tidak tahu kapan dan bagaimana berhentinya,” tambah pungkasnya.*Imam Kusnin Ahmad*
